MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Diary itu?


__ADS_3

Adiva menghentikan kemas-kemas pakaiannya sejenak lalu berjalan pelan ke samping Alzam, tahu istrinya sedang berjalan mendekatinya dirinya juga berhenti sejenak dalam berkemas pakaian.


"Gimana mas? Kasihan mama kamu, perusahaan membutuhkan kamu sebagai pondasi utama, kamu pasti seorang pimpinan yang cerdas dan selalu membuahkan kinerja yang gemilang di perusahaan keluarga kamu. Jangan hanya karena ego kita, semua jadi kena imbasnya. Apa kamu nggak khawatir lihat nasib pegawai-pegawai kamu kalau perusahaan jadi hancur setelah kepergian kamu dari jabatan CEO?"


Alzam memikirkan ucapan Adiva matang-matang dalam waktu singkat. Memang benar apa yang di bilang oleh Adiva kalau dirinya tetap kekeuh ingin mundur dari jabatan CEO di perusahaan keluarganya, bisa-bisa berdampak kepada aspek di kehidupan banyak orang. Yaitu banyak orang bisa jadi akan kehilangan mata pencariannya. Apalagi yang Alzam tahu kebanyakan pegawai di perusahaan Alzam adalah laki-laki yang punya tanggungan ekonomi. Di zaman yang sekarang ini bahkan lulusan kuliah pun banyak yang kesulitan saat mencari pekerjaan. Dan Alzam adalah CEO yang cerdas dan pandai berbisnis. Belum tentu yang menggantikan akan menghasilkan suatu kesuksesan yang sama.


"Baik, saya nggak jadi pergi dari rumah. Tapi kalau sekali lagi saya lihat mama menyakiti hati istri saya lagi, saya tidak peduli lagi dengan nasib semua orang ma, termasuk mama sendiri. Mama yang akan disalahin,"


Mama Linda tersenyum senang lalu kemudian memeluk anaknya. Alzam juga membalas pelukan mamanya dengan hangat.


"Iya nak, mama janji nggak akan gangguin istri kamu lagi. Sekarang mama akan menganggap kehadiran dia sebagai mantu mama," kata mama Linda sembari melepaskan pelukan dengan Alzam.


Kemudian mama Linda memeluk Adiva dengan hangat dan berkata


"Mama berjanji nggak akan bikin kamu sedih lagi, mulai sekarang dan seterusnya mama akan menyayangi kamu sama seperti mama menyayangi anak-anak mama. Mama tidak akan membeda-bedakan kamu lagi disini, ya nak? Mama Minta maaf?"


"Iya ma," jawab Adiva sembari mengangguk.


"Aku maafin mama," lanjut Adiva lirih.


Usai berdamai dengan anak dan menantunya, mama Linda mengajak mereka berdua untuk sarapan bersama di meja makan outdoor tepi kolam. Makan pagi bersama sembari menatap indahnya biru kolam, sungguh kenikmatan dunia yang fana.


Mereka akan sarapan berlima dan mama Linda kembali melakukan ancang-ancang untuk duduk di kursi utama. Mama Linda mengambilkan dua lembar roti tawar premium yang kemudian diolesi selai strawberry dengan begitu perhatian oleh mama Linda.


"Ini untuk kamu sayang," tutur mama Linda sembari menaruh roti tawar itu diatas piring makan Adiva.

__ADS_1


"Makasih mama, mama sekarang baik banget sama aku?" balas Adiva sembari tersenyum.


Alzam terlihat senang saat mama Linda perlahan sikapnya mulai berubah menjadi baik kepada istrinya. Secepat itu mama berubah tentu saja Adiva tidak segampang itu yakin kalau kedepannya akan selalu seperti ini sikap mama mertuanya.


Disisi lain Amel merasa cemburu kepada Adiva. Tatapannya terlihat sinis kala melihat kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh Adiva. Adiva sungguh hoki pikirnya, Adiva dalah pasangan sah dari laki-laki yang ia suka. Adiva juga sudah berhasil mendapatkan cinta kasih dari ibu mertuanya.


"Sungguh, aku sangat membenci pemandangan ini. Sarapan pagi ini membuatku merasa kesal saja, ingin rasanya cepat-cepat pulang kerumah. Duuh, aku harap ini semua cuma mimpiii. Masa iya sih, mama Linda secepat ini berubah jadi baik kepada menantu gembelnya itu? Ini tidak mungkin terjadi kan?" batin Amel kesal seraya mencabik-cabik roti tawarnya menggunakan garpu yang ia pegang.


"Sayang kok roti kamu diacak-acak sih, kamu lagi nggak nafsu makan?" tanya Daffa dari samping mengejutkan Amel.


"Hmm iya mas. Aku cuma lagi PMS aja sih. Semuanya, sepertinya aku harus segera balik ke rumah mama dan papa aku deh, aku pamit dulu ya?" kata Amel seraya berdiri.


Mama Linda bergegas berdiri kemudian memeluk Amel.


"Makasih ya karena kamu udah mau menginap dirumah mama tadi malam, anggap aja sebagai awal dari kamu beradaptasi tinggal dirumah mama, setelah kamu menikah dengan Daffa nanti kan kamu bakalan tinggal dirumah mama juga,"


Kemudian mama Linda melepas pelukannya dengan Amel.


"Terserah kamu sayang mau tinggal dimana, yang paling penting buat mama adalah kebahagiaan kamu dan juga kebahagiaannya Daffa,"


"Iih, mama Linda benar-benar udah berubah! Aku jadi tambah kurang semangat deh menjalani pernikahan dengan mas Daffa. Kesempatan aku buat memiliki mas Alzam seutuhnya jadi makin kecil kan," Amel membatin gelisah.


"Daffa, kamu antar Amel pulang kerumahnya ya nak?" titah mama Linda lembut.


"Baik ma," jawab Daffa.

__ADS_1


Sungguh sebuah kejutan bagi Adiva karena hari ini menjadi hari perdamaian antara dirinya dan ibu mertua. Adiva berharap semoga keindahan ini akan selalu terjadi, hubungan kekeluargaan yang akan selalu terjalin dengan harmonis, hangat, dan juga penuh dengan cinta kasih sayang.


Setelah selesai sarapan, Alzam dan Adiva akan kembali ke rutinitas mereka masing-masing. Yaitu, Alzam kembali bekerja di perusahaan dan Adiva kembali melanjutkan hari-harinya berkuliah, menuntut ilmu untuk bekal masa depan.


Alzam dan Adiva berangkat bersama, seperti biasanya, Alzam terlebih dulu mengantarkan Adiva ke kampusnya sebelum berangkat juga ke kantornya. Didalam mobil mereka asyik mengobrol dan juga membahas perubahan mama Linda yang menuju kearah lebih baik.


"Aku senang deh mas rasanya, hidup aku udah mulai bahagia, aku jadi makin semangat sih dalam menjalani hari-hari aku. Semoga mama itu benar-benar udah berubah jadi lebih baik ya."


"Sebenarnya mama selama ini juga baik kok. Baik sama almarhumah kakak kamu, baik sama anak-anaknya, baik juga sama semua pegawai dan pembantunya. Mungkin pikiran mama kemarin hanya sedang kalut saja dan menjadikan kita sebagai objek kemarahannya."


Membahas perbuatan mama Linda kepada Zahra dulu bukannya bi Sri pernah bilang kalau mama Linda dulu cuma berpura-pura baik kepada Zahra, hanya saat berada didepan Alzam saja? Kalau dibelakang mama Linda selalu membuat kakaknya menjadi sedih. Adiva jadi belum sepenuhnya percaya kalau mama mertuanya sudah berubah.


"Diary itu? Aku harus bertanya soal dimana kunci laci bawah yang waktu itu belum aku temukan. Aku harus segera bertanya kepada mas Alzam sekarang," ucap Adiva dengan nada terburu-buru didalam hatinya.


"Mas, aku ingin bertanya sesuatu?"


"Bertanya apa sayang?"


"Apa kamu tahu dimana letak diary yang dulu selalu menjadi tempat kakak aku menulis mencurahkan perasannya?"


"Hmm, memangnya Zahra dulu suka menulis di buku diary ya? Setahu saya sih tidak."


"Aduh, kamu ini bagaimana sih mas? Aku adiknya aja tahu, bi Sri yang kemarin kasih tahu aku loh!"


"Dia bilang apa?"

__ADS_1


"Dia bilang dulu kakak aku sering menangis sewaktu kamu sibuk bekerja, tapi saat kamu pulang kerumah, dia bilang kak Zahra selalu menampakkan senyuman yang palsu, senyuman yang pura-pura bahagia."


Bersambung...


__ADS_2