Ketulusan Cinta

Ketulusan Cinta
Menjelang Outing


__ADS_3

Hari2 pun berlalu dimana Ivan dan Lana melakukan peran mereka dalam berpura pura tak menikah di hadapan para karyawan atau pun orang2 di rumah sakit. Pagi itu seperti biasa Ivan dan Lana melaksanakan tugasnya kepada sang pencipta setelah itu mereka akan sarapan bersama.


"Sayang.. outingnya dua hari lagi kan??" ucap Lana pada Ivan.


"Iya sayang.. apa kamu akan hadir?" tanya Ivan pada Lana.


"pasti donk.. lagian kapan lagi bisa kumpul2 sama temen2"


"Tapi sepertinya aku belum pasti deh soalnya mau ada rapat di hotel, aku juga ga bisa jauh dari kamu". Sambil menatap Lana dengan sendu.


"Yaah gimana donk.. tapi ga apa lah, kalaupun kamu ga ketemu cuma dua hari kan?? kita masih bisa vidio call, nanti di tempat outing aku janji deh bakal kabari terus". Lana menjelaskan sambil tersenyum dan membelai lembut pipi suaminya.


Tiba2 Lana merasa pusing memegang kepalanya yang seperti berputar putar. Perutnya terasa mual, Lana berlari ke kamar mandi dan memuntahkan sarapannya.


Ivan yang merasa khawatir segera ikut masuk ke kamar mandi dan mengelus tengkuk Lana.


"Kamu kenapa? dimana yang sakit?" Ucap Ivan penuh kekhawatiran.


"Kayaknya aku masuk angin deh, semalam ACnya terlalu dingin dan lagi kita habis "olahraga" sebelum subuh tadi". Ucap polos Lana pada Ivan.

__ADS_1


Ivan dan Lana sebelum subuh memang baru menyelesaikan "olahraganya". Mereka memang sepasang pengantin baru yang sedang dimabuk cinta jadi selalu ingin melakukannya lagi dan lagi.


"Maafin aku ya... habis gemes banget jadi pingin terus". Ivan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Ga pa2 kan sudah kewajibanku melayanimu sayangku" Lana mencubit gemas pipi Ivan.


"Kita ke dokter ya??" tanya Ivan


"Hah apa??? dokter??? aku kan juga dokter, kamu juga dokter". Lana tertawa geli karena pertanyaan Ivan.


"Aah iya.. karena aku khawatir sayang.. jadi lupa".


"bener ga pa2?? wajah Ivan penuh kekhawatiran.


"Bener sayang... sudah berangkat kerja dulu nanti telat". pinta Lana


"Ga kerja juga ga pa2 rumah sakitku ini". Ucap Ivan.


"Hiih.. ga boleh gitu!!" Lana mencubit hidung Ivan karena gemas dengan ucapan suaminya itu.

__ADS_1


"Iya.. iya.. bercanda kok, Ya sudah aku berangkat dulu ya.. kalau ada apa2 harus cepat hubungi aku ya!!" . Sambil mencium kening sang istri.


Menjelang siang


Lana berinisiatif memberi kejutan pada Ivan dengan membawakan makan siang pada Ivan, karena Ia merasa badannya sudah lebih baik dari tadi pagi.


Ia menyibukkan diri di dapur untuk membuatkan makan siang untuk Ivan dan memikirkan cara membawa makanan itu tanpa diketahui orang banyak.


Sudah berkutat selama satu jam di dapur akhirnya Lana memberanikan diri menelpon asisten Rio, selama ini Ia tidak pernah sama sekali menelpon langsung pada asisten suaminya itu, kali ini demi kejutan untuk suaminya Ia memberanikan diri.


Hingga akhirnya Lana berhasil mendapatkan bantuan asisten Rio untuk masuk ke kantor Ivan tanpa ada yang tau.


Lana kini sudah ada di parkiran direksi bersama taxi yang ditumpanginya, Ia menunggu asisten Rio hingga orang yang di tunggu menghampirinya.


"Bu Lana.. maaf lama menunggu" ucap sopan Rio pada Lana.


"Ah tidak Pak.. saya juga baru datang, maaf merepotkan" ucap Lana sungkan ditambah sebutan "Bu" semenjak Ia menikah dengan Ivan, Rio merubah panggilannya untuk istri atasannya itu. Karena memang Rio sudah mengetahui semuanya.


Rio membawa Lana pada lift khusus Direktur, yang memang baru kali ini Lana tau karena setahunya Ivan lebih suka menggunakan lift karyawan untuk bisa sekalian melihat kondisi rumah sakitnya atau sekedar bisa menyapa karyawannya. Ivan memang ramah pada setiap orang, karena sejak kecil Ia di didik untuk tidak membeda bedakan status sosial.

__ADS_1


__ADS_2