
Keesokan harinya...
Mama Linda tengah duduk sendirian di tepi sungai yang riuh suara arus. Tidak ada siapapun di sekelilingnya. Hanya senyap kesepian nuansa yang ada disekitarnya. Matahari dan cuaca sepertinya sedang tidak bersahabat karena mendung sudah tampak bercokol di langit coklat.
Mama Linda mengingat kenangan sewaktu dia masih menjadi ratu penguasa dalam rumah mewahnya. Menikmati kenangan-kenangan indah yang ada disana. Rumah yang menjadi tempatnya bernaung sejak empat puluh tahun yang lalu.
Mama Linda betul-betul merindukan itu. Mama Linda menangis sedih, merasa bodoh dengan apa yang telah ia perbuat selama ini. Semua ini terjadi karena akibat dari salahnya sendiri.
Setelah mati nanti, dirinya memikul banyak dosa yang bisa mengakibatkan kesengsaraan. Seandainya mesin waktu itu benar-benar ada, pasti mama Linda akan masuk kedalam mesin waktu itu buat memulai kehidupannya kembali, memperbaiki semuanya dari awal.
Mama Linda menggunakan kedua telapak tangannya, mama Linda berdoa menggunakan mulutnya, memohon ampunan kepada Allah atas semua dosa yang selama ini dia perbuat.
"Ya Allah, betapa besar dosa-dosaku selama ini. Sekarang aku hanya bisa menyesalinya. Aku ingin memperbaikinya. Tapi izinkan aku untuk bisa mendapatkan maaf dari anak-anakku dulu ya Allah sebelum aku menjalani hukuman mati itu? Aku sangat mencintai mereka dengan sepenuh hatiku. Tapi mereka semua membenciku ya Allah, huhuhu. Tidak ada satupun dari mereka yang mau menengok ibunya dipenjara. Bahkan yang masih peduli sama aku adalah menantuku sendiri. Orang yang ingin aku habisi nyawanya. Kenapa jadi seperti ini ya Allah? Huhuhu." ucap mama Linda berharap dengan penuh ketulusan di dalam hatinya.
Mama Linda kembali merenung, mengingat semua perbuatan fakenya selama ini kepada semua orang. Mengingat waktu dulu berusaha menjatuhkan Adiva dengan kebohongan-kebohongan yang keterlaluan.
Mama Linda menitikkan air mata penyesalan bercampur dengan kebencian. Benci kepada sifat-sifatnya yang dulu.
Tiba-tiba, karena tidak terlalu fokus saat mau berdiri kakinya malah tergelincir bebatuan licin ditepi sungai. Mama Linda terjatuh ke sungai sampai hanyut terbawa arus. Beruntung ada seorang laki-laki yang sedang lewat naik mobil disekitaran situ.
Laki-laki itu keluar dari dalam mobilnya buat menolong mama Linda. Laki-laki itu terus mengejar mama Linda yang terus hanyut terbawa arus lewat jalan di pinggiran sungai.
"Tolong, tolong!" teriak mama Linda menderita.
__ADS_1
Banyak air sungai yang masuk kedalam hidungnya. Perih sekali rasanya. Mama Linda berusaha meraih bebatuan yang ada ditengah sungai tetapi bebatuan itu sangatlah licin jika dipegang oleh tangannya.
Laki-laki yang ingin menolong mama Linda itu melompat ke tengah sungai. Mengambil risiko besar dirinya akan hanyut terbawa arus juga jika nekat masuk kedalam sungai. Laki-laki itu berenang, berusaha meraih tubuh mama Linda. Siapakah laki-laki itu?
Laki-laki itu berhasil meraih tubuh mama Linda. Akhirnya mama Linda berhasil diselamatkan berkat bantuan yang baik dari laki-laki yang baik itu. Mama Linda masih terlihat shock karena dirinya hampir saja mati. Mama Linda terbujur, diam disisi sungai sembari mengepalkan kedua tangannya.
Mengepalkan tangan bukan karena mau memukul tapi karena itu adalah bentuk atas rasa takutnya sendiri.
"Ibu tidak apa-apa?" tanya laki-laki remaja yang tidak dia kenali itu.
Mama Linda berusaha bangun meski terasa lemas dengan dibantu oleh laki-laki remaja itu. Laki-laki ini memakai seragam sekolah yang artinya laki-laki ini adalah seorang ABG.
Laki-laki muda ini begitu tampan dan berkharisma di usianya yang masih remaja. Mengingatkan terhadap Alzam waktu masih bersekolah dulu.
Anak remaja itu tampak mengenali wajah mama Linda. Dia adalah seorang buronan yang kemarin ia lihat ada di berita.
"Ibu ini mirip dengan buronan yang saya lihat di acara berita kemarin sore. Apa benar begitu atau cuma mirip saja?"
"Cuma mirip saja kok nak. Lihat baju saya bukan baju tahanan."
"Kalau gitu ibu tinggal dimana? Biar saya antar anda pulang?"
Mama Linda terlihat bingung dan bersedih.
__ADS_1
"Kok ibu malah sedih? Ibu nggak punya tempat tinggal?"
Mama Linda mengangguk sembari menatap lembut kearah anak sekolah itu.
"Kenalin bu nama saya Rey, senang berkenalan dengan anda. Kalau berkenan dirumah orang tua saya sedang membutuhkan ART. Apa ibu mau bekerja di rumah ortu saya?"
Mama Linda menolak karena pasti orang tua Rey akan melaporkannya kepada polisi. Pasti mereka akan menyelidikinya.
"Gausah nak, makasih atas penawaran kerjanya. Dengan kamu menolong saya saja itu sudah cukup. Saya tinggal dijalanan saja tidak apa."
"Nama ibu siapa?"
"Hm, nama saya Aini. Bu Aini."
"Bu Aini saya mohon jangan menolak penawaran ini. Masa ibu lebih memilih untuk tinggal di jalanan sih yang bener aja?"
Mama Linda tersenyum untuk Rey kemudian perlahan berdiri.
"Gak apa-apa nak saya gak mau merepotkan keluarga kalian. Saya sakit-sakitan, saya sudah tak kuat lagi kalau harus bekerja. Biarkan saya hidup terlunta-lunta dijalanan, nak Rey gak perlu mikirin saya."
Rey menggeleng tidak setuju. Rey, anak ABG yang vibes positif ini tetap keukeuh mau bantuin mama Linda.
Bersambung...
__ADS_1