
Sudah hampir 2 jam Ivan berada di rumah Lana. Ia menunggu Lana dengan telaten, Ivan takut terjadi apa2 pada Lana.
"hemmm.. hemmm.." suara Lana terbangun dari tidurnya. Ivan yang mendengar itu menghampiri Lana dan melihat infus Lana sudah mulai habis, Ivan dengan cekatan mengganti infus itu.
Lana hanya diam memandangi Ivan.
"apa kamu sehari hari memang sendirian begini??" tanya Ivan pada Lana
"Iya.. " Lana dengan lemah menjawab.
"aku akan menginap di sini sampai kamu sembuh". Ivan membenarkan posisi infus Lana.
Lana hanya diam ia tak mampu berkata banyak, lalu tangannya berusaha meraih gelas untuk minum, dengan sigap Ivan mengambil gelas itu dan membantu Lana minum.
Lana kembali memejamkan matanya.
sementara Ivan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri karena hari sudah mulai siang.
Ivan meminta Rio mengambil beberapa pakaian di apartemennya lalu mengirimkan ke rumah Lana. Tak lupa Ivan meminta dibelikan buah dan bahan makanan lainnya untuk dia dan Lana.
hari sudah menjelang sore, Lana mendengar ada seseorang sedang memasak di dapur, ia tau siapa yang memasak kini Lana diliputi rasa yang semakin aneh.
pipinya yang pucat sedikit merona.
__ADS_1
"apa aku jatuh cinta??" gumam Lana dalam hati
ceklek.. pintu kamar Lana dibuka Ivan.
"kamu sudah bangun, sebentar ya aku ambilkan air dan makanan" Ivan kembali ke dapur.
Lana tak habis pikir seorang direktur gagah dan tampan mau memasak untuknya. Ivan kembali ke kamar Lana dengan membawa air hangat di baskom kecil, Ia mulai mengikat rambut Lana yang tergerai membuat sebuah kuncir lalu menyeka beberapa bagian tubub Lana, Ia menyeka wajah tangan dan telapak kaki Lana.
Lana terpesona dengan sikap Ivan, ia menitikan air mata dan itu dilihat oleh Ivan.
Ibu Jari Ivan menghapus lelehan air mata Lana.
"kenapa menangis??". sambil mengeringkan air mata Lana.
Lana terdiam, iya tak pernah merasakan ketulusan cinta yang seperti Ivan berikan saat ini.
" sudah ayo makan dulu lalu minum obatnya biar cepat sembuh". Ivan mulai menyuapi Lana dengan perlahan.
makanan Lana sudah habis, Ivan membereskannya dan membawanya ke dapur.
Ivan sangat cekatan, walaupun ia dari keluarga yang sangat berharta tapi Ivan tetaplah sosok yang sederhana, saat tinggal di luar negeri ia sudah terbiasa mandiri. Ivan tak pernah membawa status sosialnya.
Ivan masih melihat Lana terduduk, Ia membantu Lana untuk membenarkan posisinya sehingga bisa tidur dengan nyaman.
__ADS_1
Ia membelai lembut kepala Lana, dan kembali mencium kening Lana.
keesokan pagi
Lana sudah terbangun dari tidurnya, Ia melihat Ivan tertidur di sofa dengan kaki yang menggelantung karena tinggi badan Ivan yak sebanding panjang sofa yang ada di kamar Lana.
Lana berusaha berjalan sambil memegangi infusnya, Ia menuju kamar mandi.
Tapi tangan Ivan dengan segera meraih tubuh Lana dan membantunya berjalan ke kamar mandi.
Ivan dengan setia menunggu di depan kamar mandi hingga Lana selesai.
Lana tertunduk malu melihat sikap Ivan padanya. ini pertama kali Ia bersama seorang laki - laki berdua saja di rumahnya dan pertama kali pula di cium di kening oleh orang asing.
tiba2 pipi Lana yang sudah mulai tidak pucat kembali merona dan Ivan melihatnya.
Ivan lalu tersenyum sambil membantu Lana duduk di tempat tidurnya.
"Lana.. menikahlah denganku.." Ivan menatap Lana dalam sangat dalam..
Ivan dan Lana saling tatap cukup lama hingga Lana menundukkan kepalanya.
"kamu ga perlu jawab sekarang, aku akan tunggu jawabanmu nanti". Ivan tersenyum manis.
__ADS_1