
"Masa iya sih dulu Zahra suka sedih? Setahu saya Zahra selalu menampakkan wajah yang ceria. Dia tidak pernah mengeluhkan apapun, mungkin sesekali ia sakit, cuma masuk angin biasa. Dia bahagia dengan pernikahan kami,"
"Diary itu adalah kunci untuk membuktikan omongan bi Sri mas. Kalau bi Sri bohongin aku, maka kamu harus siap untuk pecat dia!"
"Iya, saya akan memecat siapa saja yang berani berbohong kepada majikannya. Sekarang apa yang mau kita lakukan?"
"Aku sih kemarin mencari diary itu di laci bertingkat dalam kamar kita mas, tapi dibagian paling bawah yaitu pintu laci kelima, terkunci mas, kamu tahu kan dimana kuncinya?"
"Oh, laci itu sepertinya selalu terkunci dan laci itu adalah laci yang suka dipakai sama almarhumah Zahra. Dia selalu menyimpan barang yang ia suka disitu, karena saking tidak mau barangnya hilang, ia sampai mengunci bagian laci terbawah itu rapat-rapat,"
"Apa almarhumah kak Zahra tidak menunjukkan kepada kamu apa isi dari laci itu?"
"Pernah, tapi saya tidak melihat ada sebuah buku diary disana. Atau mungkin saya yang kurang fokus, waktu itu saya lihat sekilas aja sih."
"Kamu tidak tahu dimana kunci untuk membuka laci itu?"
"Kuncinya ada dibawah kasur kamar kita. Seingat aku dulu Zahra menyimpan kunci itu disana. Nanti malam coba kita geledah sama-sama ya?
" Iya mas,"
***
Amel dirumahnya sedang selonjoran santai diatas sofa putih. Amel melirik kanan kiri atas bawah dengan wajah yang cemberut. Ia sedang memikirkan mertuanya yang telah berubah menjadi baik kepada wanita saingannya, yaitu Adiva. Bagaimana ia akan mendapatkan Alzam kalau mertuanya yang awalnya kontra dengan Adiva sekarang berubah menjadi pro. Akan semakin sulit buatnya.
"Aku sangat tidak senang kalau mama Linda berubah jadi baik kepada perempuan tengil itu? Oh hello, apa ini sungguh-sungguh? Apakah mama Linda hanya sedang berpura-pura baik saja ya didepan Adiva, demi agar Alzam tidak ikut pergi dari rumah. Mama Linda sebagai salah satu pemegang saham terbesar pasti tidak mau kehilangan CEO terbaiknya, apalagi dia adalah anaknya. Perusahaan yang tanpa dikendalikan oleh Alzam bisa saja kinerjanya tidak akan sebagus saat dipimpin oleh mas Alzam. Hmm, semoga benar kecurigaan aku ini,"
Tiba-tiba saja teleponnya berdering, Amel segera mengecek siapa nama yang menghubunginya, ternyata itu adalah nama orang yang sedang ia bahas sendiri sekarang. Amel bergegas menekan layar yang menunjukkan tombol hijau.
"Halo mama, ada apa telepon Amel? Tahu nggak sih mama udah buat hati Amel jadi kecewa hari ini?"
__ADS_1
"Amel sayang, mama melakukan itu supaya Alzam tidak senekat itu, dia mau menghancurkan perusahaan mama. Mama nggak mau ya kehilangan kenikmatan dunia ini. Mama nggak mau jadi gembel, makannya kedepan mama akan selalu berpura-pura baik didepan menantu kere itu. Tapi mama akan tetap berusaha menghancurkan menantu kere itu dengan cara cantik!"
Amel tersenyum licik saat benar kecurigaannya kalau mama mertuanya itu hanya sedang berpura-pura.
"Mama memang benar-benar asik. Sungguh ma, Amel merasa nyaman dan merasa senang deh jadi menantu mama kalau gini ceritanya. Percepat pernikahan aku dengan Daffa ma, supaya aku ada alasan untuk bisa selalu menetap di dalam rumah mewah mama,"
"Iya sayang, seminggu lagi kalian akan bersatu dalam ikatan yang sah, hahahahaha,"
Amel berjalan kedepan kaca, seraya memandang kearea taman, Amel tampak tidak sabar melihat kehancuran yang akan dialami oleh Adiva kalau mama mertuanya berhasil menjalankan rencananya.
"Semoga kita berhasil ma. Aku akan selalu mendukung dan juga membantu mama mertua," batin Amel menatap bola mata ambisius.
Singkat waktu malam pun tiba, Adiva sedang mengerjakan tugas kuliah, banyak sekali tugasnya yang numpuk karena Adiva tidak mengerjakannya selama empat hari terakhir. Tiba-tiba, mama Linda datang ke kamar Adiva dengan membawa teh manis yang sudah dibubuhi dengan obat tidur.
"Sayang, mama datang membawakanmu, yang tentu saja rasanya manis semanis wajah kamu," lembut mama Linda sembari menaruh teh manis itu diatas meja.
"Ya nggak dong sayang! Kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh lagi ya soal mama ya anakku? Mama janji nggak akan jahatin kamu lagi. Kamu sekarang adalah menantu yang mama akui. Sekarang kamu minum dulu sebelum lanjut mengerjakan tugas-tugas kamu yang sepertinya banyak juga ya. Ada berapa lembar tuh?"
"Banyak ma, yaudah kalau gitu makasih ya ma?"
"Iya sama-sama. Mama pergi dulu,"
Mama Linda tidak betul-betul pergi, ia masih mengintip dari celah pintu kamar. Terlihat Adiva tampak ragu untuk meminum teh buatan mama mertuanya.
"Diminum nggak ya? Kok perasaan aku nggak enak gini? Apa ini cuma pikiran aku aja ya? Yaudahlah diminum aja, berpikir positif saja, ayolah Adiva."
Adiva meneguk minuman manis itu sampai habis kemudian lanjut menggarap tugas-tugas kuliah yang menumpuk. Tiba-tiba rasa kantuk yang amat kuat menyerang matanya, Adiva menguap lalu tertidur diatas meja. Mama Linda tersenyum licik sembari tertawa pelan kemudian kembali masuk kedalam kamar Adiva.
"Dengan ini tugas menantu gembel itu tidak akan selesai dan dia akan dimarahi dosennya, hahah." ujar mama Linda girang.
__ADS_1
Alzam masih di kantor, masih banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan.
Mama Linda sebelum menjalankan misinya mama Linda terlebih dulu memastikan apakah Adiva sudah benar-benar tertidur atau tidak. Setelah Adiva dipastikan sudah tertidur, mama Linda mencari sebuah kunci dibawah kasur. Kemudian setelah menemukan kunci itu, mama Linda mulai menggunakannya untuk membuka laci yang terkunci.
"Akhirnya terbuka juga, ada apa sih didalam laci ini. Kata bi Turi saya harus membuka laci misterius ini."
Flashback waktu tadi sore saat mama Linda sedang asyik merawat kuku-kuku cantiknya didepan rumah. Bi Turi datang dengan membawa cookies premium dan coffee latte yang disuruh oleh mama Linda untuk menyiapkannya.
"Makasih bi," kata mama Linda singkat.
Bi Turi masih anteng berdiri disampingnya.
"Loh bi, kenapa kamu masih berdiri disitu terus? Kembali ke dapur dong!"
"Anu nyonya,"
"Anu apa? Ada apa sih bi?"
"Saya mau memberi tahu nyonya kalau kemarin-kemarin saya sempat dengar bi Sri berbicara soal perlakuan jahat nyonya Linda dulu kepada mendiang nyonya Zahra. Saya mendengar mereka membahas sebuah diary yang biasa digunakan oleh nyonya Zahra untuk membukukan kenangan pahitnya atas perlakuan nyonya dahulu kepadanya. Saya juga pernah melihat nyonya Zahra menyimpan diary itu di laci nomor lima dalam kamarnya. Saya melihat waktu saya sedang mengepel lantai disekitaran kamar dia nyonya."
"Kurang ajar sekali bi Sri! Berani sekali dia ember! Dia pikir dia siapa berani macam-macam denganku! Disini, dia tidak akan lama lagi bekerja. Saya akan memecat dia dengan tidak hormat!"
"Nyonya satu lagi, laci nomor lima itu kekunci dan saya tahu dimana tuan Alzam dan nyonya Zahra menaruh kunci laci itu!"
"Memang dimana mereka menaruh kunci laci itu?"
"Ada dibawah kasur tempat mereka tidur nyonya. Nyonya harus segera mengambilnya sebelum semuanya terlambat. Nyonya nggak mau kejahatan nyonya ketahuan kan?"
Bersambung...
__ADS_1