Ketulusan Cinta

Ketulusan Cinta
1.57


__ADS_3

Richo langsung mengangkat tubuh Kila dan membawanya kedalam kamar mandi.


Didalam kamar mandi Richo mendudukkan kila di kloset dan mengisi bathtub dengan air hangat serta menuangkan aromaterapi.


Setelah selesai dengan itu semua Richo segera mengangkat tubuh Kila dan meletakkannya di bathtub.


"Sekarang berendam lah dulu supaya segar dan tidak terlalu sakit, aku akan keluar jika kamu sudah selesai panggil aku.


"Ya" Kila menganggukkan kepalanya


Richo keluar dan menutup pintu kamar mandi membiarkan Kila didalam sendiri.


Richo yang melihat seprainya ada noda darahnya iapun segera menggantinya supaya Kila tidak merasa malu saat tau ada noda darah diseprai.


Selain mengganti seprai Richo juga memungguti pakaian mereka yang berceceran di lantai dan menaruhnya ditempati kotor.


Didalam kamar mandi Kila sedang berendam di bathtub menikmati sensasi aromaterapi sambil mengamati tubuhnya yang terlihat dari pantulan cermin yang ada didepannya.


"Ya ampun kenapa dia membuat banyak tanda merah seperti ini, aku malu jika mommy nanti melihat tanda ini" Gumam Kila.


Setelah puas berendam Kila segera menyelesaikan mandinya dan memakai jubah mandi.


"Uh..., dia benar-benar membuatku tidak bisa berjalan" Kila menggerutu mencoba berjalan berlahan lahan keluar dari kamar mandi.


Ceklek


Richo yang duduk di sofa segera menghampiri Kila saat mendengar pintu kamar mandi terbuka.


"Kenapa tidak memanggilku?"


"Aku tidak ingin merepotkan mas Richo"


"Aku tidak merasa direpotkan, kamu seperti ini juga karena ulahku"


Richo langsung menggendong tubuh Kila. Kila yang digendong langsung melingkarkan tangannya dileher Richo supaya tidak terjatuh.


Richo mendudukkan Kila di atas ranjang dan mengambilkan pakaian untuk Kila.


"Pakailah ini" Richo memberikan dress pendek berwarna pink lengkap dengan pakaian dalamnya dan juga sisir.


"kenapa harus dress kan aku tidak kemana-mana? Enakan pakai kaos oblong dan celana pendek!" Kila tidak suka baju yang dipilihkan oleh Richo.


"Biar enggak terlalu saki ini lebih nyaman dari pada celana"


"Baiklah aku akan memakainya tapi mas Richo hadap sana dulu" Kila menunjuk tembok.


sikap malu Kila membuat Richo teringat dan membayangkan Sinta yang selalu malu saat berpakaian didepan Richo.


"Mas kenapa diam? Ayo berbalik lah" Ucap Kila membuyarkan lamunan Richo.


"Ok" Richo segera berbalik badan menghadap tembok.


"Sudah mas!" Ucap Kila setelah selesai memakai pakaiannya.


Richo membalikkan badannya setelah Kila mengatakan kalau dirinya sudah selesai berpakaian.

__ADS_1


Setelah selesai berpakaian Kila kembali duduk di atas ranjang sambil menyisir rambutnya.


Kila menepuk jidatnya "Ya ampun mas, aku kan harus mengatakan anak-anak ke sekola"


Kila segera menurunkan kakinya dan bangkit dari ranjang.


Richo yang melihat tingkah Kila menggelengkan kepalanya kemudian memegang lengan Kila.


" Hey Kamu mau kemana? Coba lihatlah kakimu masih lemas dan gemetar, kamu harus istirahat dulu"


"Tapi mas, aku harus mengantar anak-anak"


"Sudah duduklah dulu dan lihat jam itu" Richo mendudukkan Kila kembali dan menunjuk kearah jam dinding.


Kila mengikuti arah jari telunjuk Richo dan melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul 11 lewat 15 menit.


Kila nyengir mendongakkan kepalanya melihat wajah Richo sedangkan Richo hanya memutar bola matanya malas.


"Sudah ayo kita makan ini sudah siang" Ajak Richo.


"Aku tidak mau makan" lirih Kila


"kenapa tidak mau makan? Apa kamu tidak lapar?" Tanya Richo heran.


"Aku malu, kalau nanti mommy lihat tanda merah ini bagaimana? Lagipula aku juga susah jalan" Ucap Kila menunjukan tanda kepemilikan yang dibuat Richo.


Richo tersenyum lebar melihat hasil karya yang ia buat dileher dan seluruh tubuh Kila tadi malam.


"Bagaimana kalau nanti buat lebih banyak lagi dari pada ini" Goda Richo sambil menunjuk leher Kila.


Kila memelototkan matannya menatap Richo


Richo tersenyum "Aku hanya bercanda dan aku tidak akan melakukannya lagi sebelum aku mencintaimu"


"Terserah, sekalian saja tidak usah selamanya" kila mencabikkan bibirnya kemudian ia merebahkan tubuhnya membelakangi Richo.


Richo yang melihat Kila marah membuang nafasnya dan duduk disamping Kila.


"Jangan marah aku akan berusaha untuk mencintaimu" bisik Richo ditelinga Kila.


Kila merasa senang"Benarkah?" Tanya Kila membalikan badan menatap Richo tersenyum.


"Ya" Jawab Richo tersenyum.


"mas aku mau makan disini"Ucap Kila manja


"Yasudah aku akan menelpon bibi dulu untuk membawakan makanan kesini"


Richo segera menghubungi bibi Siti untuk mengantarkan makanan kekamarnya.


beberapa menit kemudian bibi Siti mengetuk pintu kamar Richo.


Tok tok tok


"Permisi tuan, ini makanya" Teriak bibi Siti dari luar.

__ADS_1


"Iya bibi sebentar" Jawab Richo dari dalam.


Richo berjalan menuju pintu sedangkan Kila masih duduk di ranjang.


Ceklek


Pintu terbuka dan nampak lah bibi Siti dan dua maid membawa makanan dan minuman yang dipesan Richo.


"Tuan ini makanannya"


"Iya bibi, taruh aja dimeja" Perintah Richo pada bibi Siti.


"Baik tuan"


Bibi Siti dan dua maid masuk kedalam kamar Richo dan menyajikan makanan yang mereka bawa di atas meja.


"Tuan, nyonya silahkan dinikmati makan siangnya" Ucap bibi Siti mempersilahkan Richo dan Kila untuk makan siang.


"Terimakasih bibi" jawab Kila dan Richo bersamaan sambil duduk di sofa.


"Sama-sama tuan, nyonya, kami Permisi dulu" pamit bibi Siti.


"Silahkan bibi" Jawab Richo


Bibi Siti dan dua maid pun keluar dari kamar Richo.


*****


Beberapa hari ini Kila merasa tidak enak badan setiap kali makan ia selalu mual dan tidak selera makan selain itu Kila juga mudah lelah.


saat ini Kila sedang berada ditaman belakang bersama ke-tiga anaknya.


"Ibu, apa ibu sakit?" tanya Zec ketika melihat bibir Kila pucat.


"Tidak sayang, ibu hanya sedikit capek" Ucap Kila tersenyum.


"Tapi kalau hanya capek kenapa bibir ibu pucat?" ucap Zoe tak mengerti.


"Iya, kata ibu guru kalau pucat itu tandanya sakit" Tambah Zil.


"Mungkin ibu pucat karena ibu kecapean. Kalian tidak usah mencemaskan ibu, ibu tidak apa-apa kok" Jelas Kila supaya Zec, Zoe dan Zil tidak cemas.


"Kalau begitu ibu harus beristirahat supaya tidak kecapean" Perintah Zil


"Ya ibu harus istirahat dan mulai besok sampai beberapa hari ke depan ibu tidak usah mengantar kami ke sekolah" sambung Zec


"Ya Zoe setuju ibu harus istirahat karena kami tidak ingin terjadi sesuatu pada ibu"


"Tapi sayang__" perkataan Kila terhenti saat Zec menggelengkan kepalanya sambil menggoyang-goyangkan jari telunjuknya.


"Ibu tenang saja Zec akan menjaga adek-adek dengan baik"


Kila terharu mendapat perhatian dari ke-tiga anak-anaknya.


"Terimakasih sayang kalian sudah menyayangi dan memperhatikan ibu" Kila memeluk ke-tiga nya.

__ADS_1


"Sama-sama ibu kami sangat menyayangi ibu" ucap Zec, Zoe dan Zil bersamaan.


Bersambung....


__ADS_2