
Setiap orang yang punya rahasia besar dan rahasia itu akan dibongkar oleh seseorang, maka pasti dia akan merasa cemas dan khawatir. Beragam cara bisa dilakukan oleh orang itu untuk membela dirinya termasuk membuat kebohongan baru demi menutupi rahasianya. Sangat takut jika rahasia yang akan membuatnya dihujat pun akhirnya diketahui oleh orang-orang.
Lantas Daffa dibawa ke rumah sakit oleh Alzam dan Amel. Daffa dimasukan kedalam mobil Alzam, sedangkan Amel duduk disamping Alzam, Alzam yang menyetir mobil. Daffa dibaringkan di jok belakang, kondisinya cukup kritis. Sedangkan Alex mengikuti mobil Alzam dengan menyetir mobilnya sendiri.
"Daf, kamu harus bisa bertahan! Pasti kamu bisa, sebentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit." ucap Alzam cemas seraya mengemudikan mobilnya.
Amel duduk disamping Alzam sembari membopong bayi kecilnya. Amel tidak ingin terjadi tes kecocokan DNA, itu hanya akan membuatnya terbongkar rahasia yang selama ini ia tutup rapat-rapat.
"Kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada suamiku, maka kita harus menjebloskan laki-laki bajingan itu kedalam penjara!" ucap Amel dongkol.
"Pasti itu. Setiap orang yang berbuat kejahatan, maka dia harus menanggung resikonya," balas Alzam dengan tatapan nyalang.
Sampailah mereka di rumah sakit. Daffa segera dibawa oleh para perawat dan dokter, akan segera ditangani kondisinya supaya lebih baik lagi.
"Dok, berikan penanganan yang terbaik untuk adik saya ya?"
"Siap pak."
Alzam dan Amel disuruh dokter buat menunggu diluar, sementara itu Alex tak berselang lama menyusul mereka berdua ke dalam rumah sakit.
"Sekarang sebaiknya kita melakukan tes DNA kepada bayi itu. Sudah pasti akan ketahuan kalau bayi mungil itu adalah anak saya. Saya ayahnya, saya ingin identitas tentang siapa ayah biologisnya menjadi jelas." tutur Alex.
__ADS_1
"Baik kalau gitu, apa susahnya kita melakukan tes DNA. Amel, kalau kamu merasa nggak ada sesuatu yang kamu rahasiakan, harusnya kamu santai aja kali soal tes DNA yang akan dilakukan oleh bayi kamu dan laki-laki ini," singgung Alzam.
"Bukan takut tapi ini tuh nggak penting! Hanya membuang waktu saja mas Alzam. Mendingan usir dia dari sini! Aku muak dan jijik melihat dia ada didekat kita terus!" lantang Amel seraya melotot sinis kearah Alex.
"Nggak bisa gitu dong! Saya juga harus menghargai permintaan Alex. Karena biar bagaimanapun dia ingin meminta dilakukannya tes DNA dengan cara yang baik-baik. Saya tahu saya juga salah, dan saya yakin perkelahian tadi sebenarnya bukan karena Alex yang ingin cari perkara. Tapi Alex, kalau terjadi sesuatu dengan adik saya, kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatan kamu didalam penjara ya?" pinta Alzam, Alzam ingin suasana yang terkontrol saja tidak mau ribut atau panas. Disaat istrinya sedang hamil, dirinya malas sekali ribut-ribut dengan orang.
"Aduh tapi aku nggak mau! Kamu harus bisa ngerti sama perasaan ibu kandung dari bayi ini dong! Kalau aku nggak mau, ya nggak mau lah! Jangan dipaksa! Baby D, kamu nggak mau kan di tes DNA segala? Kamu kan masih kecil sayang, masih merah. Orang ayah kandung kamu itu mas Daffa, bukan si bajingan ini kok. Mana mau saya sama mafia jahat kaya kamu Alex! Mau bisnis gelap kamu saya spill kepada polisi?" ucap Amel penuh amarah dan mengancam.
"Loh kok jadi melebar kemana-mana? Ayolah, jangan bikin rumit kaya gitu. Apa susahnya sih tinggal nyerahin bayinya buat di tes doang, tidak akan ada yang menculik bayi kamu Amel!" desak Alzam.
"Kalau kamu nggak mau anak kamu di tes DNA dengan saya, jangan salahkan saya kalau hidup kamu akan saya buat menderita, sampai kamu mau mengakui kalau bayi itu adalah hasil dari pergulatan cinta kita diatas ranjang hotel dulu, hahahaha." tawa Alex lalu ia pergi dari rumah sakit.
"Silahkan! Aku nggak takut sama ancaman kamu orang gila!" teriak Amel menantang balik.
"Mas Alzam kenapa sih jadi ikut-ikutan ngejudge aku kaya gitu? Jangan mentang-mentang aku musuhan sama istrimu, kamu jadi ikut-ikutan mau ngancurin aku! Dasar menyebalkan kamu mas!"
Dokter yang menangani Daffa keluar buat memberi tahu suatu kabar untuk Alzam dan Amel.
"Permisi, ada apa ini kok kalian ribut ya? Saya cuma mau bilang kalau pasien sudah sadar. Kondisinya sudah membaik."
"Alhamdulillah, terimakasih ya dok? Saya janji akan memberikan bonus untuk anda. Nanti temui saya di ruang administrasi aja ya dok?" ucap Alzam senang.
__ADS_1
"Wah, bapak tidak perlu repot-repot. Terimakasih dan saya tidak mau menerimanya. Sudah tugas saya untuk menangani dengan baik siapapun pasien yang datang dan membutuhkan penanganan." jawab sang dokter menolak bonus yang akan diberikan oleh Alzam.
"Dokter jangan malu-malu kucing begitu dong ah, anggap aja bonus dari saya nanti sebagai penyemangat buat dokter dari saya. Jangan menolak rezeki ya dok?" harap Alzam.
"Yaudah kalau anda memaksa, saya akan menerimanya. Makasih ya pak?" ucap sang dokter dengan wajah sumringah.
"Iya sama-sama dok, kalau gitu apa sekarang saya dan istrinya adik saya udah boleh masuk kedalam buat menemani adik saya?" tanya Alzam.
"Ouh sudah, silahkan masuk saja kedalam. Tadi perawat udah memberi adik anda minum air putih. Tunggu kondisinya kembali pulih mungkin perlu waktu seminggu kedepan. Biarkan dia banyak beristirahat dulu ya?" saran sang dokter.
"Baik dok." jawab Alzam dan Amel, kompak.
Lalu mereka berdua bersama dengan baby D masuk kedalam ruangan tempat Daffa berada. Daffa sedang berbaring dengan tampang sedih seraya mengamati langit-langit ruangan.
"Adikku, bagaimana kondisimu sekarang? Apakah sudah baikan? Kakak berharap setelah kamu udah sembuh nanti, kamu jadi ya belajar ilmu beladiri lagi? Biar kamu jago berkelahi dong kaya kakak kamu ini, setelah belajar ilmu beladiri sama istri kakak. Hahaha, jadi laki harus pandai beladiri dong!"
"Iya kak. Terus gimana orang itu? Si bajingan yang mengaku sebagai ayah kandung dari anakku baby D?"
"Hmm, dia udah aku usir mas. Dia emang kurang ajar mantan lakna! Bisanya cuma fitnah aku! Kamu jangan pernah percaya sama omongan dia ya sayang? Jangan seperti kakak kamu ini yang aku lihat dia satu frekuensi sama si mantan sialan itu!"jawab Amel kesal.
"Apa, kakak sependapat dengan dia?" tanya Daffa kaget.
__ADS_1
"Bukan begitu, kakak hanya menaruh rasa curiga aja kepada istri kamu dek. Jangan-jangan, apa yang laki-laki itu katakan benar adanya. Soalnya wajah bayi kamu ada kemiripan sama dia." tukas Alzam dengan tampang cuek.
Bersambung...