
Alzam membuka bagasi mobil dan mulai memasang alat-alat memancing itu dengan dibantu oleh Adiva. Adiva juga tidak sabar ingin memancing dan dapat banyak ikan untuk ia bakar pada nantinya. Setelah semua terpasang dengan sempurna, Alzam menyuruh Adiva untuk bergegas mencari sebuah umpan.
Cacing adalah umpan yang ideal untuk menangkap ikan didalam sungai, cukup mudah bagi Adiva untuk mendapatkan umpan yang bernama cacing itu. Adiva tinggal mencarinya di tanah yang agak becek dan Adiva tidak jijik untuk memegang cacing-cacing melambai yang ia temukan. Tidak merasa geli seperti cewek pada umumnya dan itu adalah poin plus menurut Alzam punya istri yang pemberani seperti Adiva ini.
"Nih mas aku udah dapat lima cacing."
Alzam puas melihat hasil kerjaan Adiva dalam mencari cacing, tidak butuh waktu lama buat Adiva mendapatkan itu. Punya istri yang bisa diandalkan adalah kesenangan tersendiri bagi Alzam dan Alzam juga harus bisa diandalkan oleh istri kecilnya itu. Alzam menawarkan rasa terimakasihnya dengan menggendong Adiva sampai air terjun dan tentu saja istri yang pemberani tapi manja itu tidak mau menolaknya.
Alzam menggendong istrinya sampai ke air terjun lagi. Adiva benar-benar merasa nikmat dan bahagia digendong oleh suaminya sendiri. Dimanjakan, hari ini adalah hari yang benar-benar menyenangkan. Suatu kemanjaan yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi dalam hidupnya. Punya suami yang tampan, kaya, sayang, ya meski dia pernah menjadi suami dari kakaknya sendiri.
"Memilikimu adalah hal yang sangat membuat diriku bahagia mas, semoga begini seterusnya." harap Adiva dalam hati kecilnya.
*
*
*
Sesampainya di air terjun, mereka berdua bersama mengikuti arus yang mengalir hingga mereka sampai di sebuah telaga biru yang sangat luar biasa indahnya. Ini seolah surga. Surga dunia. Di samping sungai semua serba hijau seperti savana yang amat sangat alami. Savana yang menyimpan kesejukan di tengah-tengah yaitu sungai yang mengalir dengan begitu indah.
"Amazing! Aku ingin bangun rumah disini, titik. Aaaaa.... Mas, tolong dong bikinin rumah disini?" rengek Adiva.
"Kamu yakin ingin tinggal disini? Disini nggak ada tetangga loh sayang?"
"Buat apa aku punya tetangga kalau mereka pada toxic semua, sepertinya hidup dan terputus dari dunia luar jauh lebih menyenangkan deh mas. Cuma kita berdua dan ga bakal ada yang gangguin kita."
"Nggak sayang, kita ini mahkluk sosial. Kamu nggak boleh bicara begitu, yaudah sekarang kita mulai memancing saja ya? Katanya kamu lapar?"
__ADS_1
"Pikirkan baik-baik permintaan istrimu ini yah, yaudah ayo kita mulai memancing sayang."
Mereka mulai memancing ikan dengan berhati-hati agar tidak sampai terpeleset dan terjatuh kedalam sungai saat berdiri di tepi sungai, bisa-bisa kalau nanti jatuh akan tenggelam hanyut terbawa arus yang cukup deras itu.
"Memangnya disini banyak ikan ya mas? Kok aku nggak yakin ya. Aku nggak melihat ada seekor ikanpun"
"Emang mereka harus kelihatan ya? Nggak tahu sih sayang, dulu waktu saya memancing disini lagi musim ikan. Tapi sekarang, mungkin ikannya udah pada habis kan saya nggak tahu. Tapi moga aja ada ya."
"Iih sayang? Kamu ini plin plan deh, tadi kamu excited ngajak aku kesini, kalau aku tahu belum pasti sungai ini banyak ikannya pasti aku tolak mentah-mentah. Sayang, aku udah laper banget nih. Aku tuh paling nggak bisa kalau harus menahan lapar, kecuali saat bulan puasa. Perut aku udah keroncongan banget niih."
"Malu dong sama pengemis-pengemis dijalan, kamu menahan lapar saja tidak bisa. Hmm, pancingnya gerak, sayang lihat ini, aku akan menarik apa..."
Alat pancing ikan yang dipegang oleh Alzam seperti bergetar tanda ada ikan yang tersangkut kail. Dan Alzam pun segera menarik kail itu, ekspresi wajahnya Adiva berubah menjadi sumringah tatkala melihat seekor ikan besar yang mendarat di dekat kakinya.
"Yeeeeeiy! Bakar ikaaan!" teriak Adiva heboh.
"Sayang satu aja udah cukup, lihat ini ikannya besar banget. Cukup untuk kita berdua kok sayang?"
"Nggak, saya mau mancing lagi. Tiga ekor ikan baru cukup, saya dua kamu satu. Laki-laki porsi makan itu lebih banyak dari perempuan"
"Sayaaang, kamu membuatku menderita, hohoho. Buruan!"
Adiva menunggu diatas batu sembari memegang ekor ikan itu. Sesekali Adiva memegang perutnya yang terasa semakin keroncongan. Alzam sedikit tersenyum saat melihat istrinya yang tampak sudah tidak sabar lagi membakar ikan hasil tangkapan. Karena tidak tega, Alzam pun segera mengajak istrinya untuk membakar ikan saja.
*
*
__ADS_1
*
Sementara itu ditempat lain, yaitu di sebuah salon perawatan kecantikan mahal, Amel dan mama Linda sedang tengkurap karena habis luluran. Mereka berdua sedang memanjakan diri mereka di akhir pekan ini sembari ngobrol cantik. Sebelumnya mereka udah memborong banyak baju dan perhiasan. Mama Linda benar-benar menghabiskan uang seratus juta itu dalam sehari untuk hal yang tidak terlalu penting.
"Mama, makasih ya tadi udah belanjain aku banyak banget baju-baju baru. Aku dibeliin kalung juga, sungguh senang punya calon mertua yang royal seperti mama ini. Royal sama calon mantu,"
"Sama-sama sayang, kalau kamu jadi menantu mama pasti mama akan bahagiain kamu setiap hari. Karena mama bangga tahu punya menantu yang super duper elegan seperti kamuu. Jaga terus kecantikan kamu ya nak, itu aset."
"Ah mama bisa aja, oh iya ngomong-ngomong mas Alzam lagi ada dimana ma?"
"Nggak tahu tuh, tadi sih saya lihat dia mau pergi bersama istrinya yang dekil itu. Nggak tahu deh mereka mau pergi kemana, saya tidak peduli."
"Hmm mama! Pasti mereka juga lagi bersenang-senang deh kan hari ini weekend. Kenapa mama nggak ikut coba, kan mama bisa ganggu mereka kalau mama ikut pergi sama mereka, hahaha."
"Betul juga tapi yaudahlah, mendingan mama menyenangkan diri mama sepuas hati daripada melihat kemesraan anak mama dengan wanita dekil kurang ajar itu! Amel, kamu harus tahu kalau semalam itu, dia membuat saya mati kutu didepan teman-teman arisan saya!"
"Ya ampun, sampai kapan mama akan tahan punya menantu yang memalukan dan kurang ajar seperti dia itu?"
"Mama nggak tahu, hiks. Tapi Alzam sudah klepek-klepek sama dia Amel. Peletnya makin ampuh, kita harus cari tahu siapa dukunnya!"
"Daripada kita buang-buang tenaga buat cari tahu siapa dukun dia, mendingan kita atur rencana aja ma. Nanti kita bahas ya didalam mobil?"
"Iya sayangku, calon mantuku."
Amel tersenyum puas, ia sudah mengatur sebuah rencana yang diharapkan bisa berjalan dengan lancar. Kali ini Adiva harus benar-benar terpojok dan Alzam akan membenci Adiva lalu menceraikannya dengan hina. Itulah yang mereka berdua inginkan. Rencana baru lagi. Selama Adiva masih ada dalam lingkup kehidupan mereka, maka disaat itu pula rencana-rencana licik mereka akan terus bermunculan.
"Ini adalah rencana terbaik yang akan membuat hidup kamu menderita cewek bar bar!" batin Amel berambisi.
__ADS_1
Bersambung...