Ketulusan Cinta

Ketulusan Cinta
Lana bersedih


__ADS_3

Hampir lebih dari satu jam Ivan menunggu Lana di depan ruang tindakan. Hingga lampu emergency mati menandakan tindakan yang diberikan kepada Lana telah selesai.


Pintu ruangaan di buka dan ketua tim dokter berjalan menghampiri Ivan yang terduduk lemah menopang wajahnya dengan kedua tangannya.


"Semua sudah selesai dok, sebentar lagi Dokter Lana akan di bawa ke ruang rawat". ucap sang dokter.


"terima kasih Dok" sambil menyalami dokter tadi.


"Sama2, yang sabar ya dok, tidak apa2 semoga setelah ini segera dapat lagi, tapi untuk sekarang membuat istri dokter happy aja dulu jadi ga terlalu kepikiran" saran dari ketua tim dokter itu.


"Iya.. saya mengerti, sekali lagi terima kasih bantuannya"


"Saya tinggal dulu, nanti kalau perlu atau ada yang akan di tanyakan bisa hubungi saya di ruangan". Berlalu dari Ivan dan memberikan kesempatan Ivan untuk melihat istrinya.


"rasanya baru kemarin kamu minta aku buatin masakan sayang... kamu harus kuat" ucap Ivan dalam hati.


Setelah selesai mengurus pemakaman anaknya, Ivan kembali ke rumah sakit.


Di dalam ruang rawat inap sudah terbaring lemas Lana dengan selang infus di tangannya. Ivan mendekati ranjang Lana dan duduk di sebelahnya sambil menggenggam erat tangan istrinya itu.

__ADS_1


Hari semakin larut, tak terasa Ivan tertidur sambil duduk di samping ranjang Lana. Menjelang pagi Lana mulai membuka matanya, dilihatnya Ivan tertidur duduk di sebelah ranjangnya. Hati Lana begitu sedih melihat Ivan yang sedang tertidur.


"hmmmm... Sayang.. sudah bangun?" Ivan terbangun dari tidurnya.


"Sudah.. kenapa kita di sini? dan Shanti..." ucap Lana terbata dan berkaca kaca.


"Shanti sudah dimakamkan oleh keluarganya dan kita... " Ivan berusaha menguatkan diri untuk mengatakan pada Lana.


"Kenapa aku bisa tidur lama sekali dan pakai infus ini??" Lana masih belum sadar bahwa baru saja kehilangan calon buah hatinya.


"Sayang... kamu harus kuat ya.. kamu keguguran kemaren malam". ucap Ivan sambil menggenggam erat tangan Lana.


"Kita harus sabar.. ini sudah kehendakNya" tulus Ivan memeluk istrinya berusaha memberi ketenangan.


"Maafin aku.. aku ga bisa jaga calon anak kita.. huu.. huuu... huuu.. " suara tangis Lana tersedu.


"Sudah.. ini bukan salah siapa2... ini sudah takdir... kita harus menerimanya.. jalan kita masih panjang sayang.."


"Maafin aku sayang... hiks hiks hiks". masih meneteskan air mata.

__ADS_1


"Sudah yang penting sekarang kamu sehat dulu ya.. aku akan selalu jagain kamu" Ucap Ivan masih memeluk Lana.


Lana merenggangkan pelukannya, berusaha tenang dan menerima apa yang sudah terjadi. Ivan membelai rambut panjang Lana dan merapikannya, menyeka air mata yang tersisa di pipi Lana. Dengan sengaja pula Ivan berpura pura menjilat tangannya bekas menyeka air mata sang istri.


"hiihh asiiin!!!" ucap Ivan sambil melihat ke arah istrinya.


"Sayang!!! kok aneh2 aja sih..." ucap Lana pelan.


"he he he.. biar kita ga larut2 sedihnya sayang... aku ga mau kamu sedih terus" ucap Ivan.


"Iya... " namun masih ada air mata yang menetes di pipi Lana.


"Aku akan membahagiakanmu sayang, semoga ini segera berlalu dan kita bisa menata kembali masa depan kita" ucap Ivan dalam hati.


Hari itu Lana meminta untuk bisa kembali ke apartement karena merasa lebih tenang bila dia bisa pulang. Sebenarnya Lana masih meratapi keguguran yang Ia alami dan tak ingin ada yang mengetahuinya.


Di perjalanan pulang setelah mengunjungi makam calon buah hatinya, Lana hanya terdiam dan merebahkan dirinya di kursi penumpang. Bayangannya kembali ketika sahabatnya berpulang bersamaan dengan Ia yang harus kehilangan calon anaknya.


"Anakku sayang.. jaga mama dari sana ya.. sayangi juga tante Shanti, masuklah ke syurga bersama tantemu, dia orang yang sangat baik". gumam Lana dalam hatinya sambil menyeka air mata yang mengalir di pipinya.

__ADS_1


__ADS_2