Ketulusan Cinta

Ketulusan Cinta
1.54


__ADS_3

"Rasanya hangat dan nyaman" Gumam Kila masih dalam pelukan Richo.


Richo mulai mengerjapkan mata dan mulai menyadari jika dirinya memeluk Kila, iapun dengan reflek mendorong Kila hingga Kila terjatuh dari ranjang.


"Aduh" Keluh Kila


"Maaf" Richo segera turun dari ranjang dan membantu Kila berdiri.


"Pagi ini aku sangat bahagia karena pelukanmu itu hangat sekali rasanya. Tidak papa jika aku harus terjatuh untuk bisa merasakan pelukan itu"


Kila tersenyum kemudian melangkah menuju pintu hendak keluar sedangkan Richo yang mendengar ucapan Kila merasa malu karena ketahuan memeluknya.


"Kila, jangan berfikir macam-macam!"


"enggak kok mas siapa juga yang berfikir macam-macam, lagipula aku ini kan istrimu jadi mas bebas memeluk aku kapanpun itu. Aku malah senang" Ucap Kila tersenyum lebar.


"Kila!!" Bentak Richo "Saat ini kau memang istriku tapi jangan pernah berharap dan berfikir aku bisa mencintaimu karena cintaku hanya untuk istriku Sinta!" Richo marah karena merasa diledek oleh Kila.


Hati Kila terasa sakit saat Richo membentak dan berbicara seperti itu padanya namun Kila tidak bisa marah karena Kila sangat mencintainya.


"Aku tau kamu takkan bisa mencintaiku tapi aku mencintaimu dengan tulus, aku janji aku akan selalu ada disampingmu hingga menutup mata" Ucap Kila dengan suara bergetar menahan tangisnya "Maaf jika selama ini aku selalu membuatmu tak nyaman" Sambung Kila lagi kemudian ia berlari keluar kamar.


Zil yang kebetulan berada didepan pintu langsung menghampiri Richo saat dirinya melihat Kila berlari sambil menangis.


"Papi kenapa dengan ibu?" Tanya Zil setelah masuk kedalam kamar Richo.


"Tidak ada apa-apa sayang" Jawab Richo sedikit tersenyum.


"Jika tidak terjadi apa-apa lalu kenapa ibu menangis?" tanya Zil dengan wajah menyelidik.


Richo menghembuskan nafasnya kasar "Hufff"


"Sudahlah sayang jangan dipikirkan, ibumu hanya merasa lelah jadi ibu menangis"


Zil tidak percaya dengan ucapan Richo jika Kila menangis karena kelelahan.


"Jangan suka membuat ibu menangis Pi karena Zil tidak mau kalau ibu pergi dari kita" Zil menunduk sedih.

__ADS_1


"Zil tidak usah khawatir ibu tidak akan pergi meninggalkan kita. Sekarang kenapa Zil ada disini"


"Zil hanya ingin memanggil papi sama ibu untuk sarapan"


"Baiklah papi mandi dulu"


"Ok"Jawab Zil singkat kemudian ia keluar dari kamar Richo.


Richo masuk kedalam kamar mandi dan berenda dengan air hangat ia memikirkan semua kejadian yang barusan terjadi.


Dia pasti sangat terluka dengan perkataan ku tadi. sebagai seorang istri wajar jika dia membutuhkan pelukan hangat dari suaminya dan tidak seharusnya aku membentaknya dan membuatnya sakit hati. Batin Richo


"aaaaaah" Teriak Richo Sambil memukul air didalam bathtub.


setelah puas melepaskan kegundahan hatinya Richo segera menyelesaikan mandinya dan turun kebawah untuk sarapan bersama.


Diruang makan Richo mengedarkan pandangannya menyapu setiap sudut ruangan itu tapi ia tidak melihat Kila disana.


Kemana dia. Batin Richo kemudian ia duduk dan sarapan.


Nyonya besar yang melihat Richo tidak seperti biasanya dan ditambah dengan tidak ada Kila hadir dalam sarapan bersama pagi ini merasa heran dan yakin jika mereka pasti sedang bertengkar.


"Tidak ada apa-apa mom" Jawab Richo masih sibuk dengan sarapannya.


"Jika tidak ada apa-apa kenapa kila tidak sarapan"


"Kila masih tidur mom, aku sudah selesai" Richo bangkit dari duduknya dan meninggalkan mereka.


Sedangkan Zil yang tau jika tadi Kila menangis hanya diam berbicara apapun.


Richo yang melihat kamar yang ditempati Kila dulu terbuka iapun masuk kedalam kamar itu.


Dilihatnya Kila sedang meringkuk di atas ranjang dengan mata terpejam dan masih ada sisa-sisa air mata disudut matanya.


Richo yang melihat air mata Kila duduk disamping Kila ia mengulurkan tangannya menghapus sisa-sisa air mata yang ada dan membelai lembut rambut Kila.


Sakit rasanya melihat Kila menangis tapi Richo belum bisa untuk melepaskan janji yang ia buat bersama Sinta.

__ADS_1


Kila yang merasakan ada seseorang yang membelai rambutnya pun membuka matanya dan dilihatnya ternyata yang membelai rambutnya adalah Richo.


"mas" Ucap Kila menatap Richo kemudian ia bangun dari tidurnya.


"Maafkan aku, aku salah. Tidak seharusnya aku membentak mu dan menyakiti hati mu" Richo menangkup kedua pipi kila dan berbicara tepat didepan wajah Kila yang hanya berjarak kurang lebih 5 cm.


Kila tersenyum "Mas Richo tidak salah seharusnya akulah yang harus tau batasan ku karena aku ini hanyalah seorang pelengkap dalam kehidupanmu untuk bisa membuat anak-anak tetap bahagia dan tidak kehilangan kasih sayang seorang ibu" Ucap Kila menggenggam kedua tangan Richo yang ada di pipinya.


Hati Richo terasa diiris perih dan sakit mendengar perkataan kila. Ia tau selama ini Kila menahan sakit atas dirinya yang belum bisa menerima Kila seutuhnya menjadi istrinya.


awalnya Richo menikahi Kila karena ingin anak-anaknya bahagia dan tidak kehilangan Kila, tapi semakin kesini perasaannya mulai berubah menjadi sebuah rasa yang tak biasa walaupun itu belum disadari sepenuhnya oleh Richo.


"Jangan katakan itu kamu bukanlah pelengkap dalam kehidupanku kamu adalah wanita yang berarti untuk ku dan anak-anak" Ucap Richo sendu.


"Sudahlah mas jangan memaksakan dirimu untuk bisa menerimaku karena aku tau nama mendiang istri mas masih terukir indah disini" Kila menunjuk dada Richo dan tersenyum.


Richo meraih tubuh Kila dan memeluknya dan Kila pun membalas pelukan Richo.


*****


Malam ini Richo dan mex berada di sebuah kafe yang terkenal di kota ini.


mereka berdua ke kafe itu bukan karena mereka ingin nongkrong atau hanya sekedar bersenang senang. Mereka ke kafe karena ingin menemui rekan bisnisnya untuk membahas kerjasama yang akan dilakukan.


"Kenapa sih harus membicarakan pekerjaan malam-malam kayak gini, kan bisa di kantor besok" keluh Richo


"Saya juga tidak tau tuan kenapa harus mendadak dan malam-malam seperti ini" ucap Mex santai.


Kila pasti sudah cemas menungguku pulang, mana baterai ponsel ku habis lagi bagaimana aku bisa mengabarinya. Ah sial. Batin Richo


"Seharusnya kamu tolak saja keinginan mereka untuk membahas pekerjaan diluar jam kerja kayak gini"


"Maaf tuan saya tidak bisa menolaknya karena kerjasama ini sangat menguntungkan untuk kita dan jika saya menolaknya maka mereka akan membatalkan kerjasama dengan kita dan akan membuat kita rugi karena proyek kerjasama kita dengan beliau sudah mulai berjalan" Jelas Mex


Richo menarik napasnya dalam-dalam kemudian membuangnya kasar "Hufff"


"Maaf tuan kalau saya membuat anda menunggu lama"

__ADS_1


Tiba-tiba saja ada dua orang wanita yang menghampiri Richo dan Mex.


Bersambung.....


__ADS_2