Ketulusan Cinta

Ketulusan Cinta
Kepergian Shanti


__ADS_3

Lana tiba di rumah sakit dan berjalan terburu buru ke IGD, hingga iya juga melihat Cahya di sana yg tengah duduk tertunduk.


"Ya.. gimana Shanti??? tanya Lana pada Cahya.


Mereka bertiga sudah sangat dekat semenjak pertama bertugas di rumah sakit itu, Cahya mulai menatap nanar wajah Lana.


"Shanti... shanti... Lan..." Air mata Cahya jatuh tak tertahan, membuat hati Lana makin tak karuan.


"kenapa Shanti Ya!!! sambil menggoncang bahu Cahya.


Lana memberanikan diri masuk ke ruang IGD dan mendapati Dio tertunduk lemas di dekat ranjang dimana ada Shanti dengan berbagai alat menempel di tubuhnya.


"Yo.. kenapa bisa gini?? tanya Lana sambil menitikkan air mata.


"Shanti menghindari anak kecil yg mau nyebrang Lan, lalu mobilnya oleng nabrak pembatas jalan, itu keterangan saksi Lan". suara lirih Dio.


"Dia pasti kuat Yo.. pasti..hiks hiks hiks.." Lana menangis memeluk Dio sahabatnya.


Ivan yang menyaksikan itu ikut terharu, karena Ia tahu bahwa Dio, Shanti dan Lana adalah trio yg tak terpisahkan walaupun Dio dari fakultas yang berbeda. Ivan meraih tubuh Lana dan memberi semangat pada Dio calon suami Shanti.


tiba2 terdengar rintihan Shanti yang membuat semua orang terkejut dan melihat Shanti dengan wajah sedih.


Shanti membuka matanya perlahan dan menatap Dio.

__ADS_1


"Sayang... maafin aku ya..." ucap Shanti pelan.


"Kamu ga perlu minta maaf kamu ga salah apa2.. " ucap Dio dengan suara tercekat, Dio tahu keadaan Shanti saat ini tapi tak ingin membebani Lana dengan keadaan Shanti yang sesungguhnya.


Dio membelai rambut Shanti seolah ingin memberi ketenangan.


"Lan.. di sini?" lirih Shanti.


"Iya Shan.. gue di sini" ucap Lana meneteskan air mata.


"Lan.. maafin gue ya.. mungkin ga bisa nemenin buat bisa lihat ponakan gue nanti.. " ucap Shanti tersendat karena nafas yang mulai berat.


"Loe bicara apa Shan!! jangan ngomong gitu!! Loe bisa.. loe bisa lihat nanti!!" ucap Lana sambil terisak.


" Sayang.. maafin aku ya.. semoga kamu nanti selalu bahagia, maafin aku". lirih Shanti pada Dio.


Dio sudah tidak bisa berkata kata, Ia menatap wajah calon istrinya dengan sedih.


"Iya sayang... aku ikhlas.. " ucap Dio sambil menggenggam tangan Shanti dan mencium keningnya.


"Loe bicara apa Yo!! jangan ngaco!!! Lana menepuk punggung Dio.


"tiiiiiiiiiiiiiiiitttttt!!!!!" suara layar ventilator yang terpasang ke tubuh Shanti.

__ADS_1


"Shanti sudah pergi Lan" suara Dio lirih dan tersedu.


"Enggak... enggak.. Shantiiii... banguuun... hiks hiks hiks... " tangis Lana begitu pilu, Ivan meraih tubuh Lana yang terduduk di sebelah ranjang Shanti..


Ivan terkejut karena merasa tubuh Lana yang telah lunglai tak bertenaga. Lana kehilangan kesadarannya. Lana pingsan.


Segera tim dokter mengambil tubuh Lana dan membawanya untuk di periksa, sementara itu Dio dan keluarga Shanti menyiapkan pemakaman Shanti.


Dio telah merelakan Shanti, Ia tahu keadaan Shanti tidak akan tertolong mengingat banyaknya luka yang di alaminya. Hal ini sudah dijelaskan tim dokter sebelumnya pada Dio sebagai calon suami Shanti.


Di ruang lain tempat Lana diperiksa, Ivan tak mau melepaskan genggaman tangannya pada Lana hingga salah satu dokter menghampirinya.


"Maaf Dok.. setelah di periksa tadi oleh tim dokter, kami menyimpulkan bahwa harus dilakukan tindakan Abortus eminen" berusaha menjelaskan pada Ivan.


"separah itu dok??" ucap Ivan sambil menahan tangisnya.


"Iya Dok.. kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi maaf Tuhan berkehendak lain". kepala tim dokter menjelaskan pada Ivan.


Ivan menunduk dengan lemas dan menatap dokter itu seksama dan menghembuskan nafas dalam.


"Lakukan yang terbaik untuk istri saya dok, mungkin ini memang sudah jalannya". masih menatap sang dokter.


Akhirnya persiapan tindakan untuk Lana pun dilakukan, Ivan dan Lana terpaksa harus merelakan calon bayi mereka yang belum genap berusia satu bulan di kandungan Lana.

__ADS_1


Walau ini berat tapi Ivan harus tegar demi Lana, kejadian yang begitu mengguncang Lana ternyata juga berpengaruh pada kandungannya. Ivan memantapkan diri bahwa semua sudah takdir yang harus dijalani, Ia juga memantapkan diri untuk lebih bisa menjaga Lana.


__ADS_2