MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Kebaikan Hati Nak Rey


__ADS_3

"Saya ingin tetap menolong anda bu Aini. Mari ikut saya? Saya akan mencarikan kontrakan untuk tempat ibu berteduh?"


"Benarkah itu nak Rey? Ini terlalu merepotkan, makasih nak Rey nggak usah repot-repot. Saya tinggal dijalanan saja tidak apa nak, permisi." ucap mama Linda kemudian berjalan pergi dari Rey.


Tapi pemuda yang baik itu bergegas berlari menyusul mama Linda. Rey berhenti didepan mama Linda.


"Tunggu bu Aini anda gak bisa begini? Tinggal dijalanan itu tidak enak bu. Ibu harusnya bersyukur karena ada saya yang mau berbaik hati membantu anda. Tolong jangan tolak bantuan dari saya ya bu? Saya ikhlas menolong anda tanpa pamrih kok."


Mama Linda menunduk, merasa terharu dengan kebaikan anak ini.


"Terimakasih banyak. Selain tampan kamu juga mulia nak." ucap mama Linda sembari tersenyum penuh haru untuk Rey.


Rey juga tersenyum kepada mama Linda. Lantas setelah itu, mama Linda dan Rey melangkah bersama menuju mobil Rey yang terparkir ditepi jalan. Rey mencarikan kontrakan yang murah tapi nyaman bila ditempati. Didalam mobil Rey tak henti-hentinya mama Linda mengucapkan rasa syukur dihatinya.


Rey membayar biaya sewanya langsung selama tiga bulan kedepan. Rey juga memberikan mama Linda uang yang cukup untuk kebutuhan hidupnya selama tiga bulan kedepan.


Tapi di depan pemilik kontrakan mama Linda terus menutupi sebagian wajahnya dengan masker yang ia desain dari bajunya sendiri.


Mama Linda tidak mau pemilik kontrakan bisa dengan jelas melihat wajahnya, takutnya akan curiga.


"Baik kalau gitu selamat datang di kontrakan saya bu Aini? Semoga anda bisa tinggal disini dengan nyaman. Makasih banyak ya nak Rey?" ucap ibu si pemilik kontrakan.


"Sama-sama bu, bu Aini ayo kita masuk kedalam? Kita lihat-lihat kontrakannya." ajak Rey seraya merangkul bahu mama Linda.


Mereka berdua pun masuk kedalam rumah kontrakan yang akan dihuni oleh mama Linda. Cukup luas dan nyaman. Mama Linda sama sekali tidak menyangka ada orang baik yang mau membantunya sekarang ini.

__ADS_1


"Kok bu Aini pakai masker sih bu, kenapa?"


"Gapapa nak, akhir-akhir ini saya alergi sama debu. Kamu lihat kan disini banyak debu yang beterbangan. Sppppppaya bisa bersin-bersin mengganggu kenyamanan, hehehe."


"Ah masa sih bu? Yaudah kalau gitu, saya mau pulang ya ke rumah. Tiga bulan lagi saya akan kembali kesini buat lanjutin biaya pembayaran kontrakan ini bu.""


Rey berbalik badan namun mama Linda meraih tangan Rey.


"Tunggu nak,"


Rey kembali menghadap ke mama Linda.


"Ada apa bu Aini?"


"Ibu gausah mikirin itu. Baiklah akan saya jelaskan kalau saya ini adalah anak dari seorang CEO terkenal di Jakarta. Dia adalah Bagus Prawira Atmaja. Uang saku saya setiap bulan itu nominalnya tidak sedikit loh bu."


"Wah, terdengar mengejutkan. Meski kamu anak seorang yang sangat terpandang, tapi kamu masih mau memandang orang-orang seperti saya. Dunia ini selalu membutuhkan orang-orang seperti kamu untuk kelangsungan peradaban yang berkualitas nak. Kamu anak yang luar biasa!" kagum mama Linda kepada Rey.


Rey tersenyum kemudian melanjutkan langkahnya menuju luar kontrakan dan pergi menaiki mobilnya yang kece. Mama Linda mengamati kepergian Rey dari depan pintu kontrakan.


"Alangkah beruntungnya aku bertemu dengan anak baik seperti dia." ucap mama Linda.


Mama Linda membuka amplop coklat yang tadi diberikan Rey.


Mama Linda menutup pintu kontrakan terlebih dulu baru membuka amplop itu didalam. Saat ia buka jumlahnya ada uang enam juta didalam amplop. Ini sangat cukup untuk biaya hidup satu orang seperti dirinya selama beberapa bulan kedepan.

__ADS_1


"Alhamdulillah dengan semua ini. Ya Allah, Engkau sungguh baik kepadaku. Setidaknya aku tidak terlunta-lunta dijalanan, mengemis buat dapatkan uang makan dengan hina. Menyamar di sepanjang jalan biar gak ada orang yang curiga kalau aku ini buronan. Anak muda itu benar-benar baik. Terimakasih nak Rey." ucap mama Linda sembari memasukkan uang itu lagi kedalam amplop.


***


Di dalam kediaman Alzam dan Adiva, hiasan lampu bercahaya menemani aktifitas-aktifitas orang-orang yang dipaksa untuk menetap didalamnya.


Alzam masih mengurung semua orang. Semua orang tengah dilanda kebosanan di dalam rumah dan paviliun.


Mereka belum boleh keluar selama mama Linda belum ketangkap lagi sama polisi. Semua harus beraktifitas didalam rumah yang terkunci ini dibawah pengawasan Alzam.


Adiva tengah melamun jutek di dalam kamarnya, ditemani oleh Juna yang asyik dengan mainan kecilnya diatas kasur. Sesekali Adiva ngupil lalu menaruh upil itu dengan sembarangan diatas meja kecil disamping ranjangnya.


"Huh, membosankan sekali mas! Kenapa kamu lakuin ini sih? Kamu mengurung kita semua seperti seorang tahanan yang gak berhak dapatin kebebasan!" keluh Adiva seraya menatap suaminya yang tengah push up di lantai.


"Demi keamanan kita semua dong! Diluaran sana sedang ada perempuan psikopat yang sedang berkeliaran. Ingat, kita harus tetap disini sampai situasi kembali kondusif!"


"Tapi mas, aku kan pengen ngecek salon kecantikan punyaku. Hari ini kan tanggal pegawai aku pada gajian. Masa kamu tega sih biarin mereka nunggu gaji turun kelamaan?"


Alzam menghentikan push upnya, peluh membasahi badan atletisnya. Lantas Alzam mengambil handuk olahraga yang tertata rapi di dalam lemari pakaian.


"Sayang, ini bukan zaman dulu. Sekarang teknologi berkembang sangat cepat. Berbagai macam inovasi-inovasi menakjubkan untuk kemudahan umat manusia banyak ditemukan. Termasuk menggaji orang lewat virtual. Kamu kan bisa pakai sistem transfer via ponsel sayang. Pakailah dulu saldoku, aku kan suamimu."


Adiva membuka mulutnya, ekspresinya seperti orang sekarat, bahkan bola matanya ia buat jadi berwarna putih semua. Rasanya Adiva ingin tiba-tiba punya jurus hiraishin no Jutsu ala Naruto. Berpindah tempat sekarang juga!! Wkwk


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2