MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Getaran Cinta Mulai Datang


__ADS_3

Usai berganti pakaian dan mengeringkan rambutnya, Adiva kembali lagi kedalam kamar untuk membawa piring suaminya yang makanannya sudah habis, dibawa ke dapur. Namun Alzam menyuruh Adiva untuk duduk sejenak, Adiva menuruti saja perintah dari suaminya untuk duduk.


Tiba-tiba setelah Adiva duduk, Alzam bersimpuh didepannya sembari memegang kedua tangannya. Alzam ingin minta maaf dan berusaha akan lebih percaya sepenuhnya kepada Adiva.


"Maafin saya ya? Saya tadi telah terpancing emosi. saya tahu kalau mama saya sangat tidak menyukai kamu, harusnya saya juga lebih peka, setelah ini saya akan selalu membela kamu selama itu adalah hal yang patut untuk saya bela. Kalau kamu berharap lebih, seperti saya mencintai kamu, maaf saya tidak bisa. Zahra yang selalu tetap saya cinta."


Adiva menghela nafasnya, tidak penting biarpun Alzam tidak mencintainya. Cuma kalau diteruskan, apakah Adiva akan sanggup bertahan berumah tangga tanpa adanya rasa cinta?


"Kapan kita cerai? Aku gabisa lama-lama kaya gini kak. Aku suatu saat, ingin nikah dengan laki-laki yang beneran cinta sama aku."


Alzam merasa kalau pertanyaan dari Adiva itu, membuatnya merasa aneh. Cerai dari Adiva, kenapa membayangkan itu hatinya terasa sedih?


"Apakah gue bisa bertahan dengan kak Alzam, bahkan tanpa ada rasa saling suka diantara kita? Apakah gue bisa hidup bahagia tanpa cinta yang tulus? Apakah pernikahan kita ini, selamanya?"


"Kamu bisa hidup bahagia selamanya, dengan tahta dan juga harta. Saya akan mengganti cinta kosong itu semua dengan kesenangan-kesenangan itu. Kesenangan yang selalu didambakan oleh seorang perempuan. Hidup dengan berkecukupan, membeli apapun yang kau mau, besok kita pergi ke toko perhiasan mau? Saya akan memberikan kamu perhiasan termahal."


Adiva memejamkan netranya, lalu melangkah ke dekat tirai.


"Gue jarang pakai perhiasan, pakai emas, kalung, gelang, lain-lain. Makannya gue merasa aneh sih kalau diajak ke tempat seperti itu."


Alzam berjalan menghampiri Adiva lalu berdiri dengan gagah dibelakang Adiva.


"Kamu adalah perempuan yang aneh, perempuan yang berbeda, saya bertekad membuatmu berubah seperti perempuan-perempuan pada umumnya."


Adiva menoleh ke belakang lalu menaikan salah satu alisnya didepan Alzam, Alzam juga terus serius menatap Adiva.


"Udah janji kan, nggak mau memaksa gue buat merubah gaya kesukaan gue?"


"Iya, iya, udah keluar lagi nih galaknya. Yaudahlah terserah kamu. Kalau gitu saatnya kita tidur,"


Ajak Alzam kepada istrinya. Alzam mengambil bantal dan selimutnya lalu mulai rebahan diatas sofa. Sedangkan Adiva mulai rebahan diatas kasur yang empuk. Esok pagi mereka sama-sama akan memulai aktifitas-aktifitas seperti biasa, tidur yang cukup adalah suatu hal yang manusia perlukan.

__ADS_1


Namun mata Adiva tak kunjung terlelap, apalagi saat melihat suaminya tidur diatas sofa. Rasa ibanya mulai muncul, ia merasa kurang ajar karena membiarkan Alzam terus tidur diatas sofa. Padahal dia anak pemilik rumah.


Adiva melepas selimutnya kemudian bangkit berdiri dari atas kasur, Adiva berjalan kearah sofa lalu mulai membangunkan pelan suaminya yang sudah terlelap dalam mimpinya. Adiva memandang wajah tampan suaminya, dia memang sangat tampan dan berkharisma, kumis tipis manis ada di bawah hidungnya, juga brewok tipis yang menggemaskan. Adiva merasakan suatu getaran yang aneh, yang membuatnya merasa nyaman untuk terus menatap wajah suaminya. Alzam sangat macho, ulala.


"Mas, bangun mas, tidur di kasur yuk?" lirih Adiva namun suaminya tak kunjung bangun.


Karena tak kunjung bangun, Adiva memutuskan untuk tidur bersama dengan suaminya dibawah sofa itu. Adiva duduk lalu meletakkan kepalanya diatas perut Alzam.


Hujan turun saat tengah malam, petir begitu menggelegar di sekitar rumah mereka. Alzam terbangun karena mendengar suara petir. Alzam merasa, ada sesuatu diatas perutnya, sesuatu yang cukup beben dan saat ia lihat, ternyata istrinya sudah terlelap didalam mimpinya.


Alzam tersenyum senang melihat istri kecilnya sedang tertidur nyaman diatas perutnya. Alzam mengelus lembut rambut istrinya dan karena usapan Alzam itu, Adiva terbangun dari tidurnya. Adiva menguap sejenak lalu memindai keadaan di sekitarnya, saat melihat kedepan, Adiva melihat suaminya terbangun di tengah malam yang dingin dan riuh dengan suara petir ini.


"Kak, lo bangun?"


Alzam mengangguk sembari memegangi kepalanya yang terasa sakit akibat hawa dingin. Ternyata hawa dingin bertambah karena AC kamar yang belum dimatikan, Adiva lupa mematikan AC tadi. Belum lagi udara yang masuk lewat ventilasi.


"Ya ampun, gue lupa matiin AC, pantes udara disini serasa lebih dingin dari kutub utara," ucap Adiva baru sadar.


"Hadeeh, kak, ini tuh ibarat kita berada di Kutub Utara yang terkenal dingin banget itu Namun hawa disini seperti jauh lebih dingin! Gila, lama-lama kita bisa jadi es batu kalau AC nggak dimatiin,"


Adiva bergegas mengambil remot AC diatas meja lalu mematikan ACnya. Adiva dan Alzam sekarang sama-sama duduk di sofa yang sama. Adiva menoleh ke samping, melihat suaminya yang terus memegang kepalanya.


"Kenapa kamu tidur disini. Di kasur lebih nyaman."


"Mulai besok gue yang bobo diatas sofa ya? Masa, kamu kan anak dari pemilik rumah, tapi kamu kak yang tidurnya kurang nyaman?"


"Gapapa. Laki-laki udah biasa dengan hal seperti ini." jawab Alzam seraya memegangi dahinya.


"Kepala lo kenapa kak?"


"Aduh, agak sakit nih kalau kena hawa dingin."

__ADS_1


"Mau gue buatin teh manis hangat?"


"Jangan kemanisan ya, gulanya sedikit saja,"


"Oke kak,"


Dengan penuh perhatian dan kepedulian, Adiva keluar dari dalam kamar menuju dapur, akan menyiapkan teh manis hangat untuk sang suami yang sedang sakit kepala. Ternyata... si mertua iblis, mama Linda juga terbangun dari tidurnya. Mama Linda merasa lapar dan kini sedang makan biskuit di meja makan. Saat memasuki area itu, Adiva terkejut melihat ada mertua jahat yang sedang ngemil cantik itu.


Adiva bingung mau berkata atau menyapa apa kepada mertuanya, melihat ada Adiva bola mata mama Linda kembali mendelik. Yang jelas di malam ini, lampu remang-remang diatas meja makan membuat sosok mama mertua jahat itu terlihat jauh lebih menyeramkan dari kuntilanak.


"Ngapain kamu berdiri disitu menantu kurang ajar? Mau apa kamu? Mau ambil pisau kedapur buat bunuh saya?"


"Astaga, mama kenapa menuduh gue mau melakukan perbuatan sekeji itu? Mama jaga ya kalau ngomong. Gue mau buatin mas Alzam teh manis hangat, kepalanya sedang sakit karena cuaca begitu dingin,"


"Pasti dia sakit kepala karena terus mikirin kamu yang jahat ke saya, bukan karena hawa dingin! "


"Mama jangan playing victim ya!"


Mama Linda membuang muka, tidak sudi melihat wajah menantunya yang baginya sangat menyebalkan. Ngejawab terus kalau dia serang. Adiva selalu berusaha untuk bersabar kemudian melanjutkan melangkah menuju ke dapur. Mama Linda kembali menoleh kearah Adiva lewat.


Diam-diam ternyata mama Linda mengikutinya dari belakang, mengikuti dengan berhati-hati,  mengendap-endap layaknya seorang pencuri yang akan melakukan aksi jahatnya di rumah orang. Mama Linda mau melakukan perbuatan apa ya?


Saat hampir sampai di dapur, Adiva merasa ada seseorang yang seperti sedang mengikuti langkahnya. Adiva menoleh ke belakang namun mama Linda buru-buru ngumpet.


"Kaya ada orang yang ngikutin gue?" bingung Adiva berbicara dengan pelan.


Kemudian Adiva masuk kedalam dapur, mengambil gelas dan segera membuatkan minuman hangat untuk suaminya. Tiba-tiba saat Adiva sedang mengaduk teh, terdengar suara benda jatuh dari luar dapur.


"Woy?!"


Adiva bergegas mengecek keluar dapur. Ternyata...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2