MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Pingsan karena ulah mertua


__ADS_3

"Gue tunggu pembalasan lo!" sahut Adiva tenang, sama sekali nggak takut akan ancaman Lisa.


Usai kelas, Adiva akan segera pulang kerumah mama Linda tanpa dijemput oleh suaminya. Adiva sudah terbiasa naik angkot jadi pulang ke rumah mau naik angkot saja. Tapi ternyata, ada sopir pribadi suruhan Alzam yang ditugaskan untuk menjemput istrinya pulang.


Adiva merasa tersanjung, sekarang hidupnya seindah ini. Berangkat diantar suami, pulang diantar sopir.


Rumah mewah itu Adiva sekarang menjadi salah satu penghuninya, rumah tempat ia berteduh dan juga tempat ia mencari kenyamanan. Meski sang penguasa rumahnya adalah seorang ratu yang durjana. Orang yang ternyata adalah pelaku utama dibalik pembunuhan kakaknya dahulu. Orang yang sangat membenci kaum miskin, apalagi jika salah satu bagian dari kaum itu berani menginjakkan kaki di rumahnya. Satu lagi, orang yang paling pandai menutupi rapat-rapat kejahatannya.


Mama Linda ternyata sedang menunggu kepulangan Adiva dengan berkacak pinggang di depan rumah. Mama Linda menatap tajam kearah Adiva yang sedang turun dari mobil, didepan pagar rumah. Setelah Adiva turun, sang sopir pribadi harus segera pergi ke kantor untuk menjemput Alzam nanti. Sang sopir wajib stay didepan kantor kapanpun Alzam butuh.


Satpam penjaga segera membuka pagar untuk nyonya muda itu masuk, namun mama Linda berteriak, mencegah sang satpam dilarang membuka pagarnya.


"Jangan bukain pagar untuk gembel!"


Adiva berdiri mematung di depan pagar sembari menatap tanpa kedip mama mertuanya. Pak satpam tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi membantu Adiva masuk, mama Linda adalah pembuat aturan nomor satu dalam rumah ini. Mama Linda memandang kearah langit, menetra langit mendung yang se mendung hatinya saat ini, sedih karena Alzam tidak jadi menikah dengan perempuan pilihannya, si matre Amel.


"Heh gembel! Jangan berani kamu pergi atau Alzam akan marah. Tunggu disitu sampai saya mengizinkan satpam untuk membuka pagarnya!" titah mama Linda lantang.


Kemudian mama Linda berjalan masuk kedalam rumah dan menutup pintu. Membiarkan Adiva berdiri sendirian didepan gerbang. Adiva sedih karena ibu mertuanya tidak mengizinkan ia masuk kedalam.

__ADS_1


Padahal, Adiva sudah merasakan lapar dan haus, juga lelah karena hampir seharian mengerjakan tugas-tugas pelajaran yang menguras tenaga juga pikiran.


"Sedih ya punya ibu mertua yang sudah dzolim seperti dia. Hmm apa dulu mama Linda memperlakukan kak Zahra seperti dia memperlakukan gue saat ini? Apa dulu kak Zahra hidup menderita disini karena dia dulu juga orang yang miskin kan. Perempuan miskin dipersunting sama kak Alzam? Mama mertua yang tidak suka punya menantu miskin?" batin Adiva bertanya-tanya.


Berjam-jam ia menunggu didepan pagar besi. Pak satpam hanya bisa menatap sedih kearah Adiva, ingin rasanya membantu Adiva keluar dari masalah yang sedang ia hadapi namun pak satpam takut kehilangan pekerjaannya. Pak satpam tidak mau dipecat dan susah payah mencari pekerjaan lain lagi. Hingga akhirnya mendung sebagai pertanda hujan akan turun pun hujan terjadi, hujan turun dengan derasnya dari langit.


Adiva yang masih duduk didepan pagar pun kehujanan, malang apa yang tengah ia alami. Kelaparan, kehausan, ingin tidur siang sejenak namun sekarang bukan kenyamanan diatas kasur yang empuk, dirinya malah menerima rasa dingin tetesan air hujan yang begitu deras.


Adiva menggunakan tas belajarnya sebagai alat untuk berlindung dari tetesan air hujan. Adiva menutupi kepalanya dari atas menggunakan tas itu. Baju Adiva menjadi basah, rambut Adiva juga basah. Apalagi dirinya adalah orang yang gampang batuk pilek jika terkena hujan.


Mama Linda sedang mengamati penderitaan Adiva dari balik jendela kaca kamarnya. Mama Linda melihat Adiva dengan sinis dan juga puas karena sudah berhasil membuat menantunya, menantu yang tidak ia harapkan itu merasakan penderitaan!


Tiga jam hujan-hujanan disamping itu rasa dingin yang terlalu lama ia rasakan membuat Adiva tak kuasa untuk bertahan. Adiva pun pingsan didepan pagar rumah. Pak satpam kaget melihat Adiva tergeletak pingsan tak berdaya, merasa khawatir dengan kondisi Adiva membuatnya segera menemui mama Linda didalam rumah.


Pak satpam masuk kedalam rumah mencari keberadaan mama Linda, Dimanakah dia sekarang, mertua yang tidak punya nurani itu? Mama Linda sedang selonjoran santai di depan televisi, menonton acara kesukaan di televisi, sambil ngemil camilan premium. Mama Linda menoleh kesamping terkejut melihat pak satpam yang sedang berdiri menunggunya.


Mama Linda menatap nyalang sejenak kearah satpam itu kemudian berdiri dan berjalan menghampiri si satpam.


"Ada apa kamu masuk kedalam rumah? Apa yang sedang dilakukan menantu gembel itu?"

__ADS_1


"Dia pingsan, kondisinya cukup mengkhawatirkan, apa nyonya tidak ingin membawa dia kedalam rumah? Apakah akan terus membiarkan neng Adiva terkapar ditengah hujan? Nanti kalau tuan muda tahu dia bisa marah besar nyonya,"


"Biarkan dia pingsan disana, saya tidak peduli dan Alzam tidak akan berani marah kepada saya, saya mamanya!"


Begitu yakinnya mama Linda kalau Alzam tidak akan berani murka kepadanya walau bersikap jahatnya sekalipun, mama Linda kemudian menyuruh sang satpam untuk kembali saja ke pos penjaga, tidak usah mempedulikan nasib menantu kereb itu titah mama Linda. Mama Linda kembali ke depan televisi sembari menikmati camilannya.


Pak satpam berjalan lemas ke pos penjaga, ia menggaruk kepalanya meski tak terasa gatal. Pekerjaannya disini menjadi serba salah, kalau membantu Adiva dirinya akan kehilangan pekerjaan, kasihan keluarganya di kampung, tapi kalau tidak membantu Adiva bisa-bisa dirinya akan kena marah tuan Alzam juga.


Sebuah mobil mewah berwarna orange mendarat di depan pagar. Pengemudi di dalamnya bergegas turun tatkala melihat seorang gadis berambut pendek yang sedang terkapar pingsan di depan gerbang. adik dari Alzam, yaitu Daffa.


Daffa sangat terkejut melihat Adiva yang pingsan di depan gerbang dan tak ada seorangpun yang tahu? Atau memang tidak ada yang mau menolongnya?


Kalau iya, namun tidak dengan Daffa, dirinya masih punya nurani, Daffa bergegas membawa Adiva masuk kedalam rumah. Terlebih dulu Daffa berusaha membangunkan Adiva dengan menepuk pipi Adiva namun Adiva tidak kunjung bangun. Daffa bergegas meraih tangan kanan Adiva lalu membopongnya dengan berhati-hati.


"Pak satpam! Bukain gerbangnya!" teriak Daffa ditengah guyuran air hujan.


Melihat yang minta dibukain pintu gerbang adalah Daffa, pak satpam bergegas berlari ke gerbang tanpa memakai payung. Pak satpam juga ikut merasakan dinginnya air hujan di sore yang kelabu bagi Adiva.


Daffa buru-baru masuk kedalam sembari membopong Adiva, wajah Adiva tampak pucat, Daffa juga merasa khawatir kalau sampai terjadi hal buruk kepada Adiva. Daffa yakin kalau ini semua terjadi gara-gara ibunya, pasti ibunya tidak mau satpam membukakan gerbang untuk Adiva, karena ibunya sangat benci kepada kakak iparnya itu.

__ADS_1


Didalam kamar Alzam, Daffa membaringkan tubuh Adiva dengan hati-hati. Daffa juga menyuruh bi Turi untuk mengganti pakaian Adiva yang basah. Daffa tampak peduli dengan Adiva. Meski dirinya juga kurang menyukai kehadiran Adiva di rumah ini.


__ADS_2