
"Emm... Mama sekarang semakin perhatian ya sama kakak ipar? " sahut Daffa secara tiba-tiba.
"Ya iya dong, dia kan menantu mama. Sudah seharusnya seorang mertua sayang sama menantunya, sudah seperti keluarga! Saling menjaga satu sama lain." tukas mama Linda seraya mengambil selai nanas.
"Aku suka melihat kehangatan keluarga kita seperti ini. Memang sudah seharusnya kan keluarga itu harus saling kompak? Keluarga adalah harta yang paling berharga. Jadi buat apa kita sedih walau ga ada harta sekalipun, selama kita masih punya keluarga? Betul kan ma? " sahut Alzam.
"Mama tidak setuju, harta benda tetap yang paling utama nak. Kalau kita nggak punya uang, kita hanya akan dipandang sebelah mata. Kita akan berobat pun akan kesulitan mencari uang kalau kita sakit. Kita tidak bisa makan dan punya tempat tinggal yang layak. Pakai logika saja ya nak?" kata mama Linda tidak setuju, memang harta adalah nomor satu dalam hidupnya.
"Bagi Alzam tidak ada salahnya kita hidup miskin, selama tidak berbuat jahat kepada orang lain. Dan tetap semua orang harus berjuang, berusaha buat mengejar harta, supaya mendapatkan kehidupan yang layak di dunia ini."
Usai sarapan, semua orang muda akan pergi menuju ke tempat aktifitas mereka masing-masing pada hari ini. Alzam ke kantor, Daffa kuliah, Adiva juga kuliah. Adiva baru ingat kalau semalam dirinya belum jadi membuka laci nomor lima itu.
"Mas, semalam aku lupa belum cek isi laci nomor lima?"
"Nanti malam kita cek ya, mas juga penasaran sama isi dari laci itu kalau benar ada diary almarhumah istriku disana. Penasaran juga ingin membaca diary Zahra,"
"Tujuan utama kita adalah mencari tahu apa benar yang dikatakan oleh bi Sri atau tidak, kalau memang itu benar adanya, kasihan banget kakak aku mas,"
Dan malam pun tiba, bulan purnama bersinar cukup terang. Suasana langit malam cukup bercahaya karena sinar bulan itu. Alzam dan Adiva sudah memegang kunci itu dan bersiap akan membuka laci nomor lima.
Alzam mulai memutar kunci itu dan laci pun terbuka. Mereka berdua mencari-cari diary Zahra tapi tidak ketemu, karena sebenarnya diary sudah diambil oleh si mertua jahat. Dengan pura-pura ketidaktahuannya mama Linda masuk kedalam kamar mereka.
"Kalian lagi mencari apa bongkar-bongkar laci?" tanya sang mama jahat.
"Ini ma, kita lagi mencari diary yang dulu Zahra menulis tentang hari-harinya, apa mama tahu soal itu?" tanya Alzam.
Mama Linda menggeleng
__ADS_1
"Mama tidak tahu! Mama tidak pernah melihat Zahra menulis di buku diary tuh,"
"Tapi bi Sri yang bilang sama Adiva ma kalau Zahra dulu suka menuliskan kesedihannya dalam sebuah diary," lanjut Alzam.
"Tapi mama nggak pernah lihat dan memangnya Zahra suka sedih ya dulu? Aneh deh si bi Sri itu, jangan-jangan dia mau mengadu domba keluarga kita? Dia mau menghancurkan keluarga kita?"
"Aku nggak tahu lah mam, yang jelas aku sama Adiva buka laci ini tujuannya ya mencari dimana diary milik Zahra?"
"Sudahlah lupakan! Jangan sibuk-sibuk mencari diary yang nggak jelas. Pasti diary itu cuma karangan cerita pembantu sialan itu! Besok mama akan pecat pembantu kurang ajar itu!"
Keesokan harinya saat pagi buta, mama Linda menyeret bi Sri beserta kopernya hingga kedepan rumah. Mama Linda mendorong bi Sri sampai tersungkur di lantai depan rumah. Lalu dengan kejam mama Linda menginjak-injak jari jemari bi Sri yang biasa ia gunakan untuk membuatkan makanan lezat.
"Hiks, ampun nyonya, apa salah saya sehingga nyonya memecat dan mengusir saya? Sakit nyonya!" isak bi Sri.
Dari belakang Alzam dan Adiva tengah berlari, mereka sangat terkejut.
Adiva tampak panik juga lalu membantu bi Sri berdiri.
"Ini cuma salah paham, bibi nggak mungkin mengadu domba kita kan?" tanya Adiva dari samping bi Sri.
Bi Sri menggeleng sembari terisak
"Tidak non, bibi hanya berkata yang sebenarnya kalau bibi sering melihat non Zahra dulu menulis sembari menangis di diarynya." jawab bi Sri berkata jujur.
"Halah, bohong kamu!" teriak mama Linda lalu menjambak rambut bi Sri dengan kasar. Kepala bi Sri sampai terpontang panting karena jambakan kasar dari ibu-ibu jahat itu.
Alzam berusaha melerai dan memegangi mamanya, Alzam tidak ingin mamanya terus menyiksa pembantu yang baik itu.
__ADS_1
"Adiva, bawa bi Sri masuk kedalam. Dia tidak akan dipecat, biar aku yang menenangkan mama. Aku yakin bi Sri adalah orang yang baik."
"Baik mas,"
Adiva membawa bi Sri masuk kedalam rumah, saat berjalan masuk, bi Sri sekali melirik kearah nyonyanya, nyonya Linda. Bi Sri tampak membenci majikan kasarnya itu. Bi Sri tahu semua rahasia jahat nyonya Linda yang selama ini ia juga tutupi karena diancam.
"Kenapa kamu biarkan dia masuk kedalam Alzam! Dia itu orang yang licik, dia ingin keluarga kita hancur!" gertak mama Linda dalam dekapan Alzam.
"Tidak ma! Mama jangan fitnah bi Sri!"
"Lepasin mama! Kenapa kamu lebih membela pembantu daripada mama sih, mama kamu!" kesal mama Linda sembari mendorong Alzam ke belakang.
"Mama kecewa sama kamu! Mama nggak habis pikir kenapa kamu selalu saja membuat mama sedih, membuat mama marah! Kalau kamu gini terus, lebih baik bunuhlah saja mamamu ini! Daripada mama terus hidup dan dibuat kesal dengan sikap kamu itu!"
"PLAAAAK!"
Untuk yang pertama kalinya, ketika seorang anak menampar ibunya sendiri karena emosi yang sedang tidak terkontrol. Alzam sangat terkejut dengan dirinya sendiri, tangannya sudah pernah ia gunakan untuk menampar ibu?
"Astaghfirullah," ucap Alzam didalam hatinya.
Mama Linda tampak tidak percaya akan apa yang dilakukan oleh Alzam.
"Alzam? Apa yang kamu lakukan nak! Kamu tega menampar orang yang sudah mengandungmu? Yang sudah melahirkanmu dengan susah payah?"
"Itu saja alasan mama, itu sudah kodrat seorang wanita. Tapi sampai kapanpun Alzam akan selalu sayang sama mama, tapi tidak begini caranya? Mama menyuruh aku untuk membunuhmu? Dimana hati mama ngomong gitu? Makannya Alzam menampar mama buat menyadarkan mama. Sepertinya mama membutuhkan seorang guru spiritual biar hati mama jadi adem, dan ga dikuasi oleh sifat setan seperti itu!"
"Alzam! Kamu ngomong gitu sama mama! Sungguh kamu sekarang anak yang durhaka! Mama kecewa sama kamu! Daffa jauh lebih baik daripada kamu dan neraka adalah tempat yang sangat pantas untuk anak durhaka seperti kamu!"
__ADS_1
Alzam bersedih karena mamanya tidak juga berubah. Nasih saja suka marah-marah bahkan tega mengutuk anaknya sendiri. Padahal dirinya sendiri inginkan yang terbaik untuk ibunya.