
"Bibi, terimakasih ya? Bibi baik banget sama aku? Bibi selalu memperhatikan aku, merawat aku kalau lagi sakit seperti ini. Kenapa sih bibi bisa sebaik ini sama aku? Aku jadi terharu deh. Awalnya aku kira, bibi bakalan jahat atau tidak menyukai aku. Dibalik sikap ke misteriusan yang ditunjukkan oleh bibi. Bibi ternyata.., oh bibi, I miss you?" tutur Adiva manja sekali lalu memeluk bi Sri. Bi Sri membalas pelukan dari Adiva dengan manja nan lembut juga.
"Aku ingin menganggap bibi seperti ibuku sendiri boleh?"
"Boleh banget. Bibi sebenarnya ingin baik kepada siapapun nyonya. Sumpah, bibi juga waktu itu ingin memperjuangkan kebahagiaan almarhumah nyonya Zahra disini karena nyonya Zahra juga berhak bahagia. Tapi bibi nggak punya kuasa untuk melakukan itu. Kalau bibi buka suara terang-terangan, bukan cuma resiko dipecat, tapi bibi sekeluarga juga diancam akan disakitin oleh orang-orang suruhan nyonya Linda. Bibi nggak mau itu terjadi, jangan sampai orang-orang terdekat kesayangan bibi terkena imbasnya." tutur bi Sri dengan wajah yang sangat sedih.
Lalu mereka berdua saling melepas pelukan. Adiva juga sudah tahu bahkan mendengar dengan telinga sendiri kalau mama Linda bilang pernah menyakiti kakaknya, tadi waktu sedang ngobrol bareng menantu yang dianak emaskan itu.
"Aku udah yakin sekarang sih bi, kalau dulu mama Linda pernah membuat hari-hari almarhumah kakak aku menjadi seperti di neraka dunia. Sungguh tega dia! Tadi, aku sempat ingin mencari diary itu didalam kamarnya, tapi belum usai mencari dia sudah datang kedalam kamarnya. Aku ngumpet dibawah ranjang dan hampir saja ketahuan sama mertua jahat itu. Dimana sih letak diary itu? Aku penasaran banget. Aku ingin mendapatkannya dan membuktikan ke semua orang kalau mama mertua aku itu JAHAT banget!"
"Yang pasti bibi yakin diary itu sudah disembunyikan di tempat yang aman. Tapi beberapa waktu lalu bibi juga melihat nyonya mau membakar diary itu di belakang rumah. Untung bibi lekas mencari ide buat menggagalkan niat nyonya membakar diary itu."
Adiva menunduk sejenak, betapa geram hatinya karena kakaknya yang lemah, lembut, dan baik hati itu pernah diperlakukan dengan tidak baik oleh mama mertuanya. Adiva ingin sekali membaca curhatan-curhatan kakaknya yang tertulis dalam diary itu. Kemiskinan menjadi dasar penderitaan mereka berdua. Adiva menjadi semakin terpecut dan bersemangat untuk mengejar mimpi-mimpinya. Dirinya tidak ingin diinjak terus menerus. Dirinya bukan sampah yang bisa seenaknya diinjak orang.
Beberapa saat kemudian, bi Sri kembali dengan kesibukannya didapur tugasnya sebagai seorang juru masak pribadi nyonya Linda. Adiva sendiri sedang tiduran santai diatas kasur lalu karena bosan Adiva membuka layar ponselnya. Adiva ingin mengecek sekarang udah pukul berapa. Waktu ternyata sudah menunjukkan pukul tujuh malam lebih dan sebentar lagi, suami tercintanya akan sampai dari kerjanya yang padat jadwal.
Adiva teringat suatu perkataan lembut waktu itu kalau suaminya ingin dirinya selalu terlihat didepan rumah menunggunya pulang. Disambut dengan manja dan mesra oleh istri tercintanya. Adiva buru-buru bangkit, Adiva bisa, lagian rasa linu akibat luka lebamnya perlahan mulai berkurang setelah dikompres dan minum obat pereda nyeri tadi. Adiva melangkah keluar lalu berdiri menunggu didepan rumah, menunggu suaminya tersayang pulang dari kantor. Sesekali Adiva menggosok tangannya karena malam ini hawa udara sangat dingin.
__ADS_1
Cahaya mobil terlihat melintas mulai memasuki area gerbang. Adiva lah yang membuka gerbang karena sang satpam sedang dirawat di rumah sakit akibat dihajar preman-preman jahat tadi sore. Alzam memasukkan mobilnya kedalam garasi lalu berjalan cepat menghampiri istrinya yang berdiri disamping sebuah tumbuhan indah.
"Sayang, kenapa kamu yang membuka gerbang? Oh iya, gimana keadaan kalian? Baik-baik aja kan? Mama bilang tadi di telepon ada preman yang mengacau disini."
"Aku baik-baik aja kok. Tenang, semua preman udah aku libas semua sayang. "
Alzam memperhatikan dengan seksama luka lebam diwajah Adiva.
"Pasti lebam-lebam ini adalah akibat dari perkelahian kamu melawan preman itu kan? Sayang, aku salut sama kamu. Kamu hebat, kamu melindungi keluarga kita saat aku sedang sibuk bekerja tadi. Maafin aku aku tidak bisa meninggalkan urusan kantor bukan karena aku tidak peduli dengan kalian. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaan yang sangat penting tadi. Meeting terus sama klien-klien yang sangat penting dan tidak bisa ditunda. Tapi next time aku akan menguatkan keamanan di rumah kita. Sepuluh bodyguard akan menjaga di sekeliling rumah. Mereka akan menghalau siapa saja yang berani mengacau disini."
"Kamu betul. Sejujurnya mas juga nggak bisa berantem yang hebat, kuat, atau tangkas. Mas belum pernah belajar ilmu beladiri. Malu-maluin banget ya suamimu ini sayang? Kamu malu pasti punya suami kaya aku?"
"Iya nih malu-maluin banget kamu mas."
Perkataan Adiva membuat Alzam merasa malu
"Aku malu punya suami yang hebat kaya kamu mas? Aku malu, ngerasa nggak pantes buat bersanding sama kamu..."
__ADS_1
"Hah, hebat? Kamu ga boleh kaya gitu sayang. Kamulah yang hebat, kan mas nggak terlalu bisa berantem?"
"Bagi aku kamu hebat. Bisa berantem aja nggak cukup kalau orang itu nggak sayang sama pasangannya, nggak bekerja keras buat menafkahi pasangannya. Buat apa sih jago berantem tapi sukanya kumpul-kumpul nongkrong, ngerokok dan mabokan nggak jelas. Pengangguran yang sukanya bermalas-malasan. Buat apa fisik kuat, tapi akal lemah! Aku yakin kamu akan punya itu semua, suami idaman, serba bisa, dan jago berantem. Kamu mau belajar ilmu beladiri mas, yuk?"
"Mau. Kalau waktu luang. Aku sibuk banget sayang, mengurus banyak urusan perusahaan. Tahu kan kalau Daffa belum bisa diandelin."
"Gimana kalau hari libur nanti, hari weekend kamu latihan beladiri sama aku? Aku yang ajarin kamu latihan beladiri mau gak mas ? Ya kalau kamu gak malu sih."
Alzam terkekeh sejenak, diajari beladiri oleh istrinya sendiri kenapa tidak. Ngapain harus malu malah senang dong. Dan diam-diam Amel sedang cemberut memperhatikan obrolan seru mereka berdua dari atas balkon. Amel tampak kepanasan, terbakar api cemburu. Amel mengepalkan kedua tangannya, ingin memukul atau menambah lebam diwajah Adiva rasanya.
"Kenapa harus kamu yang dapatin mas Alzam-ku Adiva! Kamu itu tidak pantas menjadi istri dari seorang laki-laki yang sempurna seperti my Alzam. Aku nggak bisa gini lama-lama! Aku nggak kuat melihat laki-laki yang aku suka semakin mesra dengan kamu Adiva! Cih, lihat aja besok! Apa yang akan aku lakukan sama kamu! Kamu akan semakin sengsara disini! Cuma aku yang berhak untuk memiliki mas Alzam."
Alzam dan Adiva berpelukan mesra semakin membuat Amel kepanasan dan bergegas masuk kedalam kamarnya. Sebelum masuk kamar, Amel mengibaskan rambutnya terlebih dulu. Sangat tidak nyaman melihat romantisme antara Alzam dan Adiva.
"Cih, mending bobo aja ah." gumam Amel pelan.
Bersambung...
__ADS_1