MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Diserang Psikopat Bayaran


__ADS_3

"Aku harus berani masuk kedalam, aku harus menyelamatkan bapak-bapak sopir itu. Kasihan kalau dia kenapa-kenapa, kasihan sama anak bininya di rumah. Ayo Adiva, kamu harus berani!!" batin Adiva bermonolog, menyemangati diri sendiri.


Adiva masuk kedalam, melangkah dengan hati-hati dan mata yang siaga. Takut penjahat itu tiba-tiba datang menyergap lalu melukainya.


"Aaaaaaaa tolooooong." teriak pak sopir itu dari belakang bangunan namun suaranya sayup-sayup terdengar semakin menjauh.


Apakah pak sopir itu berlari ke tempat yang lain? Adiva lalu berlari kearah sumber suara. Namun tiba-tiba saat di samping tumpukan batako, Adiva dihadang oleh sosok berjubah kuning, bertopeng hantu yang tadi ia lihat di dekat unit kesehatan kampus.


"Siapa lo! Lo pikir gue takut sama lo? Nggak!" tanya Adiva dengan tatapan menantang.


Orang itu, mengeluarkan clurit dari balik jubahnya. Setelah orang itu mengeluarkan benda tajam baru Adiva jagi agak menciut nyalinya. Matanya bergerak terus kearah clurit yang dipegang orang mengerikan itu.


"Lo mau bunuh gue? Tapi salah gue apa? Perasaan gue ga punya musuh besar deh, ya meski gue pernah baku hantam sama orang, tapi gue kan membela kebenaran. Katakan, siapa yang suruh lo buat ngebunuh gue!"


Orang itu diam saja lalu melangkahkan kakinya kedepan Adiva. Adiva berjalan mundur perlahan, dirinya jadi takut lalu ia lemparkan batu yang ia pegang sampai jatuh di kaki orang itu, sehingga orang itu berteriak kesakitan karenanya.


"Aaaaa," teriak orang berjubah itu.


Adiva bergegas berlari menyusuri bagian dalam bangunan yang teramat luas itu. Adiva mencari tempat yang pas untuknya bersembunyi. Adiva takut, ia tidak mau clurit itu sampai melukai dirinya.


"Ah, aku sembunyi disini saja." batin Adiva sembari memasukan dirinya kedalam tumpukan papan kayu yang berdiri.


Ada celah-celah papan kayu yang bisa Adiva gunakan untuk mengintip sedikit kearah luar. Adiva mengawasi pembunuh itu jika datang dari balik papan kayu yang didirikan oleh para pekerja bangunan itu.


Adiva terus mengamati tapi pembunuh itu tak kunjung muncul. Apakah pembunuh itu sudah pergi keluar? Apakah dia tidak tahu kalau dirinya masih ada didalam bangunan? Jantung Adiva rasanya semakin berdegup kencang. Ternyata tempat ini dijadikan sarang oleh seorang psikopat.

__ADS_1


Sudah cukup lama ia ngumpet, Adiva merasa tidak mungkin bersembunyi terus disini. Adiva mencoba memberanikan diri keluar kemudian berjalan dengan mengendap-endap. Adiva menoleh ke samping kiri, samping kanan, atas, bawah, belakang, netranya begitu terjaga karena bisa saja pembunuh itu menyergapnya dari arah yang tak terduga.


"Berkat nonton film psikopat aku jadi sewaspada ini. Ayo Adiva, terus berhati-hati!" batin Adiva.


Adiva terus melangkah hingga ia akan sampai di depan bangunan, Adiva akan segera melangkah keluar, namun tiba-tiba ada bulatan tali yang dilempar sampai mengikat bagian lehernya.


Adiva memegang bulatan tali itu berusaha untuk melepaskannya tapi pembunuh itu jauh lebih kuat, bagian leher Adiva juga menjadi tercekik akibat ditarik oleh pembunuh itu. Tenaga Adiva jadi kurang prima, Adiva ditarik kebelakang, Adiva berusaha menoleh kearah belakang dimana pembunuh bayaran mama Linda itu sedang memegangi kuat tali yang sedang ia gunakan buat mencekik Adiva. Q


Adiva bingung harus bagaimana, Adiva memutuskan untuk pura-pura pingsan saja agar pembunuh itu berhenti menariknya. Dan benar saja, pembunuh itu berhenti menarik Adiva lalu berjalan menghampiri Adiva yang sedang berpura-pura tergeletak pingsan diatas lantai yang belum berkeramik.


Pembunuh itu menepuk pipi Adiva selama beberapa kali. Setelah ia memastikan Adiva beneran pingsan, kemudian pembunuh itu mengambil clurit tajam dari dalam jubahnya, akan mengeksekusi Adiva sekarang ini.


Adiva mencoba sedikit membuka matanya untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh pembunuh itu. Saat tahu pembunuh itu akan menghabisinya menggunakan clurit, Adiva langsung menendang pembunuh itu sampai ia terpental ke belakang dan terjatuh. Hampir saja clurit itu menusuk wajahnya. Lalu Adiva bangun dan segera berlari, menerobos dinginnya curah air hujan yang masih mengalir dengan begitu derasnya.


Adiva menuju tempat dimana mobil sang sopir tadi diparkir, tapi ternyata saat ia lihat lagi tempat itu, sudah tidak ada mobil berwarna kuning hitam terparkir disana. Kemana perginya mobil itu dan siapa yang membawanya pergi?


Adiva kembali menoleh kearah bangunan, ia melihat pembunuh berjubah kuning itu sedang berlari keluar mengejarnya. Adiva kembali melanjutkan larinya, ia berlari dengan cepat dan sesekali ia kembali terpleset karena jalanan yang begitu licin. Tapi Adiva sangat gigih dalam perjuangan mempertahankan kehidupannya. Adiva terus berlari dan berlari.


"Tolooong... Tolooooong." teriak Adiva meminta pertolongan. Tetapi, suasana di tempat ini begitu sepi. Sama sekali tidak ada perumahan atau tanda-tansa kehidupan didekat sini, didekatnya tengah berlari dari bahaya maut yang sedang mengincarnya.


Disisi lain, mama Linda yang membayar mahal orang itu buat membunuh Adiva sedang duduk cemas dikursi balkon lantai dua. Seraya menatap sendunya pemandangan berupa tetes air hujan yang membasahi dedaunan hijau.


"Duh, gimana ya pembunuh bayaran yang saya suruh. Belum ngabarin juga sampai sekarang. Semoga menantu yang tak aku harapkan kehadirannya itu segera menemui ajalnya, ditangan orang yang saya suruh itu." harap jahat mama Linda didalam hatinya.


Amel tiba-tiba bersuara mengagetkan mama Linda yang sedang melamun itu.

__ADS_1


"Yuhuu, mam!?"


"Aaaa! Kebiasaan kamu selalu saja mengagetkan mama mertuamu ini! Ada apaa, Amel sayang?!"


"Lusa kita belanja lagi kan? Dengar-dengar ada satu butik yang mau buka mam, didekat sini. Aku penasaran sama baju-baju..."


Belum selesai berbicara, mama Linda langsung memotong ucapan Amel seraya bangun berdiri.


"Iya, iya, mama tahu kamu mau minta apa. Pasti mau minta ditraktir shopping lagi kan? Tenang aja sayang nggak usah kamu ingatkan pasti mama akan selalu traktir kamu. Tapi kamu jangan bawel ya, kepala mama lagi pusing banyak masalah, tahu kamu!"


"Loh kok mama marah lagi sih sama Amel? Mama itu nggak boleh kaya gitu. Mama itu harus bersikap lembut dan sayang sama orang yang lagi hamil kaya Amel ini."


"Iya mama tahu, tapi mama lagi ada pikiran aja sih. Belum tenang kalau masalah itu belum selesai."


"Pikiran apa sih mam? Cerita aja sama Amel. Siapa tahu, Amel bisa bantuin mama menyelesaikannya masalah itu?"


"Nggak perlu! Mama nggak butuh bantuan kamu dan mama juga nggak akan cerita sama siapapun. Mendingan sekarang kita masuk kedalam dan tutup pintu ini."


***


Adiva terus berlari ditengah guyuran hujan, berlari ditengah jalan yang sangat sepi. Adiva berhenti sejenak karena perutnya terasa sakit akibat terus berlari.


"Ya Allah, capek banget." keluh Adiva.


Adiva mendengar ada suara motor yang melaju dibelakangnya, dan saat ia lihat kebelakang, ternyata itu adalah...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2