
Adiva merenung sejenak, tapi dia tidak mau lama-lama dalam merenung, karena kemungkinan juga suaminya juga sedang ada didalam. Adiva baru ingat kalau ia lebih baik menghubungi suaminya dulu untuk memastikan apakah benar suaminya ada didalam yang katanya sedang disekap oleh penjahat.
Adiva menghubungi nomor ponsel suaminya tapi ternyata sedang tidak aktif. Padahal aslinya Alzam sedang mencharger ponselnya menggunakan power bank dan sedang tidak Alzam aktifkan ponselnya.
"Gue nggak bisa berpikir lebih lama Jack, gue takut suami gue ada didalam, dan yang pasti gue akan segera masuk kedalam rumah sakit terbengkalai itu." ucap Adiva lalu berlari masuk kedalam rumah sakit yang sudah lama terbengkalai itu.
Adiva berlari, ketiga bodyguard itu juga mengikuti Adiva lari. Namun saat Adiva sudah masuk kedalam rumah sakit tiba-tiba pintunya terkunci sendiri. Seperti terkunci otomatis dan sontak saja Adiva jadi bertambah panik.
"Kenapa pintu ini tiba-tiba tertutup dan terkunci sendiri? Apakah rumah sakit ini secanggih itu? Padahal udah kosong deh." bingung Adiva.
Keadaan ruangan didalam rumah sakit yang terbengkalai itu udah seperti sarang setan. Banyak jaring laba-laba dan juga laba-laba beracun yang bersiap menggigit kapan saja jika gak sengaja menyentuh sang laba-laba.
Adiva lalu berjalan menelusuri bagian dalam rumah sakit itu, banyak bangku dan barang-barang yang berserakan didalam. Bau udara dalam rumah sakit ini juga tidak sedap tercium indera penciuman.
Diluar Bandi, Jack, dan Aldi sedang kebingungan karena pintu terkunci dari dalam.
"Woy Jack, gimana ini? Pintunya terkunci woy, bagaimana caranya kita masuk kedalam kalau gini dong bray?" bingung Aldi.
"Ngapain bingung, kita orang bertiga kan kekar macho, kita bukan hello kitty, kita dobrak bareng-bareng aja pintu ini pasti bisa kebuka njir!" sahut Jack.
"Bener kata lu Jack, buruan kita dobrak pintunya dan nggak usah tunggu lama lagi," sahut Bandi.
__ADS_1
Lalu mereka bertiga mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu lalu mereka berhasil mendobrak pintu itu sampai pintu itu copot dan roboh. Sebenarnya satu orang mendobrak saja sudah cukup buat membuat pintu yang terkunci otomatis itu terbuka.
"Adiva, nyonya muda ada dimana?! " teriak Bandi memanggil. Lantas mereka bertiga berlari di sepanjang rumah sakit itu. Mereka mencari-cari Adiva tapi Adiva tak kunjung mereka jumpai.
Mereka terus mencari dan mencari disegala penjuru ruangan dalam rumah sakit terbengkalai itu. Adiva ada dimana?
Adiva sedang melangkah didekat ruang laboratorium rumah sakit. Ia terus mengirim pesan ke nomor ponsel yang tadi kirim pesan kalau suaminya sedang disekap disini.
Tiba-tiba dari depan seperti ada seorang yang berlari mengejarnya dari arah koridor yang gelap. Sepertinya orang itu akan keluar dari kegelapan lorong itu. Adiva terus menatap kearah lorong rumah sakit itu. Adiva penasaran siapa yang sedang berlari kearahnya.
"Siapa ya kira-kira yang sedang berlari kearahku? Suara dari kaki ia berlari kedengaran sekali, apa dia mas Alzam atau...?" ucap Adiva terus mengamati dengan seksama.
Sampai orang itu keluar ternyata dia yang sedang berlari adalah pembunuh berjubah kuning yang kemarin sore berusaha mencelakainya di bangunan yang sedang dibangun.
Sore ini sama seperti kemarin, benar-benar sama karena lagi-lagi Adiva kucing-kucingan dengan pembunuh berjas hujan yang kemarin ia lihat. Adiva bingung menentukan mana tempat persembunyian yang tepat tapi ia melihat sebuah kamar mayat. Adiva berhenti berlari didepan kamar mayat itu lalu menarik nafasnya sejenak.
Adiva bergerak kedepan lalu mulai memutar engselĀ pintu kamar mayat itu, dan ternyata bisa dibuka. Adiva langsung masuk kedalam meski ada perasaan merinding. Dalam hatinya ia berharap semoga kamar mayat ini ga ada hantunya. Ranjang mayat ia lihat banyak berjejer didalam. Adiva melangkah perlahan lalu bersembunyi dibawah salah satu ranjang mayat.
"Duh semoga nggak ada hal yang aku takutin." ucap Adiva kembali berharap didalam hatinya. Adiva melihat ada bercak darah kering di dekatnya tepat diatas lantai bawah ranjang mayat. Adiva langsung menutup mulutnya, jangan sampai ia berteriak, takut pembunuh bayaran itu dengar!
Pembunuh itu berjalan sembari menenteng kapak, kapak itu berbunyi nyaring saat kapak itu diseret oleh si pembunuh bayaran itu diatas lantai. Pembunuh bayaran bertopeng seram itu terus melangkah cepat mencari dimana Adiva bersembunyi. Aura psikopatnya benar-benar tampak mengerikan.
__ADS_1
Disisi lain Bandi, Jack, dan Aldi terus menelusuri area dalam gedung. Namun gedung rumah sakit kosong yang teramat luas itu, jarak mereka sekarang sangat jauh dengan tempat dimana Adiva sedang ngumpet, yaitu sebuah kamar mayat yang bau dan menyeramkan. Tiga bodyguard itu sedang mencari Adiva di lantai atas.
Pembunuh bayaran itu melihat ke sekelilingnya, dimana gadis tomboy itu sedang bersembunyi? Kalau sudah ia temukan, yang pasti kapak maut ini akan langsung ia ayunkan kebagian lehernya. Pembunuh itu masuk kedalam ruangan demi ruangan, satu persatu ia cek.
Kolong demi kolong ia cek namun tidak ia jumpai ada gadis tomboy itu, yang sedang bersembunyi ketakutan lalu minta ampun jika ketemu. Hingga akhirnya pembunuh itu sampai didepan kamar mayat dimana ia melihat pintunya yang terbuka. Lagi-lagi Adiva bertindak ceroboh dengan tidak menutup pintunya terlebih dulu. Lalu pembunuh itu masuk kedalam kamar mayat dan mengecek apakah Adiva ada didalam kamar ini. Tapi pembunuh itu yakin kalau Adiva sedang ada didalam sini karena pintu kamar mayat yang terbuka itu.
Pembunuh bayaran itu mulai mengecek satu persatu bagian kolong dari ranjang mayat itu. Didalam kamar mayat ada delapan ranjang mayat dan Adiva bersembunyi di bagian yang paling pojok.
Adiva menutup mulutnya sangat cemas tatkala pembunuh itu semakin mendekat kearahnya. Adiva ketakutan melihat kapak besar yang dibawa oleh si pembunuh kejam itu. Ia berpikir negatif apakah hari ini akan menjadi hari terakhirnya hidup di dunia ini? Adiva belum mau mati.
Lalu Adiva melihat ada sebuah balok kayu didekatnya. Adiva baru menyadari ada balok kayu itu. Sudah tujuh ranjang yang dicek oleh pembunuh bayaran itu dan tersisa ranjang mayat terakhir yang kain putihnya belum disingkap oleh si pembunuh, pembunuh itu membukanya dengan perlahan lalu saat ia buka.
"BUUUUG!"
Adiva memukul bagian belakang pembunuh itu menggunakan balok kayu yang tadi ia temukan sampai pingsan.
"Mampus lo!"
Pembunuh bayaran itu tergeletak pingsan didepannya.
"Siapa lo sebenarnya, gue harus buka nih topengnya, sebelum dia bangun lagi. Terus mengkapak gue, oh noo!" ucap Adiva lalu mulai membungkuk dan membuka topeng seram bermotif tengkorak yang pembunuh itu pakai.
__ADS_1
Setelah ia buka, Adiva bisa melihat jelas wajah dari si pembunuh itu. Kumisnya sangat lebat, wajahnya juga terlihat seperti laki-laki yang jauh lebih dewasa darinya. Adiva langsung memfoto wajah pembunuh itu, lalu Adiva berteriak sekencang mungkin agar Bandi, Jack, dan Aldi mendengar.