
Alzam dan Adiva masih bersimpuh bersama di samping mobil, kemudian setelah dirasa mereka sudah berlama-lama hanyut dalam rasa sedih itu mereka berdua masuk kedalam rumah, disusul oleh Lisa dari belakang.
Satu jam kemudian, Adiva sudah tampil cantik dengan pakaian barunya. Sebuah gaun panjang selutut berwarna putih keemasan dengan bahan yang sangat nyaman untuk dipakai. Adiva yang tadinya kumel dan bau sekarang sudah kembali wangi dan rapi.
Lisa juga memakai gaun berwarna pink lucu itu dipinjamkan oleh Adiva. Mereka berdua tengah duduk bersama di dekat kolam renang sisi rumah Alzam dan Adiva.
Seorang pembantu datang membawakan camilan manis dan minuman segar untuk mereka berdua. Wildan sedang diemban oleh Alzam di dalam kamarnya. Alzam sedang mengemban Wildan, menjaganya dengan sepenuh hati.
Alzam mengamati bekas luka yang ada di bagian kaki kecil Wildan. Alzam begitu emosi melihat luka ini, bahkan seorang bayipun mamanya masih tega buat melukainya, pikirnya.
Lisa mengambil salah satu kue kering yang dibawakan pembantu kemudian menikmati rasa manis itu dengan ekspresi yang manis juga. Mereka berdua merasa bersyukur dan bahagia karena berhasil selamat dari serangan mama mertua yang psiko itu.
Beberapa saat kemudian ketika Juna sudah tertidur, Alzam datang menghampiri mereka di tepi kolam renang.
"Selamat siang wanita-wanita cantik?" sapa Alzam ramah lalu duduk di samping istrinya. Melihat Alzam datang Adiva langsung gelendotan manja di lengan kekar suaminya.
Lisa rasanya iri dan ingin sekali segera punya suami. Tapi masalahnya, Lisa belum punya calon suami. Lisa ingin mendapatkan Bandi tapi masa iya sih, Lisa yang maju duluan buat menyatakan rasa sukanya kepada Bandi?
"Lisa, tadi istriku udah cerita kalau kamu adalah pahlawan dalam tragedi itu. Terimakasih banyak ya, aku gak tahu harus membalas perbuatan baikmu dengan cara apa tapi aku ingin membelikan sebuah villa mewah di puncak buat membalas kebaikan kamu, Lis?" ucap Alzam mengejutkan Adiva dan Lisa.
"Kamu nggak boleh nolak ya Lis? Kamu harus menerima pemberian dari suamiku ini?" ucap Adiva seraya tersenyum kearah Lisa.
Lisa mengangguk.
"Sebenarnya aku ikhlas menolong Adiva dan bayinya. Tapi kalau dikasih sesuatu sama orang ya aku nggak mau menolak rezeki juga. Makasih ya mas Alzam?" ujar Lisa seraya tersenyum kepada Alzam dan Adiva.
Alzam dan Adiva kompak mengangguk secara bersamaan. Setelah itu Lisa ingin segera pulang ke rumahnya. Lisa sudah berpamitan kepada Alzam dan Adiva tapi Lisa belum berpamitan kepada Bandi. Lisa mencari-cari Bandi yang keberadaannya entah ada dimana.
__ADS_1
"Dimana ya si Bandi?" tanya Lisa sembari terus melangkah mengelilingi rumah Alzam yang luas itu.
Langkahnya terhenti ketika Lisa melihat Bandi sedang duduk sendirian di teras depan paviliun. Lisa tersenyum sejenak kemudian melangkah menghampiri Bandi, namun sebelum sampai didekat Bandi, Lisa memetik sebuah bunga melati kecil dulu yang ada didekatnya.
Kemudian Lisa melanjutkan langkahnya menuju Bandi dan setelah sampai di dekat Bandi, Lisa langsung duduk di samping Bandi.
"Lisa?" sebut Bandi seraya menatap datar kehadiran Lisa.
"Kamu udah makan siang kan?"
Bandi mengangguk.
Lantas, Lisa memberikan bunga melati itu untuk Bandi
"Bunga melati ini untuk apa?" tanya Bandi seraya menerima bunga melati itu. Bandi tidak mengerti maksud dari Lisa memberikannya bunga melati itu.
"Terimakasih Lisa."
"Bandi, kamu nggak perlu menjadi pria kaya raya dulu buat melamar wanita yang kamu suka. Dengan kamu mau bekerja keras dan tidak menganggur saja itu sudah cukup. Kesederhanaan dan kesucian cinta itulah yang paling utama. Apa sekarang, kamu ada keinginan buat melamar wanita yang kamu suka?"
Bandi tampak gugup ketika Lisa bertanya soal hal itu. Kemudian, Bandi mengangguk sembari menatap bunga melati kecil yang ada di tangannya itu.
"Iya ada seorang gadis yang sebenarnya aku suka tapi aku minder buat menyatakan rasa suka aku kepada gadis itu, Lis." jawab Bandi kemudian menatap wajah Lisa lagi.
Mereka berdua saling bertatapan dalam waktu sepuluh detik.
"Kalau berkenan, apa aku boleh tahu siapa gadis yang kamu maksud itu? Nanti aku akan membantu kamu buat dapatin gadis yang kamu cintai itu, Ndi?"
__ADS_1
Bandi bertambah gugup ketika Lisa sekarang bertanya seperti itu. Meski Lisa sendiri pasti akan patah hati kalau tahu wanita yang Bandi suka itu ternyata bukan dirinya.
"Gadis yang kamu maksud itu ada di sampingku, Lis." jawab Bandi membuat hati Lisa bergetar tidak percaya.
Apakah ini bukan ilusi? Bandi ternyata mencintai dirinya namun dirinya enggan buat mengungkapkan karena merasa minder dimana dirinya hanya seorang bodyguard yang biasa saja. Lisa menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Lisa juga merasa gugup setelah Bandi menjawab kalau ternyata perempuan yang dia sukai itu adalah dirinya.
"Seperti janji aku kepada kamu Ndi, aku akan membantu kamu buat dapatin gadis yang kamu maksud itu." ucap Lisa menatap Bandi tapi Bandi enggan buat menatapnya balik. Bandi merasa sangat-sangatlah tegang.
Bandi diam saja menunggu Lisa mau membantunya seperti apa. Lisa tersenyum lagi kemudian menyuruh Bandi untuk memegang kedua tangannya. Tapi Bandi masih diam saja dan tetap enggan atau tegang setelah Lisa menyuruh hal demikian.
"Bandi?" panggil Lisa karena Bandi masih saja diam.
Bandi melirik lagi ke wajah Lisa, dengan perlahan tangan Bandi mulai bergerak memegang tangan Lisa. Lalu setelah itu Lisa menyuruh Bandi buat berani menatap wajahnya lagi. Jangan malah menatap kearah lain.
Bandi melirikan matanya ke wajah Lisa kemudian berganti lagi kearah lain. Seperti itu terus sampai Bandi melakukannya selama beberapa kali. Bandi benar-benar terlihat gugup.
"Bandi, yang serius dong menatap akunya, jangan gugup gitu. Gimana caranya aku bisa bantuin kamu kalau kamu gugup terus. Kamu gak usah gugup Bandi, come on, berani!" titah Lisa mendukung laki-laki kekar yang sedang tegang itu.
Setelah mendapat dukungan dari Lisa yang menyuruhnya untuk lebih berani, Bandi pun memberanikan dirinya buat menatap wajah Lisa lebih lama. Bandi sekarang benar-benar melakukannya.
"Bandi, sekarang, kamu ungkapin rasa suka itu kepadaku. Katakan bahwa kamu ingin memiliki aku sebagai istri kamu. Nyatakanlah dengan segenap keberanianmu dan kesungguhan kamu, ingin betul-betul menjagaku dengan sepenuh hati kamu. Maka aku juga akan menjagamu, mencintaimu dengan sepenuh hatiku juga Bandi." ucap Lisa dengan nada lembut.
Bandi yang baru pertama kali berhadapan dengan situasi yang beraroma cinta seperti ini jelas merasa gugup dengan semua ini. Tapi Bandi tetap memberanikan diri buat ungkapin rasa ingin memiliki Lisa menjadi kekasihnya.
"Lisa, aku..."
Bersambung...
__ADS_1