MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Karena istriku


__ADS_3

"Mama tega amat sih? Daripada hidup mama habiskan waktu buat menyindir istri Alzam, mendingan mama ikut Alzam banyak melakukan bansos, membantu Alzam mengubah penampilan istri Alzam menjadi anggun? Itu lebih baik daripada menghujatnya?" ajak Alzam kepada kebaikan.


Saat Adiva mendengar Alzam mengajak mamanya untuk ikut membantunya mengubah diri menjadi lebih feminin, entah mengapa hati Adiva jadi agak tersentuh, meski dirinya belum ada niatan sama sekali untuk mengubah dirinya, sulit baginya untuk melepas dan melupakan style berpakaian tomboynya yang begitu ia sukai dari dulu. Itu udah seperti mendarah daging.


" Kalau bansos sih mama oke-oke saja, tapi kalau membantu mengubah penampilan istri kamu, nggak sudi lah yah! Huft, mama capek berdebat terus sama kamu Alzam, semoga kamu sadar dan tahu kalau istri kamu itu bukan perempuan baik-baik! Mama mau masuk dulu ke dalam kamar." tukas mama Linda kembali menunjuk wajah jutek Adiva, kemudian melangkah masuk kedalam kamar.


Mama Linda menghela nafasnya pelan sembari berjalan menuju kamarnya, kepalanya serasa pusing kalau terus marah-marah. Mama Linda tidak mau darah tingginya kumat. Disisi lain Daffa juga terlihat kesal kepada kakak dan juga kakak iparnya . Daffa bangkit berdiri, dirinya ingin memarahi Alzam.


Daffa langsung menunjuk wajah kakaknya dan ingin memarahi kakaknya, lalu Daffa canggung karena langsung disambut dengan tatapan nyalang oleh kakaknya


Daffa merasa takut dan malah jadi gugup sendiri, tidak ada nyali buat memarahi kakaknya.


Daffa kemudian berjalan dengan gugup menyusul mama Linda kedalam kamarnya. Sementara itu Alzam terus memperhatikan adiknya yang sedang melangkah pergi.


"Kak, lo kuat tinggal bareng mereka?"


"Kuat. Saya bukan laki-laki lemah. Yaudah lah, semoga mereka mau berubah jadi lebih sopan dan lembut, ayo kita ke restoran sayang?" ajak Alzam romantis kepada istrinya.


"Asyik," sahut Adiva.


Mereka berdua berjalan keluar menuju mobil, Alzam merenung seraya berjalan, hati Alzam dipenuhi rasa bersalah karena sudah memarahi dan menyentuh rambut istrinya tadi, ternyata oh ternyata, istrinya seharian ini dibiarkan hujan-hujanan diluar rumah oleh mama Linda. Sungguh tega, Alzam merasa menyesal karena hari ini istrinya agak menderita, meski ia tidak mencintai istrinya tapi ia peduli dengan nasib Adiva.


"Kamu mau apa hari ini, apapun akan saya turutin?" tanya Alzam tiba-tiba sembari merangkul mesra istrinya.


"Hmm mau apa ya? Gue mau cium kak Alzam boleh?" tanya Adiva membuat Alzam merasa kaget, ingin menciumnya?


"Ya bolehlah, kan kamu istri saya. Kamu mau apain saya silahkan, yang penting jangan habisi nyawa saya, hehehe."


"Nggak, bukan mau cium anggota tubuhnya kak Alzam, tapi gue mau cium uang yang ada di dompet kak Alzam, hehehe,"

__ADS_1


"Anjir ini anak, selalu ada maunya, hmm mau minta berapa sayang?" tanya Alzam sedikit geram, namun menampakkan ekspresi yang tidak geram.


"Nggak ah kak bercanda, gue lagi nggak butuh uang. Hmm malam ini gue mau sesuatu."


"Apa itu?"


"sesuatu yang gue inginkan itu adalah gimana kalau kita makan malam di warteg aja? Gue udah lama nih nggak makan di warteg, sejak kak Alzam kasih gue uang lima puluh juta itu gue selalu makan di restoran sama teman-teman kampus gue?"


"Tapi saya tidak pernah makan ditempat yang kumuh dan banyak lalat seperti itu, saya tidak mau makan di warteg!"


Mereka melangkah sembari mengobrol


"Nggak apa-apa kak! Nggak semua warteg itu kumuh dan banyak laler. Gue tahu warteg yang higenis dan pelayanannya bagus, kakak mau ya? Please?"


Karena merasa bersalah makannya Alzam mau menuruti apa saja permintaan istrinya. Meski rasa emosional itu masih mewarnaiya. Setidaknya Alzam ingin menebus kesalahannya dengan menuruti apa saja keinginan istrinya.


Wartegnya juga kelihatan cantik, bersih, bahkan beraroma wangi saat Alzam mulai menapakkan kakinya di area warteg, Alzam lihat ada beberapa motor yang terparkir di depan warteg. Ada beberapa tukang ojek yang sedang makan malam di bangku


Adiva mengajak Alzam untuk segera duduk di bangku panjang lalu memilih makanan apa yang mereka mau.


"Lo mau pesan apa kak?" tanya Adiva manis sembari menyenggol pelan lengan Alzam.


"Makanan nggak ada yang sesuai dengan selera saya, tapi saya mau rendang itu aja deh? Mbak, saya pesan nasi sama rendang aja deh," tukas Alzam kepada penjual wartegnya.


"Ya Allah, ganteng sekali. Baru kali ini saya dapat pelanggan seperti anda tuan." ungkap mpok Dinda takjub.


"Ah ibu bisa saja, jangan berlebihan bu saya biasa saja kok." sahut Alzam merendah.


"Baik tuan ganteng, akan segera disiapkan," sahut mpok Dinda dari dalam.

__ADS_1


"Lo yakin nggak mau makan pete sama jengkol itu? Lihat itu, balado pete dan jengkol yang menggugah nafsu makan, ayo dong mas makan itu? Biar kompak."


"Seumur-umur saya belum pernah makan pete dan jengkol, saya tidak suka sama baunya. Kata mama, kalau habis makan jengkol, baunya akan bertahan selama berhari-hari didalam mulut."


"Mama lo salah ah, palingan pipis kita yang bau, hehehe. Please mas? Kalau lo cobain sekali aja pasti akan langsung ketagihan deh gue jamin." paksa Adiva.


Alzam menggaruki kepalanya meski tidak terasa gatal. Alzam mau makan jengkol atas keinginan Adiva, pokoknya malam ini permintaan apapun dari istrinya harus ia turuti.


"Mbak, sama balado jengkolnya juga ya?" lantang Adiva.


"Siap mbak,"


Singkat waktu pesanan Alzam dan Adiva sudah siap. Alzam terus menetra dengan seksama kepingan jengkol merah yang berada dalam piring makan, Alzam terlihat ragu untuk mencicipinya namun Adiva terus saja mengawasinya.


Alzam mulai menyendok satu jengkol yang akan segera masuk kedalam mulut dan perutnya, Alzam mulai mengunyah jengkol itu, diawal rasanya agak asing bagi lidah sultan Alzam, bahkan Alzam sempat batuk, namun lama kelamaan, Alzam bisa menikmati makanan yang menurut banyak orang itu bau.


"Enak kan kak? Lo suka? Yuhu? ga nyesel?"


Alzam mengangguk setuju, rasa jengkol tidak seburuk yang ia kira.


"Tambah lagi mbak balado jengkolnya," pekik Alzam seraya menaikan salah satu tangannya,


"Asiaap mas," sahut mbak penjual.


Adiva tersenyum senang melihat suaminya mau memakan makanan yang kurang disukai oleh orang-orang kaya itu. Setelah mereka selesai makan di warteg, Alzam jadi mendapatkan mindset baru bahwa warteg tidak sejorok yang ia kira selama ini. Adiva telah membuatnya berubah mindset soal warteg, dan Adiva juga berhasil mengubahnya menjadi seorang yang menyukai makanan jengkol.


Setelah ini mereka akan pulang kerumah, kemudian beristirahat, dan bersiap menyambut hari esok yang semoga lebih baik. Jerih payah manusia bisa menghasilkan hal yang terbaik, meski tidak semua jerih payah menghasilkan sesuai atas apa yang telah diusahakan, tapi setidaknya dengan berjuang maka kamu akan menjadi orang yang bersemangat dalam menggapai impian.


Seperti Alzam yang selalu berjuang mempertahankan karirnya sebagai seorang CEO sukses dan juga Adiva yang selalu berjuang menjadi lulusan dengan predikat yang terbaik nantinya. Itulah kehidupan, kehidupan yang bermakna selalu penuh dengan perjuangan.

__ADS_1


__ADS_2