
Setelah puas jalan2 berdua, Lana dan Ivan pun bersiap untuk kepulangan mereka nanti malam.
Lana dan Ivan juga menyempatkan diri untuk membeli souvenir untuk orang2 terdekatnya.
Saat Lana sudah menyelesaikan packingnya tiba2 Ivan memeluknya dari belakang.
Ivan menyingkap rambut Lana ke bahu dan mencium tengkuk Lana cukup lama, hal itu membuat Lana meremang geli merasakannya.
"Aku mau kamu!" bisik Ivan di telinga Lana.
Tanpa menunggu lama Ia membalikkan tubuh Lana sehingga menghadapnya, Lana masih menunduk malu.
Ivan mengangkat dagu Lana dan mendekatkan bibirnya ke bibir Lana, Ivan mencium lembut bibir Lana, ciuman lembut itu kini berubah menjadi lumatan2 yang memburu.
Lana akhirnya terbawa suasana yang diciptakan Ivan, Lana kini membalas lumatan Ivan Ia mengalungkan tangannya di leher Ivan.
Mereka terjatuh bersama ke atas ranjang tanpa melepaskan pagutannya.
Cukup lama mereka saling melumat hingga terengah engah seperti orang yang habis lari.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari kini sudah dalam keadaan naked dan tubuh yang sama2 meremang, akhirnya kamar president suite itu kini dipenuhi oleh desahan dan lenguhan keduanya. Tanpa sadar mereka berteriak dan mendesah bersama dan terkulai lemas setelah pelepasan entah untuk yang keberapa kalinya.
Ivan memeluk tubuh Lana, ruangan yang dingin karena AC itu kini tak terasa dengan aktifitas panas yang mereka lakukan berkali kali, memunculkan tubuh yang penuh keringat kenikmatan itu.
Mereka tertidur bersama saling berpelukan di balik selimut putih itu, aroma therapy yang selalu menyeruak membuat mereka terbuai semakin lelap ke alam mimpi.
Saat malam mereka sudah bersiap untuk kepulangannya. Ivan dan Lana meninggalkan kamar mereka, tempat yang menjadi saksi saat mereka menyatukan diri.
Sampai di lobby hotel Ivan dan Lana di sambut manager hotel yang menyampaikan maaf para petinggi hotel tak bisa ikut mengantar kepulangan mereka.
"Pak Ivan, ini hadiah pernikahan dari kami semoga Bapak dan Ibu berkenan dan suka hadiah dari kami ini". Ucap sang manager sambil memberikan paper bag tebal yang berisi hadiah pernikahan untuk mereka.
"Oya Pak, ruangan president suite Bapak akan selalu siap kapan saja Bapak dan Ibu datang kemari, kami tidak memberikan untuk tamu". jelas sang manager.
"Baik Pak saya tahu itu, sekali lagi terima kasih". Ucap Ivan.
"Baik Pak Ivan, terima kasih sudah mempercayakan hotel ini pada kami, untuk jadwal meeting akan saya sampaikan via email"
"Baik Pak.. kami pamit dulu!". Ivan dan Lana menyalami sang manager lalu melangkah memasuki mobil yang sudah siap mengantarkan mereka ke bandara.
__ADS_1
Di dalam mobil menuju bandara Lana menyandarkan kepalanya di bahu Ivan, Ia sangat menikmati semua kasih sayang yang diberikan Ivan padanya.
"Sayang, kenapa kamu harus ikut rapat di hotel tadi??" tanya Lana dengan polosnya.
"Itu hotel kita sayang... he he" Ivan terkekeh karena Lana tak mengetahui apa saja yang dimiliki oleh keluarga Rahaja.
Mereka sampai di bandara dan mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti di depan pesawat pribadi Ivan.
Lana dan Ivan kini sudah duduk di kursi mereka, Ivan tak henti mengenggam tangan Lana sementara Lana sesekali mengusap lembut pipi Ivan.
"Mimpi apa aku semalam pulang kerja di ajak ke Bali, di lamar di malam hari dan besoknya menikah" ucap Lana pada Ivan sambil melihat kaca jendela pesawat.
Ivan meraih dagu Lana hingga Mereka bertatapan.
"Ini bukan mimpi sayang..." sambil mengecup bibir Lana.
Lana tersenyum malu karena Ivan menciumnya di dalam pesawat.
"Kita akan selalu bersama" Ucap Ivan sambil membelai lembut rambut Lana.
__ADS_1