
"Kenapa kamu gagal membunuhnya!" ketik mama Linda. Mama Linda sedang mengirim chat kepada pembunuh bayaran itu.
"Maaf bos, dia punya kekuatan berlari yang cepat sekali. Saya kemarin juga di serang sama dia bos dan dia jago dalam usaha melarikan dirinya."
"Memang menantu yang tak saya harapkan itu bukan orang sembarangan. Dia kuat dan nggak menye-menye seperti mendiang kakaknya. Saya berharap percobaan selanjutnya nggak boleh gagal lagi. Kalau sampai gagal lagi, kamu sendiri yang akan saya kirimkan ke neraka!"
"Kenapa nggak bos saja yang melakukan percobaan pembunuhan. Misalnya dengan memberikan racun dalam makanannya? Pakai cara yang halus saja bos."
"Bodoh! Kalau saya pakai cara saya sendiri, saya ga perlu buang uang buat bayar kamu! Saya tidak mau melakukan percobaan pembunuhan dengan memakai racun. Saya takut ketahuan polisi dan saya mengandalkan kamu saja, oke?"
"Yaudah kalau gitu bos. Lusa saya akan melakukan percobaan pembunuhan lagi, kepadanya. Sekarang saya mau beristirahat dulu, sepertinya saya kena masuk angin nih karena hujan-hujanan, hatcim."
"Yaelah, bersin pakai kamu ketik segala, lebay deh."
***
Keadaan pepohonan, tanah, dan jalanan di komplek tempat tinggal Adiva masih begitu lembab dan basah. Itu semua terjadi setelah hujan badai turun dengan durasi yang tidak sebentar tadi. Genangan air juga ada dimana-mana.
Saat ini adalah malam dan malam yang selalu memberikan kesan yang menyeramkan bagi manusia.
Dapatkan manusia menaklukan kesan mengerikan soal malam itu? Pasti dapat. Pasti ada yang berani menerjang gelap dan misterinya malam.
Tidak sedikit orang yang takut keluar saat malam, karena mereka punya mindset, biasanya hantu akan menampakkan dirinya pada malam hari. Dan biasanya orang-orang jahat lebih leluasa melakukan aksi kejahatannya pada malam hari.
Namun itu terjadi pada tempat dengan penerangan yang alakadarnya. Tempat yang sunyi, seperti area sepi atau pedesaan yang sangat sunyi.
Di kota ini, malam ini, masih banyak orang yang beraktifitas diluaran. Semua tempat mendapat penerangan lampu yang membuat malam tidak terlalu jomplang dengan keadaan siang.
Adiva melangkah menyusuri tepian jalan, memakai jaket berwarna coklat dengan tudung jaket yang berwarna hitam. Ia bingung menilai kehidupannya sendiri. Dia sekarang sudah punya segalanya dari segi harta, bahkan dirinya juga punya dua bisnis yang sedang ia urus dengan identitas rahasia, demi membuat kejutan spesial buat keluarga mertuanya.
__ADS_1
Namun disisi lain dirinya juga merasa sengsara akibat perlakuan orang-orang jahat dirumah mertuanya. Ingin rasanya terlepas dari sangkar yang jahat ini tapi pintu sangkarnya begitu sulit untuk terbuka. Semua jadi serba sulit akibat ulah mertuanya sendiri.
"Gimana ya nasib para menantu yang dapat mertua iblis diluaran sana?" tanya Adiva dalam batinnya.
Melihat sebuah jembatan Adiva lalu berdiri disamping jembatan itu. Melihat aliran sungai yang mengalir dengan deras di bawahnya. Menatap kearah langit tidak ada bulan yang bersinar dengan bulatan sempurna.
"Seperti inilah kehidupan, selalu ada tantangan juga kesedihan. Tergantung cara kita bagaimana menyikapi itu semua. Aku ingin tinggal di tempat lain tapi itu nggak bisa. Semua serba dipersulit. Aku harus bagaimana biar mertuaku berhenti bersikap jahat?" curhat Adiva sedih sembari menatap kearah langit.
"Lagi sedih neng!" seru seorang lelaki tiba-tiba, suara itu kedengaran dari arah belakang Adiva. Adiva langsung membalikkan badannya ke belakang, ternyata itu adalah bodyguard ganteng suruhan suaminya, yaitu Bandi.
"Ngapain lo disini?"
"Gua kan dari tadi ngikutin lo pergi nyonya muda." jawab Bandi seraya berjalan menghampiri Adiva.
"Gue nggak suka diikutin, tolong jangan ikutin gue, atau lo mau macam-macam sama gue ya? Inget, gue ini istri orang. Bahkan orang yang suruh lo buat jadi bodyguard gue itu suami gue sendiri. Masa lo mau apa-apain gue sih?"
"Fiuh. Gua cuma mau jagain lo aja, lo kan pergi dari rumah, jadi harus gua jagain. Lagian gua juga ga tertarik kali sama cewek tomboy dan kerempeng seperti lo."
"24 jam nyonya muda."
"Iyuh, mau jadi robot ya?"
"Kalau jadi robot buat jagain dan dibayar kenapa nggak, hehehehe."
"Sampai kapan lo akan ngikutin gue terus? Sumpah gue malas banget dengan semua ini. Udah dirumah suasana selalu panas, diluar juga diikutin sama orang aneh mulu. Lo gak capek apa gitu terus? Gue aja capek loh tiap hari selalu begini aja."
"Itu tandanya lo belum bisa bersyukur kepada Tuhan, Adiva. Diluaran sana masih banyak orang yang lebih menderita daripada lo. Banyak yang kelaparan, rumahnya bocor kalau hujan banjir dimana-mana, belum lagi mereka selalu direndahkan sama orang-orang kaya yang sombong. Sedangkan hidup lo, lo bisa lihat sendiri kan betapa beruntungnya lo!"
"Lo nggak usah sok nasehatin gue deh bang bodyguard. Sebelumnya gue juga udah pernah diposisi itu. Saat gue kelaparan, kekurangan makanan, tinggal di rumah yang jelek dan bocor, bahkan dulu gue juga seorang petani kopi. Jadi gue pernah mengalami kehidupan yang pahit seperti itu dan buktinya, gue mau bertahan sampai sekarang kan? Tapi sekarang kehidupan gue malah makin pahit bang."
__ADS_1
"Wah benarkah itu? Buat apa kamu hidup tapi kamu nggak bisa menikmati ini semua dengan kebahagiaan? Jangan sia-siakan hidup, oke? Nggak ada kata pahit kalau kamu selalu menjalani itu semua dengan semangat. Kamu juga harus selalu bersyukur kepada Yang Diatas. Semua orang berhak bahagia Adiva."
Adiva kembali membalikkan badannya, menatap lagi ke derasnya arus di sungai yang mengalir keruh.
"Bang bodyguard, lo setuju nggak kalau gue lompat ke bawah, bunuh diri gue sendiri? Soalnya gue ngerasa kalau gue pergi dari dunia ini, semua orang akan bahagia."
"Setuju! Setuju banget nyonya muda!"
Adiva terkejut saat Bandi ternyata bilang setuju kalau ia lompat bunuh diri. Nggak habis pikir ia rela-rela aja lihat orang lain bunuh diri.
"Lo serius bang?"
"Setuju, kalau gue bukan orang yang peduli akan keselamatan lo di akhirat. Masa depan lo masih panjang nyonya, lo juga punya suami yang baik dan perhatian. Buat apa lo bunuh diri coba? Stress ya lo? Ga bersyukur banget! Malah mau masukin diri sendiri ke neraka."
Adiva manyun lalu kembali berbalik badan, menatap laki-laki peduli yang masih setia berdiri di belakangnya.
"Hmm, kayaknya gue bakalan terhibur atau bahagia kalau gue melakukan ini deh bang."
"Melakukan apa tuh nyonya muda? Buruan lakuin, asal nyonya muda bahagia."
"Serius?"
"Yeah!?"
"DORONG LO KE SUNGAI BANG!" seru Adiva lalu bercanda menarik tangan Bandi dan memojokannya ke tepi jembatan.
Wajah Bandi terlihat panik kala Adiva ingin mendorongnya jatuh, padahal itu cuma bercanda.
"Jangan gila nyonya, saya masih muda, saya belum kawin nyonya." teriak Bandi cemas.
__ADS_1
Bersambung...