
Hari semakin sore tapi hujan belum reda, Lana mondar mandir di ruang tengah hal itu membuat Ivan bingung dan memutar matanya.
"ga bisa duduk ya??". tanya Ivan pada Lana
"hmmm.. hujannya tambah deras gimana ini". Lana tampak gusar
"ya kalau masih hujan nginap aja, gitu aja repot!". Ivan menjawab dengan santainya sambil mengunyah camilan yang ada di toples.
"hah!! apa?? nginap?? mana bisa gitu!". Lana masih mondar mandir.
Ivan yang merasa jengah lalu berdiri tepat di belakang Lana sehingga saat Lana berbalik Ivan berdiri tepat di hadapannya. Ivan memegang bahu Lana yang sedang terkejut, Ivan yang lebih tinggi dari Lana menundukkan pandangannya ke arah Lana.
Lana mendongakkan kepalanya, mereka saling berpandangan.
"bukankah kita sudah pernah bermalam bersama?? jadi kenapa bingung?". Ivan melepas tangannya dari bahu Lana.
"Haah itu kan aku lagi sakit ga bisa nolak juga!". Lana memalingkan wajahnya pelan Ia takut kalau lama2 memandang Ivan. Ia takut tak bisa mengendalikan dirinya.
"menginaplah! besok kita berangkat bersama, lagian sudah hampir malam aku ga mau ada apa2 sama kamu dan lagi kamu sendirian di rumah". Pinta Ivan dengan wajah sendunya.
"tapiii... " belum selesai Lana bicara Ivan sudah membungkam mulut Lana dengan bibirnya. Mereka berciuman cukup lama dan dalam, kini Lana membalas ciuman Ivan walau sama2 baru dalam hal ciuman kini sudah bisa membalasnya walau sedikit sedikit.
Ivan melepaskan ciumannya, membelai rambut Lana dan memegang pipinya.
__ADS_1
"tetap di sini, aku ga akan macam2, aku akan berbagai macam kalau kita sudah menikah!". Ucap Ivan sambil menyentuh hidung Lana.
Blushh.. wajah Lana memerah mendengar kata menikah.
"dasar... mulai mesum!!". Lana mencubit pinggang Ivan dan beralih duduk di sofa depan TV.
"nginap di sini!! atau mau aku cium lagi!!". Ancam Ivan sambil tersenyum menyeringai ke arah Lana.
"Iya.. Iya.. huuuh". Ucap Lana sambil mengambil remote TV dan mencari chanel kesukaannya.
Sore itu mereka habiskan dengan menonton TV, sesekali mereka bertukar pendapat dan sesekali mereka berdebat tentang acara TV yang sedang di tonton, hari sudah malam dan Ivan memesan makanan lewat aplikasi di ponselnya.
"kamu mau makan apa??". tanya Ivan
"hmmmm... apa aja deh!". jawab singkat Lana.
"Ya halo San... ada apa?". sapa Lana saat mengangkat telponnya.
"Lan.. loe dimana?? tadi gue cariin loe waktu mau pulang dari kampus!", gue mau ajak pulang bareng". celoteh Santi di ujung sana.
"hmmm.. gue di taman kampus, ngadem". jawab Lana
"gue ke rumah loe sekarang ya, mau bahas laporan buat akreditasi nih!"
__ADS_1
"gue lagi di luar San! ga di rumah". jelas Lana pada Santi
"kemana Lan? loe ga pa2 kan??, loe baik2 aje kan??" Santi mulai khawatir karena mereka bersahat sudah sejak lama dan membuat Santi selalu khawatir karena Lana tak punya siapa2.
"gue baik2 aja kok!". tiba2 Ivan memasang tampang jahilnya dan mencoba menggelitiki pinggang Lana.
"ssstttt... stttt...hiiih direktur jahil!" Lana sedikit berbisik namun ternyata didengar Santi.
"Lan.. loe bilang apa barusan direktur jahil??". Tanya Santi penuh selidik.
"Eh.. eh.. apa San?? kagak San.. kagak apa2" jawaban Lana sedikit ngaco.
"Ya udah kl gt sampe ketemu besok di rumah sakit ya, jangan malem2 pulangnya!". Santi mengakhiri telponnya malam itu.
"oke San!". Setelah menutup telponnya, Lana menatap tajam Ivan.
"apa-apaan sih pake gelitik segala! ntar kalau Santi tau gimana?". Lana geram pada Ivan.
"Ya ga pa2 donk, bentar lagi kan mau jadi nyonya Ivan juga!". jawab Ivan sambil tersenyum tipis ke Lana.
"siapa bilang aku mau!!". sambil mengerucutkan bibirnya.
"apaaaaa!". Ivan menatap Lana heran.
__ADS_1
Malam itu selesai berdebat akhirnya mereka memutuskan untuk istirahat karena besok mereka harus kembali ke rutinitasnya, mengingat besok adalah jadwal persiapan akreditasi.
Ivan tidur di sofa dan Lana tidur di kamar karena di apartement itu hanya punya satu kamar.