Ketulusan Cinta

Ketulusan Cinta
rumah sakit


__ADS_3

Setelah Lana keluar dari mobil Ivan, Ia berlari kecil sampai akhirnya Ia menabrak seseorang.


"Hai Lan.. kok buru2?". sapa Cahya pagi itu


"Oh.. hai Ya.. !, maaf ya aku tadi nabrak kamu". sambil menepuk bahu Cahya, mereka kini juga dekat sejak Lana bekerja di rumah sakit itu.


"By the way.. selamat ya.. lulusan terbaik nih!". sambil memeluk Lana.


"Ah iya.. terima kasih.. tapi kok kamu tau??". tanya Lana heran


"Iya.. setiap ada informasi tentang kampusmu aku juga dapat beritanya".


"Oh gitu.. he he"


"Iya.. kan kampusmu dan rumah sakit ini satu owner". Cahya menjawab dengan santainya.


"Apppaa.... ??? Lana kaget mendengarnya.


"Ih apaan sampai kaget gitu!". Cahya menghentikan langkahnya memandang bingung Lana yang tak tau akan hal itu.


"kaget aja karena aku ga tau".


"Bukan cuma itu kita ini satu group dengan Raharja Group". ucap Cahya


"Ooh.." Lana manggut2.


"Kalau itu aku tau, kan Ivan penerus Raharja Group" gumam Lana dalam hati, Ia semakin takut kalau ada yang tau antara dirinya dan Ivan tengah menjalin asmara.


Hari itu Lana sangat sibuk sekali banyak pasien yang datang, Ia merasa kelelahan dan menyandarkan bahunya di kursi kerjanya. Bahkan Ia lupa kalau sudah waktunya makan siang.Hingga dering ponselnya membuat Ia menegakkan badannya, tertulis di layar ponselnya "Direktur Aneh"..


Lana tersenyum dan pipinya memerah..


"Iya Halo..." Ucap Lana


"Sayang... sudah istirahat apa belum?? Tanya Ivan di ujung sana..


"Eh.. eh.. hmmm.. belum" jawab Lana gelagapan karena kembali terkejut dengan kata sayang yang di ucapkan Ivan.


"Ya udah ke ruanganku sebentar ya" ucap Ivan dengan lembutnya.


"hmmm.. Iya.." jawab Lana pelan takut ada yang mendengarnya.

__ADS_1


Kemudian Lana menutup telponya, Ia berdiri dan menuju lift untuk menemui Ivan. Di saat yang bersamaan muncul Santi yang datang lebih awal siang ini.


"Hai Lan.. mau kemana??" tanya Santi saat berpapasan dengan Lana.


"Gue dipanggil Pak Direktur". jawab Lana tanpa berkilah


"Wah... apa apa?" Santi kepo


"Gue juga belum tau San, Ya udah ya... gue naik dulu". pamit Lana pada Santi.


"Oh Oke.. gue tunggu loe di UGD ntar ya.." Santi pun berlalu menuju UGD.


Lana memasuki lift dan menuju lantai 5 ruangan Ivan. sesampainya di sana, Lana berpapasan dengan asisten Rio, Ia menyapa hanya dengan senyuman begitupun Rio.


Sesampainya di depan ruangan Ivan, Ia mengetuk pintu dengan pelan.


tok.. tok.. tok...


"ya masuk... " jawab Ivan tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.


Lana melangkah membuka handle pintu dan masuk ke dalam, setelah itu Ia hanya berdiri di depan meja Ivan.


" Ah.. sudah datang ya.. maaf aku sedang membalas email dari klien". Ivan berdiri dari duduknya sambil tersenyum dan berjalan menuju sofa dan duduk di sana.


Sementara Lana hanya diam mematung memandang Ivan.


" Sini sayang.... " sambil menepuk sofa yang Ia duduki.


"Eh... iya" wajah Lana bersemu merah mendengar Ivan memanggilnya dengan sebutan "sayang".


Lana kemudian duduk di samping Ivan, mereka kini duduk berdampingan, Ivan memandang Lana dengan senyumnya yang menawan.


Lana membalas senyum itu. Ivan meraih tangan Lana lalu menciumnya.


"kamu pasti belum makan siang, ayo kita makan sama2". Ivan mengambilkan piring untuk Lana.


"ta.. tapi kalau ada yang tau gimana??" jawab Lana.


"tidak akan ada yang tau.. tapi nanti seiring waktu mereka juga akan tau kalau kamu calonku!". dengan entengnya Ivan menjawab sambil mengambil makanan ke piringnya.


Karena Lana tak kunjung mengambil makan dan hanya melihat piringnya saja, hal itu membuat Ivan menyendok makanan lalu mengarahkannya ke mulut Lana.

__ADS_1


"Ayoo.. aaaaaa" sambil menyodorkan sendok yang berisi makanan itu.


"tapiii..." Lana tergagap.


"Ayo aku suapi! atau mau aku suapi pakai mulut!" goda Ivan ke Lana.


Lana menuruti semua permintaan Ivan, mereka makan bersama siang itu, Ivan dengan telaten menyuapi Lana yang membuat pipi Lana bersemu merah. Lana masih canggung, tapi Ia merasa sangat diperhatikan.


"hmmm... lain waktu gantian kamu ya yang suapin aku". Ivan terkekeh setelah mereka selesai makan bersama.


"Aah iya.. sorry..." Lana menutup mulutnya.


" tak apa sayang, aku suka ngelakuinnya buat kamu, mulai sekarang dan seterusnya aku akan selalu di samping kamu!". Ivan mengelus rambut Lana dengan lembut.


Setelah selesai makan Lana hendak berpamitan pada Ivan,


"Aku balik ke UGD ya...". Lana berdiri dan melangkah ke arah pintu.


Dengan sigap Ivan ikut berdiri dan menarik tangan Lana, hingga membuat Lana berbalik ke arah Ivan.


"kamu belum kasih aku vitamin hari ini??" Ivan memandang Lana dalam.


"vitamin???" Lana mengernyitkan dahinya bingung.


Ivan menarik pinggang Lana dan mengikis jarak antara mereka kemudian menarik tengkuk Lana dan menciumnya bibir Lana dengan lembut, Lana yang kaget hanya bisa diam.


Dengan cepat Ivan melepas ciumannya dan menatap Lana dengan dalam.


"Aku ga bisa menahan semuanya lebih lama, ayo kita segera menikah!". Ucap Ivan sambil memandang manik mata Lana bergantian.


"Aku belum bisa jawab ini sekarang!"


"tapi aku mau kamu kasih aku vitamin setiap hari". Wajah Ivan memelas sendu.


"hmmm.. ga janji..., ini aja main ambil ciuman beberapa kali! huuuh... dasar!!".


Lana melangkah mengambil handle pintu hendak keluar ruangan Ivan.


"panggil aku "sayang"!! pinta Ivan pada Lana.


" Ga janji!!".. Lana melangkah keluar sambil tersenyum kepada Ivan.

__ADS_1


__ADS_2