
Diapartemen
Mex yang mendapat kabar dari nyonya besar jika Kila masuk rumasakit karena mengalami pendarahan segera keluar dari apartemen dan melajukan kendaraannya menuju rumah Richo untuk menjemput bibi Siti.
Sesampainya di rumah Richo ia segera menghampiri bibi Siti yang kebetulan saat itu sedang berada di depan.
"Selamat pagi bibi" Sapa Mex menampilkan senyum terbaiknya.
"Selamat pagi juga tuan Mex" Jawab bibi Siti tersenyum juga.
"Apa anak-anak sudah berangkat ke sekolah?"
"Sudah tuan, baru saja anak-anak diantar sopir pergi ke sekolah"
Mex menganggukkan kepalanya mengerti.
"Bibi tadi nyonya besar menyuruh saya mengantarkan bibi kerumasakit untuk membawakan baju ganti tuan Richo dan nyonya Kila" Ucap Mex memberitahu bibi Siti.
"Baiklah tuan saya akan mempersiapkan semuanya"
"Ya saya akan menunggunya disini" Jawab Mex kemudian ia duduk di sofa ruang tamu.
"Saya permisi dulu tuan" Pamit bibi Siti
Bibi Siti naik keatas untuk menyiapkan baju ganti Richo dan Kila selain itu ia juga menyiapkan makanan untuk dibawa kerumasakit.
Setelah semuanya siap bibi Siti pun menghampiri Mex yang menunggunya diruang tamu.
"Tuan semuanya sudah siap" Ucap bibi Siti dengan membawa koper dan juga keranjang piknik untuk wadah makanan.
"Baiklah bibi mari kita berangkat" Mex berdiri dari duduknya.
"Iya tuan mari"
Mereka hanya butuh waktu 30 menit untuk bisa sampai dirumasakit.
Sesampainya dirumasakit Mex dan bibi Siti segera menuju ruang perawatan VVIP yang ada dilantai 6.
Setelah sampai dipintu kamar perawatan VVIP Mex segera mengetuk pintunya.
Tok tok tok
Ceklek
Mendengar pintu diketuk dan dibuka oleh seseorang nyonya besar pun menoleh kearah pintu tersebut.
"Kamu sudah datang Mex?" Tanya nyonya besar tersenyum.
__ADS_1
"Iya nyonya besar, bagaimana keadaan nyonya Kila saat ini" Tanya Mex sambil memperhatikan Kila yang tengah tertidur.
"Semuanya baik-baik saja Mex kamu tidak perlu mencemaskannya. Mex hari ini saya bahagia sekali karena sebentar lagi akan punya cucu baru dan tentunya kamu akan menjadi seorang paman juga" Ucap nyonya besar dengan bahagianya.
"Saya juga senang mendengarnya nyonya besar. Semoga saja kali ini keponakanku seorang putri yang cantik" Mex juga tersenyum bahagia.
"Apa kamu menginginkan seorang putri?" Tanya nyonya besar menatap wajah Mex.
"Tentu saja saya ingin, anak-anak tuan kan semuanya sudah cowok dan sekarang aku ingin yang lahir cewek" Jawab Mex yang berdiri disamping nyonya besar.
"Kalau kamu ingin punya seorang putri cepatlah menikah aku juga ingin kamu segera memberiku seorang menantu dan cucu"
"Mex akan coba usahakan"
"Benarkah! Gadis mana yang akan kamu dekati nanti biar ibu bantu?" Tanya nyonya besar langsung berdiri dari duduknya dan memeluk lengan Mex
"Belum ada" Jawab Mex santai
"Dasar anak nakal bagaimana kamu bisa PDKT kalau incaran saja tidak punya" Geram nyonya besar langsung memukul bahu Mex sambil memelototkan matannya.
"Jangan marah ibu" Mex tersenyum merangkul pundak nyonya besar
"Ibu tidak marah" Jawab nyonya besar sambil duduk kembali disamping ranjang Kila.
Bibi Siti yang meletakkan baju-baju Kila dan Richo dilemari tersenyum mendengar perbincangan antara nyonya besar dan Mex.
"Maaf nyonya besar, tuan Mex makanannya sudah siap silahkan dinikmati" Ucap bibi Siti
"Apa tadi bibi membawa makanan dari rumah?" Tanya nyonya besar karena tadi ia tidak begitu memperhatikan bibi Siti jika ia membawa makanan.
"Betul nyonya besar" bibi Siti menganggukkan kepalanya membenarkan pertanyaan nyonya besar.
"Baiklah, ayo Mex kita sarapan ini sudah jam 10 dan kita sudah terlambat untuk sarapan" Nyonya besar berdiri dari duduknya.
"Iya..., nyonya besar kemana tuan Richo? Kenapa tidak ada disini?" Tanya Mex saat menyadari jika dari tadi dia tidak melihat Richo.
"Dia sedang membeli buah untuk Kila karena sekarang Kila tidak bisa makan tanpa buah-buahan" Jawab nyonya besar.
"Oh"Mex hanya beroh ria
"Bibi nanti ikutlah dengan saya ke taman setelah Richo kembali" nyonya besar memandang bibi Siti.
"Baiklah nyonya besar" Jawab bibi Siti menunduk kepala.
Nyonya besar dan Mex duduk di sofa panjang untuk sarapan bersama.
Tak lama kemudian Richo datang membawa buah-buahan dan segera bergabung dengan mereka.
__ADS_1
"Bibi tolong kupas dan potong buah ini untuk Kila dan sebagian simpanlah di kulkas jika bibi mau bibi bisa ambil" Richo menyerahkan buah-buahan yang baru saja ia beli pada bibi Siti.
"Baik tuan" Bibi Siti menerima buah-buahan itu dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Richo.
"Kalian makan apa sepertinya enak sekali?" Ucap Richo saat ia melihat nyonya besar dan Mex memakan hidangan penutup.
"Ini puding banana and alpukat" Jawab nyonya besar sambil terus memakan puding itu
"Puding ini enak sekali tuan" sambung Mex
"Itukan puding yang aku inginkan dari tadi kenapa kalian makan. Itu pasti buatan Kila tadi"
"Hay kata bibi ini bukan Kila yang membuatnya karena Kila baru memotong buah-buahannya saja sudah pingsan dan bibi lah yang membuatnya" Sinis nyonya besar
"Ok-ok" Richo langsung duduk disamping nyonya besar dan mengambil piring yang berisi puding kemudian memakannya dengan lahap.
"Ah mommy sudah kenyang" Nyonya besar langsung meminum air putih dan mengakhiri makan pudingnya.
"Saya juga" Mex meletakan piring kecil yang sudah kosong di atas meja.
"Bibi ayo temani saya ke taman" Nyonya besar berdiri dari duduknya.
"Baik nyonya besar, tapi bagaimana dengan buah ini?" Pandangan mata bibi Siti mengarahkan buah yang sedang dikupas.
"Tinggalkan saja nanti biar Mex yang melanjutkannya"
"Baik nyonya besar"
Nyonya besar dan bibi Siti meninggalkan ruangan perawatan menuju taman rumasakit yang ada di lantai 1.
Sesampainya ditaman bibi Siti duduk didepan nyonya besar ia seperti seorang terdakwa yang sedang dimintai keterangan.
"Selama ini saya lihat bibi dekat dengan Kila" Ucap nyonya besar mengamati wajah bibi Siti.
"Benar nyonya besar, saya sudah menganggap nyonya Kila sebagai anak saya sendiri" Jawab bibi Siti menunduk.
"Apa bibi tau kalau saat ini Kila tengah hamil?" Tanya nyonya besar menyelidik.
"Emmm" Bibi Siti ragu untuk jawab ya.
"Jawablah bibi tidak perlu ragu" Nyonya besar tahu kalau bibi Siti ragu untuk menjawab pertanyaannya, mungkin bibi Siti takut pada nyonya besar.
"Baik nyonya, maafkanlah saya jika saya tidak memberitahukan hal ini pada nyonya besar. Dua hari yang lalu nyonya Kila menyuruh saya membelikan tespek dan hasilnya positif. Ketika saya hendak memberitahukannya kepada nyonya besar tentang kabar bahagia itu, nyonya Kila melarang saya untuk menceritakan semuanya pada semua orang terutama tuan Richo nyonya besar" Bibi Siti menarik nafasnya sejenak.
bersambung....
jangan lupa like & komen
__ADS_1
terimakasih....