MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Mama Mertua Yang Masih Berkeliaran


__ADS_3

Burung-burung kecil berkicau diatas pepohonan, di pagi hari yang cerah dan menyegarkan nafas ini. Embun-embun berbaris dengan indah di dedaunan hijau. Pagi selalu mengerti bahwa pagi adalah obat yang cukup manjur buat menumbuhkan semangat para manusia dalam menghadapi aktifitasnya di hari ini.


"Tataplah mataku kedepan, jangan pernah sekalipun menoleh ke belakang. Aku tidak mau lagi menatap ke belakang. Menatap ke belakang hanya akan membuat diriku menjadi terbelakang. Aku harus selalu menjaga mood dan mentalku. Dari dulu aku tercipta bukan untuk menjadi orang lemah kok. Saatnya untuk bangkit dari rasa traumaku. Aku ingin kembali menjadi Adiva yang dulu. Adiva yang cuek, yang rada tomboy, yang pemberani, yang jago berkelahi," tulis Adiva di sebuah buku kecil yang dinamakan dengan diaryku.


Diary bersampul pink menjadi tempat Adiva menuliskan segala cerita hidupnya. Sekarang Adiva jadi mirip kakaknya yang dulu suka sekali menuliskan kisah hidupnya dalam sebuah diary kecil.


"Setelah ini giliran aku bikin sarapan pagi buat suami tercinta. Ayam bumbu kuning dan tumis jamur tiram untuknya." ujar Adiva sembari meletakkan diaryku diatas meja.


Adiva melangkah keluar kamar, disaat yang bersamaan Alzam juga keluar dari dalam kamar mandi pribadi di dalam kamar. Alzam masih memakai handuk yang hanya menutupi area bawah pusar sampai dengkul.


Alzam menetra sebuah buku kecil yang ada diatas meja kecil dalam kamar ini. Alzam membaca isi-isi dari buku itu, adalah kisah hidup Adiva yang Adiva tuangkan semuanya disini. Membaca tulisan Adiva yang mau bangkit dari rasa traumanya, membuat Alzam tersenyum bangga melihat semangat dari istrinya itu.


Adiva bukanlah orang yang mau terus menerus hidup dalam ketakutan atau ketidaknyamanan. Setelah memakai kaos dan celana jeans mahal, Alzam berjalan masuk kedalam kamar bayi kecilnya, Wildan Pradipta. Dia adalah calon penerus perusahaan di masa depan nanti.


Sebagai seorang papa muda idaman, Alzam menggendong bayi kecilnya yang tampan dan sedang tertawa kecil diatas ranjang kecilnya. Bayi itu tampak ceria saat sang ayah datang buat menggendongnya. Alzam mengecup lembut pipi Wildan. Alzam sangat menyayangi dan ingin selalu menjaga baby Wildan dengan segenap kekuatannya.


Adiva datang dari belakang Alzam, Adiva berdiri di dekat pintu sembari tersenyum manis untuk suaminya.


"Selamat pagi suamiku?" sapa Adiva mengejutkan Alzam.


Alzam berbalik badan lalu melangkah lembut kearah istrinya,


"Selamat pagi juga istriku. Pagi ini aku ingin sekali pipiku dicium sama istri." titah Alzam seraya mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya.


Tapi Adiva malah mencium Alzam menggunakan genggaman tangannya diselingi tawa kecil yang manja. Adiva menonjok pelan wajah suaminya.

__ADS_1


"Kamu ini mas pagi-pagi udah minta cium, mendingan aku ciumin baby Wildan aja sih lebih manis, unch bayiku tersayang," tukas Adiva seraya menciumi gemas baby Wildan yang terus tertawa dengan cerianya.


Alzam hanya tersenyum kecil melihat tingkah istrinya. Senang karena vibes dari seorang Adiva telah kembali. Adiva yang agak bar bar dan pemberani itu, dia telah kembali.


"Aku lebih senang melihat kamu seperti ini sayang, daripada melihat kamu terus hidup dalam rasa traumamu. Akhirnya kamu mau bangkit dan bersemangat lagi," ucap Alzam seraya memandang Adiva dengan tatapan lembut dan kagum.


Adiva berhenti menciumi baby W kemudian membalas tatapan lembut Alzam dengan tatapan lembutnya Adiva selama beberapa detik. Adiva kemudian mengecup manis pipi Alzam. Sebuah sentuhan hangat di pagi hari yang cerah ini. Kupu-kupu tampak berterbangan diantara bunga-bunga. Mereka semua bahagia menikmati alam yang bersahabat, alam yang cerah, alam yang menyegarkan di pagi ini.


Kemudian mereka berkumpul berdua di meja makan setelah selesai bermain-main bersama baby Wildan. Adiva mengambilkan dua centong nasi dan satu potong paha ayam bumbu kuning untuk Alzam. Alzam memperhatikan perhatian yang diberikan oleh istrinya dengan senyuman yang tampan dan hatinya yang bahagia.


"Mari makan suamiku?" ucap Adiva seraya menatap syahdu kearah suaminya.


"Selamat makan juga istriku. Hari ini kita pergi ke rumah Daffa ya? Kita silaturahmi kesana,"


Singkat waktu mereka berdua sudah berdiri di depan pintu rumah megah Daffa dan Amel. Di tangan, Alzam membawa sebuah tas besar berisi makanan-makanan yang enak. Bertamu ke rumah orang lain alangkah baiknya membawa buah tangan juga biar seimbang dengan tuan rumah yang juga menyediakan makanan dan minum untuk tamu.


"Assalamualaikum? Selamat pagi?" ucap Alzam sembari mengetuk pintu.


Amel membuka pintu depan rumah lalu menyambut mereka dengan keceriaan seorang tuan rumah yang menyambut tamu mereka datang.


"Waalaikumsalam, eh ada kalian? Ada apa ya kalian kesini?" tanya Amel dengan gaya senang melihat kedatangan mereka. Senyumnya merekah, tatapannya bergairah.


"Mau silaturahmi, oh iya, suami kamu ada di rumah kan?" tanya Alzam balik.


Amel mengangguk lalu mempersilahkan Alzam dan Adiva untuk masuk kedalam. Alzam dan Adiva mengikuti langkah Amel masuk kedalam rumah, kemudian, Amel memanggil sang suami untuk turun kebawah.

__ADS_1


"Mas, mas, ada saudara kamu!?" teriak Amel memanggil Daffa dari ruang tamu.


Tak berselang lama terdengar suara langkah sepatu cepat yang sedang menuruni anak tangga. Daffa tersenyum sumringah melihat siapa yang datang. Alzam sang kakak yang baik bergegas bangkit lalu tos kepalan tangan ala laki-laki bareng Daffa.


Lalu mereka bertiga duduk bersama diatas sofa ruang tamu. Sesekali menyempatkan silaturahmi ke rumah saudara adalah hal yang bagus. Tapi Amel malah kembali lagi kedalam kamarnya. Amel seperti ogah-ogahan melayani atau menemui tamu mereka hari ini. Padahal tamu yang datang bukan orang asing, melainkan keluarga sendiri.


"Aku kembali ke kamar ya mas?" tandas Amel sembari merapikan rambutnya.


Daffa hanya mengangguk saja meski hatinya kecewa melihat sikap Amel yang masih saja seperti itu. Sampai kapan sih istrinya akan bersikap seperti itu? Rasa tidak enakan ini kepada sang kakak kandung dan kakak ipar sungguh membuatnya tidak nyaman.


"Oh iya kalian bawa apa itu?" tanya Daffa berbasa-basi membuka obrolan.


Adiva mengambil tas yang dibawa oleh Alzam kemudian meletakkannya diatas meja ruangan tamu. Adiva mengambil isinya lalu menunjukkan satu persatu isinya dengan meletakan diatas meja.


"Biasa, kita selalu membudayakan membawa makanan saat kita bertamu ke rumah siapapun. Ini isinya kue dan buah kok, bukan makanan mewah, hehehe." jawab Adiva sembari melihat perabotan-perabotan mewah yang ada di dalam ruang tamu rumah Daffa.


Daffa terkekeh sebentar kemudian wajahnya berubah menjadi murung.


"Kenapa tiba-tiba murung kamu Daf? Kamu lagi mikirin apa? Istri kamu bikin masalah lagi?" tanya Alzam dengan tatapan serius.


Dia begitu sayang kepada adiknya meski tak jarang juga ia suka memukul adiknya. Tapi itu semata-mata ia tunjukkan karena rasa sayangnya yang begitu besar kepada sang adik. Alzam sangat kecewa jika Daffa atau dirinya sendiri melakukan kesalahan yang fatal.


"Ini soal mama kak. Mama sedang berkeliaran di luar sana. Dan yang aku tahu, dia menyimpan dendam sama Amel, gara-gara Amel tidak mau diajak menjenguk mama di penjara dan juga membeli rumah mewah ini dengan uang mama. Pasti mama sedang mengincar istriku untuk dicelakai," jawab Daffa risau, sembari menatap kearah jendela kaca besar. Membayangkan sang mama sedang melirik sinis dari luar jendela kaca, sembari membawa benda berbahaya buat menghabisi nyawa mereka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2