
Setelah melihat pemandangan lampion dari dalam kamar, Lana teringat pesan Ivan bahwa Ia harus bersiap pukul 19.30 Ivan akan menunggunya. Ia juga mengingat pesan singkat yang dikirim Ivan beberapa waktu lalu saat sedang berendam di bathup, Ivan menginginkan Lana menggunakan gaun yang sudah di siapkan.
Gaun berwarna maroon dengan kain menjuntai sangat pas di badan Lana, Ia menggunakan make up flawless kian menambah kecantikannya, mengikat sebagian rambutnya. Semua tinggal Lana pakai karena sudah disiapkan dengan sempurna oleh Ivan.
Lana sudah sempurna dengan penampilannya malam ini, Ia duduk di tepi ranjang sambil melihat ponselnya menunggu telpon dari Ivan. Tak lama terdengar bel berbunyi. Lana menuju pintu dan membukanya.
"dokter ILana Saraswati... " sapa seorang pria dengan pakaian seragam hotel tersebut.
"Iya.. saya.. maaf ada yang bisa saya bantu??"
"dokter bisa ikuti saya, Pak Ivan sudah menunggu".
"Oh okay.. terima kasih". sambil menutup pintu dan mengikuti petugas itu.
Lana berjalan menyusuri hotel itu sambil melihat interior hotel yang bergaya modern klasik. Akhirnya Ia sampai di belakang hotel itu, masih tetap menawan dengan kolam renang yang mengarah langsung ke pantai. Lana terkejut karena melihat lampion2 yang tadi Ia lihat dari atas kamarnya.
"hmmm.. Pak.. mungkin kita salah tempat? saya rasa ini tempat pesta pernikahan Pak!" Lana menghentikan langkahnya dan melihat sekeliling tempat itu.
"Tidak dok.., maaf dokter bisa tunggu di sini, sebentar lagi Pak Ivan datang". petugas hotel itu meninggalkan Lana sendirian di sana
"Ah iya.. baik.. terima kasih ya". sambil tersenyum ke petugas itu.
Tiba2 ada alunan musik klasik yang mengalun dengan pelan. Lana mendengar derap langkah mendekat, Ia menoleh dan melihat Ivan melangkah ke arahnya dengan menggunakan setelan jas yang rapi dan pas di tubuhnya.
__ADS_1
Ketampanan dan kegagahan Ivan sangat terpancar malam itu ditambah dengan senyum manisnya.
Ivan mengulurkan tangan ke Lana, lalu Lana menerima uluran tangan itu.
"hmmm apa ini??" tanya Lana
"Sesuatu yang akan jadi sejarah buat kita" Ivan tersenyum pada Lana.
"Ayo kita makan dulu, aku sudah sangat lapar" Ivan melingkarkan tangan Lana ke lengannya dan berjalan ke arah kolam yang didekatnya ada meja dengan bunga dan lilin2 sebagai hiasannya.
Lana hanya mengangguk mengikuti Ivan.
Mereka duduk berhadapan, menikmati makan malam romantis yang sudah di siapkan Ivan. sesekali mereka saling suap dan tertawa bersama.
"Anything for you dear" Ivan mencium tangan Lana.
"tapi kenapa harus jauh2 ke sini?" tanya Lana bingung.
Tiba2 Ivan menarik kursinya dan berjalan ke arah Lana dan berlutut di hadapan Lana. Lana membelalakan matanya melihat tingkah Ivan.
Ivan membuka kotak cincin yang dibawanya,
"Lana.. aku ingin kamu jadi bagian hari2ku,menjadi ibu dari anak2ku, menua bersamaku, menikahlah denganku!!"
__ADS_1
Lana tak dapat membendung air matanya yang kini sudah membasahi pipinya, Ia memandang mata Ivan dengan dalam. kemudian Ia menganggukkan kepalanya pelan dan berkata "Ya.. aku mau!" "Aku mau jadi istrimu sayang!"
Ivan yang mendengar kata "sayang" langsung berdiri..
"coba tolong ucapkan lagi!" pinta Ivan.
"Ya.. aku mau!" Aku mau jadi istrimu sayangku!!"..
Ivan sangat bahagia mendengar yang di ucapkan Lana, Ia memeluk Lana dengan erat, mencium kening lana dan memeluknya lagi.
Ivan memasangkan cincin berlian di jari manis Lana.
"terima kasih sudah menerimaku.."
"akulah yang terima kasih kamu sudah terima aku yang sendiri ini". ucap Lana berlinang air mata.
"jangan menangis, aku ga suka wanitaku nangis" sambil menyeka air mata Lana.
mereka berpelukan lagi.. setelah itu Ivan memegang wajah Lana dengan kedua tangannya, Ivan mencium bibir Lana dengan lembut, kali ini Lana membalas ciuman Ivan.
Mereka cukup lama saling melumat hingga kehabisan nafas dan Ivan mengakhiri ciumannya.
Setelah itu mereka berdansa diikuti alunan musik klasik yang telah di putar. Lana sangat bahagia demikian pula Ivan malam ini menjadi malam bersejarah bagi keduanya..
__ADS_1