
"Itu mama mertua kamu kan beb? Sampai sekarang dia belum tertangkap? Ya ampun, serem banget sih. Semoga dia segera ketangkep deh," ucap Lisa seraya menatap serius ke layar televisi.
Adiva mengangguk lalu membalas perkataan Lisa.
"Iya beb. Gara-gara mama Linda kabur dan menjadi buronan aku jadi pergi kesini buat mengamankan diriku dan anakku."
"Oh jadi kamu dateng kesini bukan karena mau liburan beb? Tapi kamu sedang mengamankan diri kamu dan anak kamu?"
Adiva mengangguk lagi. Tapi Lisa jadi terlihat tidak enak hati karena udah ikutan kesini. Lisa melirik kearah Bandi yang sedang duduk diatas kursi. Bandi juga melirik kearahnya sembari menaikkan salah satu alisnya.
"Duh, aku jadi gak enak sama kamu beb udah ikutan kamu kesini. Aku belum tahu kalau niat kamu kesini tuh ternyata sedang mengamankan diri kamu dan anak kamu. Aku jadi ngerasa ngrepotin beb, ngerasa kehadiran aku ini cuma mengganggu saja. Aku minta maaf ya beb?"
"Lisa, kamu nggak perlu minta maaf beb. Justru dengan ikutnya kamu kesini aku jadi merasa tidak kesepian. Ada sahabat aku juga yang ikut menemani aku disini."
Lantas mereka berdua berpelukan didepan televisi, ketika Lisa mendapat jawaban dari Adiva bahwa Adiva tidak mempermasalahkan dia ikut, Lisa pun jadi merasa lega.
Diluar kabin, mama Linda sedang meringkuk kedinginan di teras belakang kabin. Cuma disini tempat yang nyaman untuk mengistirahatkan badan. Diluar sana didalam hutan jelas tidak nyaman. Apalagi kalau hujan turun. Tapi disisi lain mama Linda berpikir takut ada CCTV yang menangkap keberadaannya di sekitar sini.
Mama Linda tidak mau ambil resiko secepat itu ketahuan, mama Linda bangkit lalu memutuskan untuk pergi dari belakang kabin itu. Mama Linda kembali masuk kedalam hutan sembari membawa perbekalan makanan yang tadi siang ia curi dari ruang tempat penyimpanan bahan makanan di dalam kabin.
Mama Linda memutuskan untuk beristirahat dibawah pohon besar saja karena di sekitar sini tidak ada sebuah goa yang bisa ia jadikan sebagai tempatnya untuk beristirahat sejenak. Mama Linda mengambil sebungkus mie instan, perutnya terasa lapar. Sebenarnya mama Linda ingin merebus mie ini tapi apalah daya tidak ada air panas buat merebus mie ini.
Mama Linda pun memakan mentah saja mencampurnya dengan bumbu-bumbu dari mie ini. Yang penting baginya adalah perutnya terisi sehingga tubuhnya tidak akan terasa lemas. Esok pagi mama Linda akan mulai mengatur rencana baru membuat kekacauan di dalam kabin itu.
Hingga malam pun semakin larut. Mama Linda meringkuk kedinginan dibawah pohon besar itu. Sesekali mama Linda terbangun mendengar suara kelelawar yang terbang dan juga suara auman serigala. Mama Linda benar-benar merasa ketakutan berada di dalam hutan sendirian.
Mama Linda tidak pernah terbayang akan mengalami hal pahit seperti ini di dalam hidupnya. Mama Linda ditengah gelapnya gulita, heningnya hutan, dan dinginnya udara, semakin bertekad kuat buat menghabisi nyawa Adiva.
"Awas kamu menantu sialan!" ucap mama Linda sembari menggigil kedinginan.
__ADS_1
Keesokan harinya matahari pagi kembali datang, menyapa para penghuni kabin yang membutuhkan kehangatan setelah semalam kedinginan. Lisa sedang melihat Bandi yang sedang push up di belakang kabin dari atas balkon.
Lisa tampak menyukai otot-otot Bandi yang besar itu. Kemudian, Lisa menyusul Bandi ke belakang kabin. Lisa menghampiri Bandi membawakannya sepiring roti tawar bakar untuk Bandi.
"Bang bodyguard?" panggil Lisa dengan nada manja.
Bandi yang masih sibuk push up tidak peduli dengan kehadiran siapa perempuan yang datang.
"Kok diam aja sih bang ganteng? Masih jengkel ya sama aku?" tanya Lisa dengan nada bicara merayu.
Bandi menghentikan push up di angka ke seratus. Lisa sangat kagum dengan angka push up yang berhenti di angka seratus tanpa Bandi melakukan jeda sekalipun. Lisa memang sudah mengamatinya sedari awal Bandi melakukan push up dan Bandi juga menghitungnya lewat suara.
"Gak keram ya itu otot, push up seratus kali tanpa jeda sekalipun?"
Bandi masih diam saja dan menatap cuek kearah Lisa. Memang Bandi adalah tipikal cowok yang suka bersikap dingin dan cuekan. Tapi Lisa tidak akan menyerah. Lisa bertekad kuat membuat bodyguard berwajah tampan ini bertekuk lutut dihadapannya.
Bandi duduk diatas rumput meminum sebotol air mineral yang menyegarkan. Lagi-lagi dari balik pohon ada seseorang yang sedang mengamati suasana di sekitar kabin. Mama Linda sedang mengamati Bandi dan Lisa yang sedang berduaan di belakang kabin.
"Yakin nih gak mau makan roti tawar bakar selai madu ini? Rasanya enak loh,"
"Gak, gua lagi diet." jawab Bandi ketus.
"Hah, diet? Badan udah bagus gitu masih diet?"
"Berisik lu Lisa, lu gak ada kerjaan lain kah selain ngrecokin gua?"
"Kok sewot sih, kan niat gue baik bikinin sarapan buat lo, harusnya lo seneng dong bukan jutek kek gini. Ayo dimakan, hargai usaha gue?"
Bandi pun mengambil satu potong roti tawar bakar yang sudah dibuatkan oleh Lisa untuknya, demi menghargai Lisa. Setelah mencicipinya, ternyata rasanya enak juga. Makan satu aja pun rasanya tidak cukup. Dan diatas piring ada tiga potong roti tawar selai madu yang dibuat dengan sepenuh hati oleh Lisa untuk Bandi.
__ADS_1
"Gimana rasanya?" tanya Lisa dengan wajah penasaran.
"Ya enak, kaya roti tawar bakar pada umumnya lah,"
"Yakin gak mau ngambil lagi?" tawar Lisa menggoda.
Bandi sebenarnya tidak puas kalau hanya makan satu potong saja, meskipun awalnya gengsi, tapi pada akhirnya Bandi mengambil satu potong roti tawar bakar buatan Lisa lagi. Dari balik pohon mama Linda menelan ludah melihat Bandi yang tengah menikmati roti itu.
"Jangan dihabisin dong," harap mama Linda.
Tersisa hanya sepotong roti saja diatas piring yang disuguhkan oleh Lisa.
"Masih ada satu lagi nih? Yakin gak mau ambil lagi?"
"Yakin, gua udah kenyang. Makasih atas rotinya,"
"Sama-sama bang."
Mama Linda merasa senang karena Bandi tidak menghabiskan semua rotinya, itu artinya dirinya ada kesempatan buat mengambil roti bakar yang lezat itu. Tapi ternyata roti tawar bakar itu malah dimakan sama Lisa sisanya.
"Sialan! Malah dimakan lagi!" geram mama Linda di dalam hatinya sembari memukul pelan pohon didekatnya.
"Masakan buatanku rasanya emang gak pernah ngecewain. Gue yakin laki-laki yang jadi suami gue nanti, dia bakalan senang karena punya istri yang jago masak seperti gue ini," ucap Lisa dengan pedenya.
Bandi terkekeh geli.
"Pede amat lu,"
Tiba-tiba saat Lisa menatap kearah hutan, Lisa melihat ada jari-jari kaki mama Linda yang terlihat didekat akar pohon.
__ADS_1
Bersambung...