
"Bandi!" kaget Lisa sembari menepuk bahu kekar Bandi.
"Ada apa sih?" tanya Bandi bingung.
"Itu tuh, aku lihat ada kaki manusia dibalik pohon itu!" jawab Lisa kemudian menunjuk kearah pohon yang dijadikan tempat sembunyi oleh mama Linda.
Mendengar Lisa memergoki keberadaannya, mama Linda merasa harus bergerak cepat melakukan suatu cara agar dirinya tidak ketahuan oleh mereka secepat ini. Bisa-bisa nanti Adiva lekas kembali ke Jakarta dan mereka semua melaporkannya kepada polisi setempat.
"Woy siapa itu!" tanya Bandi lantang.
"Apa mungkin bodyguard lain lagi pipis disitu kali ya?" ujar Lisa yang langsung disambut dengan tatapan cringe oleh Bandi.
"Yakali temen gua pipis disitu kaya nggak ada toilet aja didalam. Yaudah, ayo kita samperin orang itu. Gua yakin sih itu salah satu temen bodyguard gua," ujar Bandi yakin.
Kemudian, mereka berdua melangkah cepat menuju pohon tempat mama Linda Clsembunyi. Di waktu yang bersamaan, mama Linda sedang memakai masker yang ia desain menggunakan robekan bajunya agar wajahnya tidak ketahuan oleh Bandi dan Lisa.
Mama Linda juga tengah memegang clurit yang ia siapkan buat melukai mereka berdua. Clurit itu ia dapatkan dari ruang penyimpanan bahan masakan didalam kabin.
"Lisa, kamu berdiri dibelakang aku," titah Bandi tiba-tiba siaga.
"Emangnya kenapa?" tanya Lisa bingung melihat sikap Bandi yang tiba-tiba berubah menjadi tegang karena Lisa tidak menyadari kalau Bandi melihat ada bayangan clurit yang terlihat disisi pohon itu.
Bandi mengambil batu yang ia lihat tergeletak dibawah pohon sebagai senjata untuknya melawan orang misterius pembawa clurit itu, yang sedang berdiam dibalik pohon tempat mereka berdua tuju.
"Siapa disitu!" lantang Bandi lagi.
Lantas mama Linda keluar sembari mengangkat tinggi clurit yang ia pegang. Lisa berteriak panik saat melihat seseorang seperti psikopat itu sedang berdiri dengan mengerikan lima meter didepannya. Lisa bergegas berlari ke dalam kabin meminta bantuan kepada yang lain.
__ADS_1
Mama Linda berlari kedepan lalu mengayunkan cluritnya ke bagian bahu Bandi hingga bahu Bandi terluka. Bajunya sobek dan kulitnya mulai mengeluarkan darah segar. Bandi lekas melempar batu itu kearah perut mama Linda hingga mama Linda sedikit terpental ke belakang.
Melihat banyak bodyguard yang keluar dari dalam kabin setelah Lisa berteriak meminta bantuan kepada mereka, mama Linda bergegas berlari cepat menuju hutan. Sedangkan Bandi tidak bisa mengejar karena bahunya terluka dan rasanya perih sekali.
Lisa histeris melihat luka bekas sabetan clurit yang terlihat mengerikan di bahu Bandi.
"Bandi, kamu?" pekik Lisa panik.
Sembilan bodyguard yang lain bergegas mengejar orang asing misterius yang menyerang Bandi kedalam hutan. Sementara itu Lisa bergegas mengambilkan kotak P3K dari dalam kabin. Dengan telaten Lisa mulai merawat luka yang ada dibagian bahu Bandi.
"Bandi, buka dulu baju kamu, aku mau obatin luka kamu," titah Lisa cemas.
Wajah Lisa benar-benar menunjukkan kecemasan dan rasa peduli melihat laki-laki yang ia sukai terluka seperti ini. Bandi bergegas membuka bajunya. Dadanya yang bidang, perutnya yang sixpack terlihat dengan jelas oleh mata Lisa.
Lisa mulai fokus merawat luka yang ada di bagian bahu Bandi. Terlebih dulu Lisa membersihkan ceceran darah yang ada di bahu dan lengan Bandi menggunakan banyak tisu. Kemudian, perlahan tapi pasti, Lisa menyuruh Bandi buat menahan rasa perih saat Lisa mulai menyiramkan cairan merah buat mengobati luka terbuka di bagian bahu Bandi.
"Tahan ya,"
Adiva beserta Anna, Tini, dan Nani berlari keluar dari dalam kabin menghampiri Bandi dan Lisa yang sedang terduduk berdua diatas rumput.
"Bandi, apa yang terjadi dengan bahu kamu? Lisa, apa yang terjadi?" tanya Adiva kaget. Adiva tampak ngilu melihat banyak ceceran darah diatas rumput.
"Beb, ada seseorang yang menyerang Bandi tadi. Orang asing itu tadi lagi ngumpet dibalik pohon itu aku memergokinya. Eh, saat aku dan Bandi mau ngecek kesana, orang itu keluar dari balik pohon, dia pakai serbet buat menutupi mukanya, terus orang itu nyerang Bandi pakai clurit beb, aku takut!" jawab Lisa dengan nada bicara yang cepat dan panik.
"Apa? Siapa ya orang itu! Jadi disekitar sini juga ada orang yang berbahaya bagi keselamatan kita?" tanya Adiva semakin panik.
"Iya beb," jawab Lisa kemudian kembali menatap kearah bahu Bandi yang sudah ia perban itu.
__ADS_1
Adiva mengajak semua orang kembali ke dalam kabin sembari menunggu para bodyguard yang sedang pergi mengejar orang asing itu kembali. Adiva berharap semoga saja para bodyguard yang jumlahnya banyak itu bisa diandalkan dan berhasil menangkap orang asing yang berbahaya itu.
Sudah satu jam menunggu, akhirnya beberapa bodyguard terlihat kembali ke kabin. Tapi mereka kembali hanya lima orang saja, sisa empat yang lain menghilang entah kemana. Di depan pintu kabin, Bandi tengah menginterogasi mereka berlima sembari menahan rasa perih di bahunya yang masih terasa agak menganggu.
"Dimana yang lain? Kalian tadi berpencar ya?"
Salah satu dari kelima bodyguard itu menjawab pertanyaan dari Bandi.
"Iya bos, tapi kita gak tahu kemana perginya mereka berempat. Apa jangan-jangan, orang asing itu telah berhasil membunuh mereka?"
"Hust ngaco kamu! Semoga saja mereka selamat dan segera kembali kesini. Ayo kita masuk kedalam. Kunci semua pintu dan jendela." titah Bandi tegas.
Kemudian, lima orang bodyguard itu masuk duluan kedalam kabin. Bandi mengamati sejenak kedepan, ke samping kabin, memastikan keadaan sudah baik-baik saja. Kemudian, Bandi masuk kedalam kabin dan mengunci pintu depan kabin.
Singkat waktu malam pun tiba. Di dalam kabin semua orang tampak cemas karena keempat bodyguard yang lain belum juga balik. Terutama Adiva yang sedang duduk lesu di pojok ruang santai, Lisa membawa makanan pun Adiva tidak nafsu buat menyantapnya.
"Beb, kamu jangan gini dong, kamu harus makan. Baby W juga membutuhkan ASI kan?"
Diingatkan soal itu oleh Lisa, Adiva perlahan mulai menyendok nasi goreng yang dibuatkan oleh Lisa. Kemudian, Lisa mengajak Bandi buat berbicara berdua di ruangan lain. Bandi manut saja tidak banyak bawel seperti biasanya saat diajak Lisa berbicara.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Lisa?"
"Soal empat bodyguard itu, mereka belum kembali. Aku yakin mereka antara tersesat atau tidak selamat. Kamu udah telpon polisi kan?"
"Udah kok. Sembari menunggu para polisi datang, kita bertahan disini dulu baru kita kembali ke Jakarta."
"Oke Bandi."
__ADS_1
Lisa memeluk hangat Bandi. Lisa merasa takut dengan semua ini. Ini adalah kali pertama untuknya berhadapan dengan situasi yang menegangkan seperti ini. Dan Bandi, sama sekali tidak protes ketika Lisa memeluknya. Bandi tahu Lisa ini sedang ketakutan.
Bersambung...