Ketulusan Cinta

Ketulusan Cinta
Diam diam


__ADS_3

Pagi itu Lana menuju dapur dan ingin membuat sarapan untuknya dan Ivan. di meja makan ada roti tawar dan beberapa selai. Ia membuat roti selai dan juga dua gelas susu, setelah selesai Ia melihat Ivan duduk di depan TV. mereka saling pandang lagi, Ivan tersenyum ke arah Lana, hal itu membuat perasaan Lana berdesir. Ia merasa canggung tapi juga bahagia bisa melihat senyum Ivan dipagi hari.


Ivan menghampiri Lana sambil membawa paper bag di tangannya. Ia menyerahkannya pada Lana.


"Apa ini?? tanya Lana.


"Pakaian baru, pakailah!". Ivan tersenyum.


"kapan kamu beli ini? tadi malam kan hujan dan kita ga kemana mana.


"kemarin aku meminta Rio membelinya, lagian kita harus langsung ke rumah sakit ga bisa mampir lagi ke rumahmu. Ivan menjelaskan.


"Aku mandi dulu". Lana masuk ke kamar mandi dan membuka tas itu, Ia terkejut karena baju yang dibelikan lengkap dengan dalamannya dan beberapa make up juga.


Lana tak ingin berfikir lagi, Ia membersihkan diri lalu bergegas keluar kamar karena Ivan juga akan mandi dan waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi.


Lana menunggu Ivan di meja makan sambil membaca berita online di ponselnya.


"Saham keluarga Raharja naik setelah dipimpin sang penerus". gumam Lana sambil mengklik berita itu, Lana memang menyukai berita jadi berita tentang apa pun akan di bacanya, betapa terkejutnya ketika melihat foto Ivan di berita itu.


Hingga derap sepatu Ivan membuyarkan pandangan Lana,


"Ayo kita sarapan, bukannya kamu udah buat roti ya tadi". sapa Ivan sambil mengelus lembut rambut Lana.


"Ah.. iya.. ". Lana menatap Ivan.

__ADS_1


Mereka memulai sarapannya, hening hanya suara sendok yang berperang dengan garpu.


"Aku berangkat sendiri saja ya" tiba tiba Lana berbicara dan membuat Ivan menghentikan makannya.


"kenapa??" Ivan menatap Lana heran.


"Aku tidak mau reputasimu nanti jatuh kalau ada orang yang melihat kita berangkat bersama"


"maksudnya??" Ivan masih belum mengerti


"Aku sudah tau dari media online siapa kamu Van". Lana menatap Ivan sendu


"Oh itu biarin aja, tak ada hubungannya dengan kita, itu bisnis dan kita urusan pribadi jadi ga bisa di sangkut pautkan"


"Sudahlah sayang.. toh nanti mereka juga akan tau kamu siapaku". Ucap Ivan dengan santainya.


Blusshh.. wajah Lana memerah mendengar kata "sayang" dari Ivan.


mereka menyelesaikan sarapannya dan kemudian turun menuju basement.


Ivan membukakan pintu mobil mewahnya ke Lana.


Sebenarnya Lana tak biasa diperlakukan seperti sekarang ini, dia juga jarang2 naik mobil kalau tidak bersama Santi sahabatnya.


Lana juga takut akan ada gunjingan apabila ada yang tau Ia dekat dengan sang direktur yang tak lain adalah penerus Raharja Group.

__ADS_1


Selama perjalanan terasa hening karena mereka diam saja dan tenggelam dalam pikirannya masing2. Hingga Ivan mengambil tangan Lana dan menggenggamnya, sementara tangan kanannya lihai memegang kemudi. Lana yang terkejut Ia menoleh ke samping Ia menatap Ivan.


Ivan hanya menoleh sekilas dan tersenyum lalu fokus kembali pada kemudinya.


"Aku minta tolong jangan ada yang tau soal ini.. "lirih Lana.


"kenapa?" Ivan dengan santainya


"Bukannya aku sudah bilang tadi, aku masih belum nyaman kalau ada yang tau".


"Okay.. tapi tidak lama2..." jawab Ivan.


"huuuuuhh...." Lana membuang nafas dan mengalihkan pandangannya ke jendela.


Setelah berkendara kurang lebih 30 menit Ivan dan Lana memasuki area parkir rumah sakit, Ivan memarkirkan mobilnya di area parkir direksi.


Lana gugup dan merasa jantungnya berdebar debar, Ia menoleh ke kanan kiri depan belakang memastikan tidak ada yang melihat. Lalu cepat2 turun dan berlari ke arah ruangannya. Sementara Ivan yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum tipis.


Ivan pun ikut keluar dan segera menuju ke ruangannya. di lift Ia sudah di tunggu asisten Rio.


"Pagi Pak... " sapa Rio yang kemudian masuk mengekori Ivan ke dalam lift.


"Pagi Rio.. tolong jangan ada yang tau dulu, saya akan umumkan setelah akreditasi!". jawab Ivan sambil melihat berkas2 yang diberikan Rio saat memasuki lift.


"Baik Pak.. " Rio tersenyum tipis.

__ADS_1


__ADS_2