
Masih berada dalam rumah Alex, Amel masih saja diikat tangan dan kakinya. Rasanya ia ingin pipis, juga lapar. Alex tega membiarkan dirinya tersiksa seperti sekarang ini. Rasanya Alex telah memperlakukan dia seperti seekor binatang yang hina. Alex selalu ia nantikan kehadirannya ke dalam kamar tempat ia dikurung, dari semalam.
"Kejam sekali kau bajingan! Aaaaaa! Lepasin akuuu!" ucap Amel berusaha untuk teriak dalam sumpalan kaos kaki yang bau. Itu adalah kaos kaki milik Alex yang digunakan untuk menyumpal mulut manis Amel. Dan kaos kaki itu belum dicuci tiga hari.
"Alex! Sini kau! Dasar bajingan!" ucap Amel berusaha teriak namun yang terdengar adalah seperti suara orang sedang bicara sambil berkumur-kumur.
Tak lama berselang, orang yang ia harapkan kehadirannya akhinya masuk kedalam kamar, dengan membawa satu piring nasi goreng dan juga segelas susu.
Alex lalu menaruh piring dan gelas itu diatas meja kecil kemudian membuka sumpalan dimulut Amel. Amel langsung berteriak dan memaki-maki Alex sepuas hatinya. Makian yang ia simpan dalam batin sedari semalam langsung dikeluarkan semua oleh Amel saat ini juga. Telinga Alex terasa panas mendengar makian Amel, namun tetap berusaha untuk menahan amarah.
"Dasar bajingan bedebah b*ngsat laki-laki ****** gila anj*ing b*bi! Lihat aku! Lihat kebawah! Aku sampai mengompol di kasur gara-gara kamu bajingan! Dasar laki-laki laknat, bedebah, gila lo!" maki Amel sepuas hatinya.
Alex hanya terkekeh sembari mengelus lembut rambut Amel. Amel masih saja diikat. Belum mau Alex lepasin.
"Marah aja masih cantik ya kamu? Emang dasar cewek cantikku, kelinci mungilku, mau diapain juga kamu bakalan tetap cantik sayang. Apa masih kekeuh mau membunuh anak kita? Kalau masih, kamu akan selamanya saya ikat disini."
"BAJINGAAAAAN!" teriak Amel menangis.
Amel menangis terisak, air mata membanjiri wajah cantik yang berubah menjadi kusam dan pucat. Matanya seperti mata panda karena semalaman Amel tidak bisa tidur dengan nyenyak.
"Aku mohon Alex, tolong lepasin aku? Aku janji nggak akan laporin kamu ke polisi, asalkan kamu kembalikan aku kepada keluargaku?" lirih Amel pilu sekali. Hidungnya kembang kempis karena menangis.
__ADS_1
"Janji?"
"Iya, aku tidak akan membunuh anak ini."
"Apakah aku bisa memegang janji kamu? Nanti, kalau aku lepasin kamu, kamu tetap akan pergi dan nekat menggugurkan anak kita?"
"Nggak mas, percayalah sama aku! Aku ga akan bunuh anak kita. Aku tahu itu salah. Aku tak mau menambah dosa lagi dengan membunuh anak ini. Tolong, percaya sama aku mas?" pinta Amel terlihat ingin sekali dibebaskan sama Alex.
Lalu Alex pun merasa tersentuh dan mulai melepaskan ikatan-ikatan tali yang ada di tangan dan kaki Amel. Namun, saat semuanya terlepas, Amel menendang area vital Alex dengan kencang. Hingga Alex tersungkur diatas lantai seraya memegangi anu yang terasa cenut-cenut gak keruan.
Amel berlari dengan cepat, membuka dan membanting pintu kamar. Amel sangat murka sekali, jengkel sekali dengan Alex yang udah berani mendera dirinya. Amel berlari menuruni anak tangga dengan teliti. Lalu sampai lah Amel didekat pintu depan rumah Alex. Karena terkunci, Amel lalu mengambil sebuah kursi dan ia lemparkan ke kaca sehingga kaca itu pecah dan Amel menerobos keluar melewati bongkahan kaca itu. Sedikit terkena goresan di area lengan membuat Amel sedikit merintih.
"Akhirnya, aku bisa keluar dari rumah orang gila ini! Aku harus segera kabur sebelum kembali tertangkap!" ucap Amel didepan rumah Alex.
Amel berlari melewati kebun belakang rumah Alex dan ketika berhenti sejenak, ia melihat ada sebuah mobil yang sedang melaju mengejar dirinya.
"Aduh! Pasti itu Alex. Alex sedang mengejarku dengan kecepatan tinggi? Huh, aku harus semakin kencang dalam berlari! Aku nggak mau di tangkap lagi sama Alex." batin Amel lalu berusaha dengan segenap tenaganya, ia lari sangat kencang.
Mobil Alex menerobos masuk kedalam area perkebunan. Alex terus mengejar Amel dengan kecepatan tinggi. Matanya terlihat murka dan nanar. Alex tak akan membiarkan gadis cantiknya kabur.
Amel terus berlari, perutnya terasa kram karena ia yang terus berlari dengan cepat. Amel beristirahat sejenak disamping sebuah pohon yang besar. Ditengah pohon itu ada akar-akar yang besar dan lebat, bisa ia gunakan untuk bersembunyi meski tak menutup kemungkinan kalau didalam akar itu ada ularnya! Tidak ada cara lain, Amel pun masuk kedalam akar-akar pohon itu.
__ADS_1
Alex terus melajukan kecepatan mobil sangat tinggi, ia cukup lihai dalam melewati jalanan yang ada didalam area perkebunan yang berkelok-kelok. Kesal bertambah, karena tidak ia lihat lagi Amel yang sedang berlari. Secepat itukah dia berlari, pikirnya.
Alex membanting setir lalu memukul setir mobil dengan keras. Anunyabmasih terasa cenut-cenut, akibat tendangan kejambdari Amel tadi didalam kamar. Sesekali Alex merintih kesakitan akibat rasa linu itu.
"Oke Amel! Mungkin kali ini kamu menang dari saya! Kamu berhasil kabur saya! Tapi saya tak akan biarkan kamu lolos dari jerat saya! Saya tak akan biarkan kamu membunuh anak kita! Awas aja kalau sampai itu terjadi, orang-orang yang berada di dekat kamu akan kena imbas! Saya adalah orang yang tidak suka bermain-main!"
Alex memutar balikan mobilnya. Setelah dirasa Alex sudah pergi, Amel memberanikan diri mengintip dari dalam akar pohon. Amel sedikit kelilipan lalu mengucek matanya, setelah terasa agak mending, Amel mulai mengintip keluar.
"Wah, sepertinya bajingan itu udah pergi. Aku harus segera lanjut kabur nih,"
Amel keluar dari dalam akar pohon itu, namun saat Amel berhasil keluar, ia merasa ada sesuatu berwarna hitam yang mengikat lengannya. Amel deg-degan, ia punya firasat yang buruk kalau ternyata,
Amel melihat seekor ular kecil hitam yang sedang menjulur-julurkan lidahnya dibagian lengannya. Amel hampirbberteriak histeris karena ia sangat takut sekali kepada binatang melata yang bernama ular itu. Tapi ia sadar, kalau teriakannya bisa menarik perhatian Alex untuk kembali lagi.
Amel menggoyangkan lengan kirinya sampai ular kecil yang nakal itu terjatuh. Dengan tega Amel menginjak kepala ular itu sampai berdarah dan ular kecil itupun mati.
"Dasar ular nakal sialan! Hampir saja kau membuat aku berteriak kencang! Kan gawat kalau aku sampai teriak, nanti bisa-bisa bajingan itu kembali lagi mengejar aku!" maki Amel kepada ular mati itu.
Lalu Amel kembali melanjutkan pelariannya. Hingga ia sampai dipinggir jalan. Amel bingung harus berbuat apa? Apalagi, celana yang ia kenakan menebarkan aroma yang sangat tidak bersahabat. Ya, bau pesing itu.
Bersambung...
__ADS_1