
Mereka berdua saling melemparkan senyuman satu sama lain. Dulu sewaktu mereka bermusuhan, rasanya jika mereka berdamai dan menjadi sahabat itu seperti angan-angan yang takkan mungkin terwujud.
Tapi nyatanya, takdir berkata lain. Takdir mempersatukan mereka berdua dalam ikatan persahabatan yang indah.
Kemudian, ketika mereka sampai di pinggir supermarket, Lisa bergegas menepikan mobilnya sejenak buat membeli keperluan-keperluan penting didalam supermarket.
Untung dompet Lisa masih ada di saku jaketnya. Lisa mau membeli tisu basah, kemudian roti, dan beberapa botol air mineral. Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.
Mama Linda masih terkunci di dalam toilet kabin. Mama Linda terus menggedor-gedor pintu tapi tak kunjung ada orang yang datang buat mengeluarkannya.
"Awas ya kalian semua kalau saya bisa keluar, saya bersumpah akan menghabisi kalian semua!" teriak mama Linda mengancam dari dalam toilet.
Mama Linda bingung semua orang sedang pada dimana. Apa tadi mobil yang terdengar melaju pergi itu adalah Adiva dan yang lain? Tapi dimana Anna? Masa Anna kalah sih ditangan orang-orang yang terikat? Yang mama Linda yakini adalah Anna telah pergi dari kabin ini dengan membawa mobil itu.
"Anna benar-benar kurang ajar! Awalnya aku pikir dia orang yang bisa diandalkan, tapi nyatanya dia gak bisa aku andalkan! Dia malah kabur. Dasar Anna anjing munafik!" maki mama Linda dengan nada bicara pelan.
Tiba-tiba mama Linda mendengar ada suara langkah kaki menuju ke toilet tempatnya terkunci. Mama Linda tampak sumringah dan meyakini itu adalah Anna yang kembali buat mengeluarkan dirinya dari dalam toilet. Mama Linda sudah tidak sabar lagi kembali menyiksa Adiva di ruangan santai dalam kabin ini.
"Anna itu kamu? Buruan buka pintunya cantik," titah mama Linda sembari bertepuk tangan gembira.
Pintu itu terbuka dan ternyata, yang membuka pintu itu adalah seorang polisi yang langsung mengacungkan pistol kearah kepalanya. Mama Linda kaget bukan kepalang ketika yang datang adalah polisi bukan Anna. Ini benar-benar mengejutkan mama Linda karena polisi telah silent suara sirine mobil polisinya hingga mama Linda tidak tahu ada polisi yang datang buat meringkusnya.
Kemudian, mama Linda mengangkat kedua tangannya. Mama Linda tidak memegang senjata apa-apa buat melawan polisi itu. Tangan mama Linda kembali diborgol dengan kencang oleh polisi. Kemudian, mama Linda akan segera dibawa ke kantor polisi terdekat buat diamankan.
Sepanjang perjalanan menuju kantor polisi wajah mama Linda terlihat bermuram durja. Dirinya merasa kesal karena gagal lagi menghabisi nyawa Adiva, merenggut kehidupan Adiva. Karena bagi mama Linda, Adiva adalah biang keladi orang yang sudah merenggut kebahagiaan hidupnya.
__ADS_1
Padahal, mama Linda bernasib malang dan terlunta-lunta begitu bukan karena kesalahan Adiva, melainkan kesalahannya sendiri yang terlalu sombong kepada orang-orang miskin. Hingga hatinya menjadi buta bahkan sampai tega menghabisi nyawa orang yang tidak ia suka.
***
Keesokan harinya, mobil yang disetir oleh Lisa akhirnya sampai di depan rumah Alzam dan Adiva. Alzam terlihat sedang berdiri dengan ekspresi wajah cemas di depan rumah, tepat di samping air mancur buatan yang indah dan menyegarkan untuk dilihat.
Alzam langsung berlari memeluk istri dan anaknya saat Adiva keluar dari dalam mobil seraya mengemban Wildan. Alzam menangis histeris, merasa berdosa sekali karena gara-gara dirinya, semua bodyguardnya mati. Alzam menyalahkan dirinya sendiri, merasa tidak becus dalam menjaga atau mengawasi mereka semua.
"Saya benci diri saya sendiri!" teriak Alzam sembari menutupi wajahnya.
Bandi dan Lisa tampak sedih melihat kesedihan dan penyesalan laki-laki tampan itu. Tapi Adiva bergegas memegang tangan Alzam. Adiva menyuruh Alzam untuk membuka wajahnya kembali. Adiva menggeleng, tidak setuju sama sekali kalau Alzam menyalahkan dirinya sendiri.
Bahkan Alzam tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan kejadian tragis yang menimpa mereka.
"Mas, berhenti salahin diri kamu sendiri. Kamu gak bersalah sama sekali mas. Yang salah itu mama kamu. Dia biang keladi dari kejadian tragis yang menimpa kita. Aku berharap, semoga polisi yang aku telepon semalam berhasil menangkap mama Linda yang terkunci di dalam kabin." harap Adiva.
Buuug buuuug
Adiva menangis histeris saat melihat Alzam menyakiti dirinya sendiri.
"Hentikan mas jangan begini! Mas? Mas! Aku mohon!"
Alzam tidak menggubris permohonan Adiva sampai wajahnya terlihat sama memarnya seperti wajah Adiva.
"Mas, kamu gila? Huhuhu," isak Adiva pilu.
__ADS_1
Wildan juga ikut menangis dalam dekapan Adiva. Kemudian, Alzam memeluk kembali Adiva.
"Kalau wajah kamu lebam, wajahku juga harus lebam sayang. Karena saya benar-benar mencintaimu dengan sepenuh hati. Kalau kamu sakit, maka saya juga harus sakit." bisik Alzam ditelinga Adiva.
Adiva terus menangis hingga air matanya membuat basah baju bagian bahu Alzam. Lisa tak kuasa melihat itu semua, Lisa pergi ke tempat lain buat menumpahkan kesedihannya juga.
Lisa menangis sejadi-jadinya di sisi rumah Alzam, tepat dibalik tumbuhan berbunga yang menjulang tinggi. Bandi mengikuti Lisa, melihat Lisa yang menangis sedih dari belakangnya. Lisa menumpahkan emosinya di tempat itu.
"Adiva, yang tabah ya beb. Kamu orang yang kuat," ucap Lisa terisak.
Lisa mengutuk keras perbuatan mama Linda yang benar-benar keterlaluan!
"Lisa, kamu kenapa?" tanya Bandi mengejutkan Lisa.
Lisa mengusap air matanya kemudian berbalik badan.
"Aku sedih Bandi melihat sahabatku bernasib seperti itu. Dapat mama mertua yang jahat. Aku bisa ngerti penderitaannya selama menjadi menantu mertua iblis itu. Tapi disisi lain aku juga merasa cemburu." jawab Lisa yang membuat Bandi tidak mengerti. Mengapa Lisa bilang kalau dirinya cemburu?
"Apa kamu bilang? Kamu cemburu? Kamu menyukai tuan Alzam?"
Lisa tertawa kecil kemudian melangkah ke depan Bandi. Lisa menjewer pelan telinga Bandi.
"Aku cemburu karena Adiva mendapatkan cinta dari seorang laki-laki yang begitu luar biasa. Dari dulu aku belum pernah berpacaran dengan laki-laki yang seperti mas Alzam. Selama ini aku punya impian, aku ingin segera menikah dengan laki-laki yang baik, mencintaiku apa adanya bukan karena ada apanya. Susah senang kita lewati bersama. Melihat Adiva dan suaminya tadi, aku benar-benar merasa tersentuh namun juga iri." ucap Lisa dengan tatapan sendu di depan Bandi.
Kemudian, Lisa berjalan pergi meninggalkan Bandi. Bandi memikirkan perkataan Lisa barusan. Sebenarnya, selama ini dibalik sikap ketusnya itu Bandi juga ada rasa suka sama Lisa. Tapi Bandi terlalu minder buat menyatakan perasaannya. Dirinya yang hanya seorang bodyguard mana mungkin percaya diri melamar anak konglomerat seperti Lisa itu.
__ADS_1
"Come on Bandi, jangan pernah berpikir kamu akan bisa mendapatkan Lisa menjadi istri kamu." ucap Bandi pesimis di dalam hatinya.
Bersambung...