Ketulusan Cinta

Ketulusan Cinta
1.63


__ADS_3

"Sudahlah Kila bibi Siti benar kamu harus minum susu dan menjaga kondisi badan kamu supaya tetap fit agar kamu cepat hamil" Ucap nyonya besar memotong perkataan Kila.


"Baik mom" Kila hanya bisa mengangguk pasrah.


"Bibi sekalian buatkan Richo dan Kila ramuan tradisional yang bisa membuat Kila cepat hamil"


"Mommy apaan sih" Ucap Richo merasa tidak nyaman mendengar pembicaraan mereka.


"Hay kamu tidak perlu kesal seperti itu. Kamu masih muda dan masih pantas jika kamu memiliki anak 1 atau 2 lagi. Kenapa kali ini aku harus menunggu lama untuk bisa menimang cucu yang keempat? Apa kamu sudah loyo dan tidak sekuat dulu lagi? Dasar payah!" Ucap nyonya besar tersenyum meledek.


Kali ini nyonya besar benar-benar meremehkan tuan, sampai-sampai tuan tidak bisa berkutik seperti ini. Andai saja nyonya besar tau kalau tuan ini sangatlah hebat karena dalam sekali main langsung gol, tuan memang benar-benar luar biasa tokcer hehehe. Gumam bibi Siti dalam hati.


"Bibi jangan meledekku, aku tau itu!" Richo langsung berdiri meninggalkan mereka.


"Tidak tuan" Jawab bibi Siti menunduk sambil menahan tawanya.


Kila yang melihat kepergian Richo hanya bisa menatapnya tanpa mengucapkan sesuatu.


"Zec, Zoe, Zil ayo kita kekamar ibu akan membantu mengerjakan tugas sekolah kalian" Kila berdiri mengajak anak-anak kekamar.


"Kila biar mommy saja yang membantu anak-anak mengerjakan tugasnya kamu istirahatlah"


"Iya ibu biar Oma saja yang membantu kami ibu istirahat saja" Ucap Zec.


"Benar kata kak Zec, ibu istirahat saja" Ucap Zoe dan Zil secara bersamaan.


"Baiklah ibu akan istirahat, tapi ucap selamat malamnya mana?" Tanya Kila tersenyum sambil menyentuh pipinya dengan jari telunjuknya.


Zec, Zoe dan Zil pun mengerti apa yang dimaksud dengan Kila.


" berjongkok lah ibu kami tidak sampai" suruh Zoe


"Baiklah" Kila berjongkok agar mereka bisa menciumnya.


Cup


Cup


Cup

__ADS_1


Kila tersenyum mendapatkan ciuman dari ke-tiga anaknya.


"Sudah ibu" Ucap mereka bertiga secara bersamaan.


"Sayang kenapa hanya mencium pipi kiri sebelah kanannya kan belum" Protes Kila


"Yang kanan mintalah sama papi ibu" Jawab Zec kemudian berlari meninggalkan Kila diikuti oleh kedua adiknya.


"Kata Zec benar Kila" Bisik nyonya besar tersenyum meledek kemudian berlalu meninggalkan Kila.


"Ih mommy" Kila menghentakkan kakinya.


"Sudah Kila jangan cemberut begitu. Suamimu pasti sudah menunggumu dikamar, ayo pergilah kekamar" Ucap. bibi Siti sambil membersihkan meja makan dengan para maid yang lain.


"Baik bibi"


Kila pergi meninggalkan meja makan menuju kamarnya.


sesampainya dikamar ia melihat Richo sedang duduk melamun di atas ranjang.


"Mas kenapa melamun?" tanya Kila menyentuh bahu Richo.


"bagaimana mas mau tau kalau mas aja melamun" Jawab Kila kemudian duduk disamping Richo.


"Kila" Panggil Richo


"Ya" Kila menoleh


"Apa kamu menginginkan anak seperti mommy yang menginginkan cucu lagi?" Tanya Richo menatap lurus ke depan.


"Jika mas tidak menginginkannya aku tidak papa" mendongakkan kepalanya sebentar menahan air matanya.


"Bukan begitu maksud ku"


"Sudahlah mas, ayo tidur aku sudah ngantuk" Kila mematikan lampu kamar megantinya dengan lampu tidur kemudian menarik selimutnya dan berbaring membelakangi Richo.


Dari ucapanmu saja itu sudah menunjukkan jika kamu tidak menginginkan anak dariku. Lalu bagaimana dengan nasip anak yang aku kandung ini. Ya Tuhan aku harus bagaimana tolonglah aku tuhan jangan biarkan anakku tumbuh tanpa kasih sayang dari ayahnya. Batin Kila membelai lembut perutnya.


Kila menangis dalam diam tanpa diketahui oleh Richo. Memikirkan nasip anaknya yang masih didalam rahimnya.

__ADS_1


Richo yang tidur dibelakangi oleh Kila merasa gelisah dan tidak bisa tidur karena ia sudah terbiasa menatap wajah cantik kila sebelum tidur, tapi kali ini ia hanya bisa menatap punggung Kila dengan perasan tak karuan. Ingin sekali rasanya Richo membalikan badan Kila tapi ia tidak memiliki keberanian itu ia takut jika Kila salah paham dan menyangka jika dirinya suka dengan kila.


Tumben sekali dia ini tidur tidak menghadap kesini! Biasanya dia selalu menatapku kalau tidur, apa dia marah dengan ku? Tapi apa salahku? Aku tidak merasa melakukan kesalahan apapun padanya? Kenapa dia jadi aneh seperti ini?. Batin Richo dalam hati.


Richo terus saja bergerak kesana kemari mencari kenyamanan untuk dapat tidur dengan nyenyak.


Kila yang merasakan Richo yang terus bergerak merasa tidak nyaman. Ia segera menghapus air matanya dan menghadap kearah Richo.


"Kenapa belum tidur?" Tanya Kila dengan suara serak Karena habis menangis.


"Aku belum mengantuk. Kenapa suaramu serak seperti habis menangis?" Richo curiga karena mendengar suara Kila yang serak ditambah dengan penerangan yang minim membuatnya tidak mengetahui jika Kila habis menangis.


"Emmm...aku tidak menangis, mungkin karena tenggorokan ku sedikit gatal karena itulah suaranya jadi serak" Bohong Kila kemudian menggenggam tangan Richo.


"Yasudah tidurlah"


"Ya" Jawab Kila singkat.


Kila mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang membawa satu tangan Richo di atas perutnya dan memejamkan mata. Richo terdiam tidak menolak bahkan, saat ini ia merasakan sebuah dorongan kuat untuk mengusap perut Kila. Meski ia sangat ingin mengusap perut kila namun ia mencoba untuk tidak melakukannya.


Berlahan-lahan Richo mulai memejamkan matanya dan tertidur pulas.


Kila membuka matanya saat dirasa Richo sudah tertidur pulas. Kila kembali memiringkan tubuhnya menghadap Richo dan membela lembut wajahnya.


Pagi harinya


seperti biasanya pagi-pagi Kila sudah mual untung saja bibi Siti kemaren membelikanya obat untuk mengatasi mual di apotik sesuai dengan resep dokter karena sebelum membeli obat bibi Siti konsultasi terlebih dahulu dengan dokter yang ada diapotik tersebut jadi obat itu aman untuk dikonsumsi oleh Kila.


Saat ini Kila sudah turun kedapur bersama dengan bibi Siti. Kebetulan hari ini adalah hari Minggu ia berusaha membuat puding yang diinginkan oleh Richo Karena tadi setelah bangun tidur Richo tiba-tiba saja meminta dibuatkan puding banana dan puding alpukat.


"Kila kamu duduk saja biar bibi yang akan membuatnya" Ucap bibi Siti khawatir dengan keadaan Kila, karena pagi ini Kila terlihat lebih pucat dari biasanya ditambah lagi ada lingkaran hitam dimatanya menandakan jika Kila kurang tidur.


"Tidak bibi, biarkan Kila yang membuatnya. Bibi bisa membantu yang lain untuk membuat sarapan" Tolak Kila dengan lembut.


"Tapi Kila kamu sangat pucat sekali bibi tidak tega melihatnya" bibi Siti mencoba membujuk Kila.


"Tidak bibi. Kila baik-baik saja, bibi tidak usah mencemaskan kila" Kila tersenyum sambil memotong buah alpukat.


"Baiklah tapi kamu harus meminum susumu dulu bibi akan membuatkannya" Akhirnya bibi Siti mengalah.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2