
ting...
Rio dan Lana sudah sampai di lift khusus Direktur, Lift itu berada di dekat pintu masuk ruangan Ivan. Sebelum keluar Rio melihat keluar terlebih dahulu memastikan tidak ada orang lain selain dirinya dan Lana.
Setelah merasa aman, Rio mempersilahkan Lana untuk keluar dari lift dan menunggu sebentar karena Rio ingin sedikit mengintip ke dalam ruangan Ivan. memastikan Ivan sedang sendirian. Dirasanya semua aman, Rio mempersilahkan Lana untuk masuk memberi kejutan untuk atasannya itu.
"terima kasih banyak, ini buat Pak Rio semoga suka". Sambil memberikan kotak nasi yang juga berisi makan siang sebagai ucapan terima kasih telah membantunya.
"Tapi Bu.. " Rio merasa sungkan.
"Tidak apa2, ini rejeki buat Pak Rio juga makasi ya" sambil berlalu dan mengetuk pintu Ivan.
"tok.. tok.. " Lana mengetuk pintu Ivan.
"Ya masuk!" suara tegas Ivan
Lana masuk dan hanya berdiri di depan Ivan yang sedang sibuk melihat ke arah komputernya.
Ivan merasa aneh dan merasakan aroma masakan yang menggugah selera dan lagi merasakan ada orang yang berdiri di depannya tapi tak bicara.
Ivan merasa aneh dan mengangkat kepalanya untuk melihat orang di depannya.
Betapa terkejutnya Ivan karena Lana yang berdiri di depan mejanya. Karena Ia tidak menyangka istrinya yang sedang tidak fit tiba2 hadir di depannya.
__ADS_1
"Sayang!!!" pekik Ivan ketika melihat Lana.
"Ini aku bawakan makan siang buat kamu, spesial!!!" Lana tersenyum dan memeluk Ivan dengan erat.
"katanya lagi ga enak badan kok datang?" sambil membelai lembut kepala Lana.
"hmmm... ga suka nih?? ya sudah aku pulang aja!" Lana mengerucutkan bibirnya.
"Heeeii suka donk... ini kejutan manis siang ini, ya kan aku tahunya kamu lagi ga enak badan jadi kaget lah tiba2 datang"
"Iyaa.. aku udah mendingan dan pingin kasih kejutan buat kamu"
"Ya sudah mana2... sini ayo kita makan bareng, aku juga sudah lapar!!" Ivan menuntun Lana untuk duduk di sofa.
"Oya.. tadi aku juga kasih ke asisten Rio karena dia sudah bantuin aku masuk sini biar ga kelihatan orang2, ga pa2 kan?" Lana merasa harus mengatakannya karena tak mau ada salah faham nantinya.
Mereka menikmati makan siang buatan Lana, seperti biasa mereka makan dengan saling suap dan sesekali bercerita tentang pekerjaan. Makanan yang dibawa Lana memang sederhana tapi sangat nikmat menurut Ivan, Ia menghabiskannya tanpa sisa, Lana sangat senang karena Ivan menyukai masakannya, setelah membereskan makanannya, Lana menyandarkan kepalanya di dada bidang Ivan.
"Aku masih ingat ruangan ini, waktu itu kamu tiba2 ngajak makan malam dan ngancam aku!". ucap Lana.
"hmmm... tapi kan demi nyai donk.." goda Ivan pada Lana.
"Demi nyai... demi nyai.." sambil mencubit perut Ivan.
__ADS_1
"aduuh sakit sayang...!" rengek Ivan.
"Biarin.. waktu itu kamu bikin aku penasaran dan sebel habis ngomong cuma ngelihatin punggung"
"tapi sekarang ga sebel donk.. " tanya Ivan.
"hmmm.. tergantung!" sambil menciumi kemeja Ivan.
"kok tergantung sih!" Ivan mengangkat dagu Lana.
Mereka berpandangan dan entah bagaimana, Ivan pun mengecup bibir istrinya dengan lembut, Ia melumat bibir Lana dan dibalas oleh Lana. Hingga mereka merasa kehabisan nafas dan menghentikan ciuman itu.
"Ah.. sudah ya.. aku mau balik ke apartement". Lana membelai pipi Ivan.
"Ga mau nunggu aku, kita bareng pulang nanti" pinta Ivan.
"Ga sayang.. nanti ada yang lihat aku belum siap".
" Ya sudah hati2 ya.. tadi naik apa ke sini?"
"taxi online" Jawab Lana.
"Kamu biar di antar Rio aja, nanti dia bisa balik lagi ke sini".
__ADS_1
"Iya sayang.. "
Tak Lama setelah itu asisten Rio mengantarkan istri atasanya itu tanpa ada orang yang tahu dan setelahnya Rio kembali ke rumah sakit tak lupa Ia berterima kasih pada Lana dan mengembalikan kotak makan yang diberi Lana, Ia sangat senang karena Ivan dan Lana perhatian padanya, Ia merasa punya keluarga karena orang tuanya juga sudah tidak ada sama seperti Lana.