
Sifat iri akan menimbulkan penyakit hati yang hanya akan mendera diri. Tapi tidak ada salahnya jika, menjadikan rasa iri itu sebagai motivasi untukmu berjuang mendapatkan apa yang kamu iri kan itu, dan sifat iri juga adalah sifat yang sudah sangat wajar ada pada dalam diri manusia.
Tapi jangan sampai punya sifat iri yang berlebihan. Mempunyai sifat iri yang berlebihan hanya akan menimbulkan penyakit hati dan bukan hanya itu, sepanjang hari hanya akan dihiasi dengan kebencian dan ketidaksenangan melihat kebahagiaan orang lain.
Beberapa hari kemudian, Alzam dan Daffa kembali menengok mama mereka didalam penjara. Kali ini Daffa dan Alzam membawa lebih banyak perbekalan makanan yang menyehatkan untuk mamanya di penjara. Cukup untuk beberapa hari kedepan karena mereka tahu sang ibunda sangat tidak suka mendapat makanan yang diberikan oleh pihak rutan.
Alzam juga memberikan sedikit uang untuk ibunya jika sedang ingin jajan atau membeli make up. Ibunya bisa nitip beli itu kepada sipir di penjara.
"Ini sedikit uang untuk mama, nanti mama bisa tolong titip ke sipir buat beli apapun yang mama mau. Yang pasti kita akan selalu memantau mama. Mama tenang aja ya, meski dipenjara, kehidupan mama juga akan tetap kami jamin kok. Karena mama, sejahat apapun kau, kami tetap anak kandungmu ma," ucap Daffa dengan wajah melas.
"Tapi mama kangen sofa mama yang empuk, kangen kasur mama yang empuk, kangen nonton TV. Disini mau cari hiburan aja susah. Malah tiap malam mama disuruh buat mijitin kaki pentolan napi didalam sel. Tolong bujuk istri kamu, kasih dia syarat apapun asalkan dia mau cabut tuntutannya," pilu mama Linda curhatkan semua keluh kesahnya.
"Akan selalu kita usahakan, membujuk istriku. Sekarang biarkan dia tenang dulu, setelah tahu kalau ternyata mama itu pembunuh kakaknya. Jangan paksa dia, aku nggak mau. Kasus yang mama lakukan bukan perkara kecil." sahut Alzam.
"Iya-iya. Kalian sering-sering jengukin mama ya? Hanya kalian yang mama punya, dan mama sayangi." ucap mama Linda sedih lalu bangkit dan berpelukan dengan kedua anaknya.
Setelah selesai membesuk mamanya di tahanan, Alzam akan membawa istrinya kepada sebuah kebahagiaan yang baru. Yaitu, kebahagiaan dengan membeli rumah baru, di kawasan yang sangat indah, dekat dengan perbukitan.
Dulu saat mereka liburan berdua ke tempat wisata alami, destinasi wisata yang dikelola oleh Alzam, Alzam tahu kalau istrinya sangat ingin punya rumah yang dikelilingi oleh banyak pemandangan indah. Rumah baru merekalah jawabannya. Disekeliling rumah baru mereka ada hamparan pemandangan indah yang begitu memanjakan mata orang yang menatapnya.
"Sayang, kenapa kamu pakai ikat dan tutup mata aku segala. Aku kan udah pernah lihat rumahnya kan, di foto HP waktu itu," protes Adiva kepada suaminya karena matanya ditutup oleh sebuah kain.
"Sayang jangan protes. Ini beda sayang, bukan rumah yang kemarin aku tunjukin ke kamu itu."
"Loh kok gitu? Bukannya aku udah setuju sama rumah itu, aku suka loh tempatnya. Kenapa tiba-tiba kamu berubah pikiran dan menggantinya dengan membeli rumah yang lain? Kalau aku nggak suka gimana dong?"
__ADS_1
"Tenang aja sayang, kamu pasti akan suka. Sekarang kita jalan pelan-pelan aja ya, karena sebentar lagi aku akan membuka tutup mata kamu."
"Buruan sayang jangan lama-lama. Aku udah nggak sabar pengin lihat rumah baru kita kaya apa?"
"Iya-iya sayangku, permaisuriku yang bawelnya minta ampun."
Alzam menuntun pelan istrinya melangkah hingga sampai tepat di depan rumah itu. Lantas Alzam mulai melepaskan ikatan yang menutupi netra sang istri dan tara...
Sebuah rumah mewah berdiri kokoh dan artistik didepan Adiva.
"Masya Allah, sungguh rumah yang terlihat sangat luar biasa dan nyaman. Siapapun yang tinggal disini pasti akan merasa betah mas."
Adiva mengamati detail calon rumah yang akan menjadi tempat ia berteduh, tempat ia makan, tempat ia bersembunyi, tempat rahasianya, tempat bersuka cita, dan tempatnya menjadi seorang ratu nomor satu.
Lantas Adiva mengamati pemandangan yang terhampar indah disekiling rumah, berupa singgasana bukit yang sangat nyaman dan indah, penuh dengan warna hijau yang menyejukkan netra. Ada satu rumah lagi didekat mereka terlihat.
"Oh, rumah itu dijual juga tapi belum ada pembelinya. Dan nanti kalau rumah itu sudah ada pembelinya, maka mereka akan menjadi tetangga kita sayang."
"Asyik, semoga rumah itu cepetan laku ya. Aku juga ingin segera punya tetangga disini, biar nanti kalau kamu lagi berangkat kerja, aku jadi nggak kesepian lagi."
"Iya sayang. Sekarang saatnya kita buat masuk kedalam rumah baru kita. Mari kita lihat ruang demi ruang yang ada didalam sana."
***
Amel sedang rebahan diatas kasur sembari ngemil strawberry. Suaminya masih sibuk menimba ilmu dikampusnya. Ponselnya berdering tanda ada telepon yang masuk. Tapi saat Amel mengambil dan melihat siapa yang telepon, itu adalah dari nomor tak dikenal. Amel jelas yakin itu adalah Alex, yang ingin menerornya kembali. Amel buru-buru mematikan telepon dari nomor itu dan langsung memblokirnya.
__ADS_1
"Anjir, pasti ini mantan aku yang stress itu. Aku harus buru-buru ganti nomor HP biar Alex gabisa ganggu aku lagi!" tutur Amel panik.
"Kenapa sih dulu aku bisa tergoda melakukan hubungan intim sama dia?Jadi gini kan jadinya nyesel banget. Untung aku udah menikah sama mas Daffa, setidaknya kehamilan ini tidak akan membuatku terlalu menderita."
Ternyata ada nomor telepon baru yang tak dikenal kembali menelpon Amel. Karena kesal Amel lebih baik angkat saja telepon itu.
"Halo, Alex, pria bajingan? Mau apa lo telpon gue hah?"
"Alex. Maksud kamu apa sih sayang? Ini aku, Daffa suami kamu."
"Loh mas Daffa, kok kamu telpon pakai nomor yang nggak aku kenal sih! Bikin risau saja."
"Kenapa kamu menyebut nama Alex? Bukankah dia adalah mantan pacarmu. Apa dia masih suka mengganggu kamu sayang?"
"Nggak kok. Tapi aku kesal aja bawaanya kalau ingat nama dia."
"Berarti kamu lagi mikirian ia dong yank? Tuh barusan kamu nyebut nama Alex."
"Ya nggak, bukan gitu maksudnya sayang. Alex tuh kadang masih suka gangguin aku lewat panggilan tak dikenal. Rencananya aku mau ganti no HP aja biar tenang. Dan aku kira nomor HP ini adalah dia, tapi ternyata ini adalah dirimu mas, mas adalah suami yang sangat aku cinta."
"Ah bisa aja kamu yank. Iya, aku telepon pakai nomor HP ini mendadak, ini nomor HP temanku. Aku butuh bantuan kamu yank."
"Bantuan apa yank?"
"Tolong transfer saldo ke nomor rekening temen aku ya? Aku butuh mendadak nih, biar nggak ribet. Kamu ada saldo kan? Teman aku mau minjam uang dua juta aja?"
__ADS_1
"Ada, ok sayang. Tapi ngapain sih kamu minjamin dia uang, kapan kamu bisa beliin aku rumah kalau gitu hah? Jangan terlalu baik deh. Biasanya orang yang suka ngutang, paling sulit kalau nanti ditagih hutang!"
Bersambung...