
"Gimana nak, kamu mau kan mengusir dia dari rumah mama? Atau mama yang mengusir dia dari rumah mama?" tanya mama Linda kembali.
Alzam menggeleng, dia tidak mau mengusir istri kecilnya.
"Tidak ma, tapi Alzam dan Adiva yang akan pergi dari rumah kalau itu demi kebaikan mama," jawab Alzam kemudian pergi berlalu.
"Alzam!" teriak mama Linda dari belakang, wajahnya tampak shock.
Alzam tidak menggubris teriakan mamanya, dirinya yakin kalau kejadian barusan itu hanya salah paham. Adiva tidak mungkin berniat mencelakai mamanya. Alzam berjalan masuk kedalam rumah mencari keberadaan Adiva ada dimana.
Adiva ternyata sedang duduk sembari menangis diatas kasurnya. Lagi-lagi Adiva menitikkan air mata, semenjak menjadi istri Alzam, Adiva berubah menjadi wanita yang cengeng karena beratnya tekanan dan tuduhan yang ia terima.
Alzam menetra istrinya sejenak dari area pintu kemudian duduk dengan santai disamping istrinya.
"Apakah sebaiknya kita pergi dari sini saja sayang?"
Adiva menoleh ke wajah suaminya kala suaminya mengajaknya pergi dari rumah ini,. Adiva tentu saja sangat setuju karena ia tidak mau berlama-lama tinggal dirumah yang ada orang jahat seperti mama Linda itu, mertuanya sendiri. Seperti secercah harapan segar untuknya.
"Aku mau banget mas kalau pergi dari rumah ini, tapi memangnya mama kamu mengizinkan ya? Pasti dia nggak mau anaknya yang sudah puluhan tahun tinggal disini, mendadak pergi begitu saja. Aku nggak mau kamu di cap anak yang durhaka ah, biar aku aja yang pergi kak."
Tiba-tiba Adiva kembali dikejutkan dengan Alzam yang menjambak pelan rambutnya dari belakang. Azam tiba-tiba berubah menjadi kasar lagi?
"Aaaaa, apaan sih mas kok kamu jambak mahkotanya aku lagi!"
"Cuma pelan, apa yang kamu barusan omongin itu! Kamu mau pergi dari sini sendiri? Kamu nggak cinta sama suami kamu dong kalau gitu! Apa yang kita ucapkan kemarin, saling mencintai? Apa itu hanya sekedar omong kosong yang keluar dari mulut kamu? "
Adiva jadi merasa tersentuh dan merasa bersalah saat suaminya bertanya soal perasaan cintanya, ia tidak sadar dari tadi. Kemudian Alzam melepas jambakan tangannya dan memeluk Adiva dari samping.
__ADS_1
"Ini adalah rumah tangga kita, ini adalah ujian untuk kita, kita pasti bisa melewati semua ini bersama." ucap Alzam menenangkan dan meyakinkan Adiva.
"Asal kita selalu bersama dan kompak, saling menjaga dan saling percaya satu sama lain, mudah bagi kita untuk melewati rintangan yang kamu anggap sukar untuk dilalui ini. Sayang , kamu yakin kan kita bisa melewati ini semua kedepan?" tanya Alzam sembari memandang lembut wajah istrinya.
Adiva mengangguk dalam pelukan Alzam, Adiva bertekad akan kembali bersemangat dan akan mengembalikan dirinya yang dulu, dirinya yang tidak pernah gentar dalam menghadapai kelakuan orang-orang yang jahat kepadanya. Dirinya yang selalu buas dalam artian positif dan berani menentang kejahatan.
***
Keesokan harinya, mentari pagi tidak bersinar cerah seperti biasa karena langit yang terlihat oleh netra manusia didaerah tempat tinggal keluarga mama Linda tampak mendung.
Cahaya mentari pagi yang hangat, menyehatkan, dan selalu ditunggu-tunggu oleh orang-orang pecinta matahari pagi, dibawah hangatnya mentari pagi pun menjadi bersedih hati. Tetapi mendung juga sebagai penanda hujan yang akan turun. Hujan yang turun akan membasahi bumi, tanaman, pepohonan, sumber air yang juga diperlukan oleh mereka para tanaman hijau.
Semua saling membutuhkan apa yang mereka butuhkan, begitu juga tanaman. Keluarga besar mama Linda sedang sarapan pagi bersama ditepi kolam tanpa kehadiran Alzam dan Adiva. Hal itu membuat suasana makan jadi kurang lengkap.
"Kemana sepasang suami istri yang tidak serasi itu? Apa mereka belum bangun ya ma?" kepo Amel.
"Mama nggak tahu, mungkin mereka sudah bangun tapi malas buat sarapan bareng kita. Karena kejadian yang semalam itu pasti. " tukas mama Linda.
"Emangnya semalam ada kejadian apa ma?" tanya Daffa.
"Semalam aku dan juga mama kamu kecebur kolam, gara-gara ketabrak Adiva yang lari nggak jelas," jawab Amel.
"Karena itu mama menuduh Adiva sengaja ingin mencelakai mama, eh tapi Alzam tetap kekeuh belain dia! Heran deh sama itu anak," gumam mama Linda kesal.
Orang yang sedang mereka bicarakan keluar dari dalam rumah. Alzam berjalan menuju ke tepi kolam menghampiri mereka bertiga. Alzam terlihat sama sekali tidak berpakaian khas seorang CEO yang akan segera berangkat ke kantor.
"Loh, kok kamu pakai pakaian yang biasa aja? Dimana pakaian CEO kebanggaan kamu?" tanya mama Linda terkejut.
__ADS_1
"Sini sarapan bareng kita mas?" ajak Amel seraya tersenyum manis kepada Alzam.
Daffa memperhatikan gerak gerik Amel, menjadi tampak cemburu karena itu.
"Alzam dan Adiva mau pamit ma, kita ingin memulai hidup baru, tanpa bantuan mama. Kita ingin sukses dan berjuang dari nol. Kita tidak mau terus hidup dibawah tekanan mama. Kami akan pergi dari rumah. Semoga kalian sehat selalu dan bahagia tanpa menyakiti perasaan orang lain." ucap dan harap Alzam, kemudian kembali lagi kedalam rumah.
Sendok dan garpu yang dipegang oleh mama Linda terjatuh diatas piring. mama Linda menjadi lemas karena anaknya mau pergi dari rumah.
"Mama nggak bisa biarkan ini terjadi, kamu nggak boleh pergi sayang!" panggil mama Linda kemudian berlari masuk kedalam rumah.
Mama Linda berlari menuju kamar Alzam, ia lihat dua orang yang sedang mengemasi baju kedalam koper.
"Kamu jangan pergi sayang, cukup istri kamu saja yang pergi," kata mama Linda sembari berjalan menghampiri kedepan Alzam.
Alzam tetap memasukkan pakaian-pakaiannya kedalam kopernya. Alzam sudah kekeuh mau pergi dari rumah sedangkan mama Linda, mama Linda menangis sedih karena anak kesayangan dan kebangaannya akan pergi bersama perempuan yang sangat ia benci.
"Kalau kamu pergi, nanti siapa yang mengurus perusahaan keluarga kita sayang? Cuma kamu andalan mama. Daffa masih terlalu mentah, dia belum mengerti apa-apa. Dia harus kuliah S2 dulu sebelum menjabat sebagai seorang CEO seperti kamu nak,"
Mama Linda terus berusaha mencegah anaknya pergi dengan kalimat-kalimat lirihnya. Mama Linda juga memegang erat tangan Alzam tapi Alzam malah menepisnya.
"Maafin mama? Mama janji nggak akan marah-marah sama istri kamu lagi, tapi kamu jangan pergi ya nak?" rayu mama Linda.
Amel dan Daffa juga sedang menyimak dari area pintu kamar. Alzam terus terdiam sedari tadi sembari mengemas dan memasukkan semua pakaiannya. Sementara Adiva, wajahnya tampak merasa tidak enak. Mama Linda tidak menyerah, kali ini mama Linda menghampiri Adiva kemudian menyuruh Adiva untuk mencegah anaknya ikut pergi dari rumah.
"Adiva, maafin mama? Mama mohon jangan pergi dari sini. Cegah suami kamu pergi, mama janji kedepannya nggak akan pernah nyakitin hati kamu lagi, ya?"
Adiva bingung harus bagaimana, apakah ibu mertuanya benar-benar mau berubah? Jika ia berhasil mencegah suaminya pergi dari rumah?
__ADS_1
Bersambung...