MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Polisi Yang Siap Menjemput Mama Mertua


__ADS_3

"Gausah diambil pusing sayang, kamu pasti bisa menentukan pilihan yang terbaik."


"Iya sayang, makasih ya. Semoga kamu bisa ngertiin posisi aku."


"Iya mas."


Lantas Alzam kembali melajukan kemudi mobilnya menuju rumah sakit. Sesampainya dirumah sakit, mereka berdua datang membawakan makanan dan minuman kesukaan mama Linda. Bubur ayam premium dan jus tomat madu.


Melihat Alzam datang bersama dengan Adiva, ini adalah saat yang tepat buat mama Linda untuk berusaha membujuk Adiva.


"Eh ada Adiva kesayangan mama, sini nak duduk di kursi kecil itu. Mama ingin ngomong sesuatu sama kamu."


"Emangnya mama mau ngomongin apa sama aku?" tanya Adiva dengan nada bicara yang dingin lalu duduk di kursi itu.


"Mama minta maaf. Mama janji nggak akan berbuat kriminal lagi. Mama akui kalau mama salah banget, tapi mama Mohon kamu mau ya ampuni kesalahan mama yang sangat besar ini? Mama sedih nak, udah sakit nanti harus dipenjara juga. Bisa-bisa mama mati didalam penjara sayang, mama nggak mau."


"Tapi kenapa kalau mama takut sama itu semua, mama berani melakukan perbuatan kriminal separah itu dulu ya ma? Kalau mama bisa mengembalikan kakak aku ke dunia ini, udah pasti aku akan bisa buat maafin kesalahan mama. Dapatkah mama bisa melakukan itu?"


"Jangan konyol kamu. Jelas mama tidak akan mungkin bisa mengembalikan Zahra hidup lagi. Mama bukan Tuhan. Tapi satu hal, mama ingin banget kamu melupakan kejadian itu. Mama udah mengakui kalau mama salah loh."


"Tapi bagi Adiva itu semua tidak cukup. Adiva butuh keadilan, almarhumah kakak pasti juga butuhkan keadilan. Mama harus mempertanggung jawabkan perbuatan mama."


Air bening mengalir dari kedua mata perempuan paruh baya itu. Ketakutan akan dingin dan seramnya napi penghuni sel membayangi dirinya.


"Mama akan beri kamu banyak harta kalau kamu mau maafin mama nak? Mama mohon, mama takut sayang? Mama akan percantik makam Zahra, mama akan minta maaf disisi makamnya, mama mohon sayang?"

__ADS_1


"Adiva dan kak Zahra nggak butuh itu semua, aku udah punya dua aset, tempatku cari penghasilan. Makasih ya kalau mama mau kasih harta." jawab Adiva menolak.


"Hah, maksud kamu apa Adiva? Tempat apa nak?"


"Ladang penghasilan dong. Tahu gak, salon kecantikan yang ingin mama hancurin bisnisnya waktu itu? Itu tuh aku ma pemiliknya. Untungnya mas Alzam ga setuju sama rencana mama itu, coba bayangin kalau mas Alzam sampai jadi melakukan penghancuran salon kecantikan aku yang sedang naik daun itu, bisa-bisa aku nggak punya ladang penghasilan lagi, jadi sedih deh." tutur Adiva mengejutkan keduanya.


"Jadi, salon kecantikan itu adalah milik kamu sayang? Memangnya gimana ceritanya kamu bisa jadi pemilik dari salon itu? Untung saja mas tidak bodoh sembarangan menghancurkan bisnis yang ternyata adalah punya istri mas sendiri.


" Ceritanya panjang mas. Tapi yang pasti salon itu adalah milik aku."


"Pantas aja ya kamu waktu itu seperti nggak mau mama dan Amel ketahui mukanya, ternyata kamu ya pemiliknya. Tapi kenapa kamu menyembunyikan kalau salon itu adalah milik kamu nak? Kenapa kamu merahasiakan itu?"


"Ya karena aku ingin buat kejutan aja sih, mama jangan seenaknya menghina orang, belum tentu orang yang mama hina itu benar-benar tidak mempunyai suatu hal yang bisa untuk dibanggakan atau dimanfaatkan dengan besar, hehehe." bangga Adiva seraya mengibaskan rambut pendeknya.


Suaminya tersenyum bangga melihat istrinya diam-diam adalah seorang perempuan sukses, dan mama Linda sendiri membuka mulutnya, tidak percaya akan semua ini. Ternyata Adiva jauh lebih wow dari Amel yang bisanya cuma minta dibelanjaain aja.


"Iya mas, nanti kita pergi kesana sama-sama ya."


Mama Linda hanya bisa menelan ludah melihat kejadian sekarang ini. Semua benar-benar diluar dugaan. Mama Linda belum pernah tahu kalau selama ini Adiva bukan perempuan miskin yang seperti ia pikirin.


"Mama jangan mikir apa-apa dulu, sembuh dulu baru masuk penjara." lanjut Adiva berbicara membuat mama Linda semakin gemetar saja.


"Aku udah baca semua isi diary kak Zahra, yang mama sembunyikan dalam lemari pakaian mama. Bi Sri yang menemukan dan mengambilnya kemarin sore, ternyata, ini yang bikin aku belum bisa buat maafin mama Linda. Mas, ma, aku pergi dulu ya? Lama-lama disini, membuat aku jadi keingat terus sama kejahatan mama kamu kepada kakak aku dulu."


Adiva berlari keluar dari dalam kamar tempat mama Linda dirawat, lantas Alzam mengejar istrinya yang berlari pergi itu.

__ADS_1


"Sialan! Pembantu sinting itu benar-benar berani menghancurkan hidupku! Awas aja ya! Kamu akan menyusul si Zahra pergi!" batin mama Linda, kesal.


Alzam mengejar Adiva sampai ia mendapatkan tangan Adiva di koridor rumah sakit, Alzam menghentikannya sejenak.


"Jangan pergi sayang. Aku tahu kamu belum bisa maafin mama aku, tapi satu hal yang aku yakin kamu itu orang yang baik. Kakak kamu juga orang yang sangat baik. Semoga hatimu tidak terlalu dibutakan akan kebencian kepada mamaku."


"Aku benci banget sama mama kamu. Dia udah bikin satu-satunya anggota keluarga aku, yang aku cintai pergi. Ini bukan perkara sepele mas, dan lepasin tangan aku!"


Adiva menghempas tangan suaminya yang sedang memegang lengannya, lalu Adiva kembali berlari menuju parkiran. Adiva menunggu taksi lewat. Alzam tengah mengacak rambutnya karena saking pusingnya akan masalah ini.


***


Beberapa hari kemudian, kondisi kesehatan mama Linda sudah semakin membaik. Mama Linda sudah dibolehkan pulang kerumah oleh dokter dan mama Linda bersama dengan Daffa dan Alzam sedang dalam perjalanan menuju rumah mereka.


"Mama udah kangen banget sama rumah mama, ya walau belum seminggu mama dirawat di rumah sakit." tukas mama Linda ceria.


"Iya, kami juga kangen melihat mama beraktifitas didalam rumah kita." sahut Daffa senang.


Sesampainya mereka didepan rumah, mereka langsung dibuat terkejut saat melihat ada mobil polisi yang terparkir didepan rumah.


"Alzam, Daffa, kenapa ada mobil polisi didepan rumah kita?" tanya mama Linda panik.


"Alzam juga tidak tahu ma, sebentar ya mama tunggu disini, biar Alzam yang akan menemui para polisi itu."


Alzam bergegas keluar dari dalam mobil. Alzam yakin kalau istrinya yang mengundang para polisi itu datang buat menangkap mamanya. Didalam rumah sendiri terdengar keributan antara Adiva dan Amel, yang sama-sama sedang membela orang yang mereka dukung masing-masing. Amel membela mama mertuanya sedangkan Adiva memperjuangkan keadilan untuk almarhumah kakaknya.

__ADS_1


"Heh! Usir polisi-polisi itu! Aku nggak mau ya, mama Linda dipenjara!"


"Kamu nggak berhak buat berbicara seperti itu Amel!"


__ADS_2