
Alzam dan Adiva mau masuk kedalam rumah karena mereka juga merasa sudah lapar dan tidak sabar ingin menikmati makan malam bersama. Daffa juga tampak datang baru selesai pulang dari kuliahnya yang bikin penat. Daffa memasuki area halaman depan rumah megah dengan menaiki motor kebanggaannya.
"Itu dia si anak ingusan biang masalah udah balik! Apa yang dia lakukan sehingga tadi sore datang preman-preman sialan kesini! Membuat istriku menjadi babak belur saja!"
Alzam akan melabrak Daffa namun Adiva buru mencegahnya. Adiva ingin menjelaskan kalau datangnya preman-preman itu tak ada hubungan dengan ulah yang dilakukan oleh Daffa, namun Alzam yang sedang emosi itu malah membuang pegangan tangan Adiva dan tetap melangkah, akan menghampiri Alzam dengan emosional.
"Mas, jangan!" teriak Adiva dari belakangnya. Adiva juga berlari mengejar suaminya.
Saat Alzam sudah sampai didekat adiknya dan akan memukuli adiknya yang sedang membuka helmnya, Daffa sangat terkejut hingga terjatuh dari atas motornya. Lalu Alzam memukulinya. Memukuli wajah dan perutnya dengan dengkul. Capek-capek belajar sehabis kuliah seharian, mencari bekal ilmu pengetahuan buat bekal masa depan, pulang malah langsung mendapat pukulan yang bertubi-tubi dari kakak galaknya. Sungguh malang nasib Daffa.
"Ampun kak... Uhk... Aaaa... Apa salah aku kak?" tanya Daffa sakit, karena Alzam terus menghajar perutnya.
Adiva memegangi lengan Alzam lalu menariknya ke belakang.
"Hentikan mas! Tidak ada hubungannya! Tolong mas, berhenti mukulin adik kamu?"
"Apa maksud kamu sayang? Jangan ikut campur, saya sedang memberikan anak ingusan ini pelajaran yang berharga! Supaya dia tidak berbuat ulah lagi."
"Berharga dari mana! Nggak mas, preman-preman itu ga ada hubungannya dengan adik kamu. Kasihan dia mas, jangan pukulin dia!"
"Lantas kenapa mereka mencari adik saya kalau dia tidak berbuat ulah?" tanya Alzam bingung seraya menunjuk wajah bonyok adiknya.
"Karena mantan pacar Amel tidak suka melihat mereka berdua bersatu mas. Tadi salah satu preman yang aku hajar yang menjawabnya, saat ditanya oleh mama."
Alzam menunduk jadi merasa bersalah karena sudah menghajar adiknya yang baru pulang dan lelah berfikir seharian dalam mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Alzam melangkah kedepan Daffa yang masih merintih memegang wajah dan perutnya. Daffa menoleh kearah Alzam dengan pasrah.
"Kakak mau memukulku lagi? Pukul saja, kalau itu membuat kaka puas. Jadikan aku saja sebagai pelampiasan amarahmu kak. Tapi jangan kau jadikan wanita atau mama atau bahkan istriku sebagai pelampiasan amarahmu yang memuncak itu." kata Daffa lirih tidak ingin kalau Alzam sampai melukai istrinya. Karena ini semua terjadi ada hubungannya dengan masa lalu Amel.
__ADS_1
Alzam memejamkan matanya lalu mempersilahkan Daffa untuk memukulnya sepuas hati.
"Nggak, kamu saja yang pukul kakak sepuas hatimu. Balaslah kakak, kakak tidak akan maafkan diri sendiri sebelum kamu memukul kakak?"
Daffa tidak menunggu lama langsung memukul wajah Alzam dan menendang perut Alzam sampai Alzam terdorong sedikit ke belakang.
"Ugh." rintih Alzam.
"Daffa! Kenapa kamu balas beneran? Kamu pendendam ya?" tanya Adiva kaget sembari memeluk suaminya.
"Kalau aku nggak pukul kakak aku, nanti dia mengemis maaf mulu. Maaf, tapi aku tidak akan biarkan kakak aku yang terhormat seperti itu. Kak, mulai sekarang kita jangan terlalu terburu-buru ya dalam hal apapun? Itu tidak baik. Cari tahu dulu kebenarannya."
Alzam tersenyum bangga karena adiknya perlahan mulai semakin dewasa dalam menghadapi masalah. Adiva tidak menyangka Daffa sebaik itu, tapi selama ini Daffa selalu membantu mamanya buat sakitin dirinya? Apa Daffa sedang pencitraan saja didepan kakaknya?
"Daffa baik juga dan aku terharu melihat kakak beradik ini. Uuh, jadi ingat almarhumah kak Zahra. Besok nyekar ah ke makamnya." batin Adiva penuh kerinduan.
"Iya kak. Maafkan aku juga kalau selama ini belum bisa jadi seorang adik yang baik, kak."
Mereka berdua kemudian saling merangkul dan kompak melangkah masuk kedalam rumah. Diikuti oleh Adiva yang melangkah sembari tersenyum senang melihat kakak beradik didepannya kembali akur.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Semua penghuni rumah hampir semuanya sudah terlelap dalam tidur mereka masing-masing, namun Daffa, masih belum bisa memejamkan matanya. Daffa masih mikirin soal perkataan Adiva yang tadi bilang bahwa preman-preman itu datang karena ulah dari mantan pacarnya Amel.
Alzam menoleh kesamping, tepatnya kearah wajah istrinya yang sudah lelap tertidur. Daffa jadi berpikir apakah istrinya sungguh mencintainya atau tidak karena tadipun Amel sudah tertidur duluan tanpa menunggunya pulang terlebih dulu.
"Istriku, apakah kau tidak mencintaiku? Kenapa kamu udah tidur ya waktu aku belum pulang ke rumah. Sungguh aku merasa tidak nyaman dengan sikapmu yang kurang peduli padaku. Kamu mengacuhkan aku, kita ga seperti suami istri pada umumnya." gumam Daffa pelan di samping istrinya.
Daffa mengelus pelan rambut indah istrinya lalu Daffa memeluk istrinya dari samping dan mulai memejamkan kedua matanya. Keesokan harinya, saat baru bangun tidur, Amel merasakan ada sentuhan lengan yang memeluknya. Daffa masih tertidur disisinya dan Amel langsung menyingkirkan lengan Daffa dengan cepat sampai Daffa juga terbangun.
__ADS_1
"Ya ampun, mas Daffa! Semalam kamu darimana saja mas?" tanya Amel sembari menguap.
"Masa kamu tidak tahu sih, aku kan kemarin banyak tugas kuliah tambahan. Kamu juga udah tidur duluan, ga perhatian sama suami sendiri!" keluh Daffa sambil mengucek matanya.
"Alah, gitu doang kamu baper mas! Yaudah ya, aku mau mandi dulu."
"Sekarang jam berapa sayang?"
"Sudah jam enam pagi tuh."
"Ya Allah, lupa sholat. Sayang, kita harus segera menjalankan sholat yang tertinggal karena kita masih ketiduran tadi waktu masih shubuh."
"Emang kamu sholat ya mas?" tanya Amel dengan wajah yang malas.
"Selalu lah. Saya selalu menjalankan sholat lima waktu, karena itu udah kewajiban saya. Kamu juga selalu sholat kan sayang?"
Amel yang selama ini bolong-bolong sholat berbohong demi citra baiknya didepan Daffa. Amel tidak mau terang-terangan bersikap yang tidak disukai orang lagi, karena hal semacam itu dulu Amel jadi gagal menikah dengan Alzam.
"Sholat dong, yaudah kita ambil wudhu dulu yuk?" ajak Amel berpura-pura semangat. Daffa juga menyambutnya dengan sangat semangat juga.
Mereka berdua wudhu bareng lalu setelah itu mereka menjalankan ibadah sholat Shubuh berdua didalam kamar. Selesai sholat, Tiba-tiba Amel merasakan mual yang amat sangat. Amel buru-buru melepas mukena nya lalu lari ke toilet untuk muntah. Daffa juga mengejar Amel dari belakang.
"Sayang kamu kenapa?" teriak Daffa seraya mengejarnya berlari.
Padahal Amel cuma mual tapi Daffa sudah sepanik itu. Daffa begitu sayang dan peduli kepada istrinya.
Bersambung...
__ADS_1