MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Melabrak Suami Tetangga Yang Kejam


__ADS_3

Setelah itu Alzam dan Adiva sepakat akan bersama membantu Jenna supaya bisa kembali bahagia dalam kehidupannya.


Keesokan harinya, Alzam dan Adiva sama-sama mendatangi rumah pak Nick. Mereka berdua ingin memberikan pak Nick pelajaran agar tidak lagi berbuat jahat sama Jenna.


"Keluar! Woy buka pintu! Dasar laki-laki biadab!" teriak Adiva seraya menggedor-gedor pintu depan rumah pak Nick.


Alzam menunggu dari belakang pak Nick keluar menemui mereka, dan tak lama berselang orang yang mereka tunggu-tunggu akhirnya keluar. Dengan polosnya pak Nick masih menampakkan wajah yang ramah dan sok lugu didepan mereka, seolah tidak ada sesuatu yang sedang terjadi pada keluarga mereka, kejahatan yang telah ia perbuat kepada sang istri.


"Selamat pagi? Ada yang bisa saya bantu? Kenapa kamu menggedor keras pintu rumah saya ya? Nanti kalau pintu saya rusak bagaimana mba?" tanya pak Nick seraya menghadapkan wajahnya sok lugu kepada Adiva.


"Pintu rusak mah nggak seberapa! Kalau wajah anda saya bonyokin mau? Dimana istri anda?" balas Adiva balik bertanya.


"Ouh... Dia... Hmm, sedang tidak ada dirumah. Dia sedang pergi ke rumah orangtuanya di kampung. Di Boyolali, ada apa kamu mencari istri saya?" jawab pak Nick berbohong.


"Anda mau berbohong ya? Buat apa coba anda melakukan kebohongan itu kecuali karena anda ingin menutupi borok anda sendiri!" tukas Alzam dengan nada bicara yang terdengar dingin. Tatapannya juga ikutan dingin menetra kepada seorang laki-laki yang sedang berdiri gemetar di depannya.


"Sa saya tidak bohong! Saya berkata jujur."


"Kalau nggak bohong ngapain situ kaya gugup? Ngomong aja kaya gagu. Dimana mba Jenna hah? Kamu siksa dia lagi!" tanya Adiva dengan wajahnya yang semakin nyolot seperti preman mau malak korbannya.


"Tidak! Dia tidak ada dirumah. Demi Tuhan, saya tidak pernah lakuin perbuatan yang kasar-kasar sama dia, sungguh!" bohong pak Nick seraya mengangkat kedua jarinya, jari telunjuk dan jari tengah ia angkat keatas.


"Nggak usah bawa-bawa Tuhan segala! Cepat kamu akui kesalahan kamu selama ini sama mba Jenna! Selama ini, kamu suka siksa dia kan! Hayo ngaku!" paksa Adiva seraya menarik kerah baju pak Nick.


Pak Nick semakin gemetar ketakutan. Didepan istrinya dia berani bertindak semena-mena, tapi didepan Alzam dan Adiva, dia tampak seperti seekor tikus yang ketakutan ketika berjumpa dengan kucing, yang bersiap menerkamnya hidup-hidup. Pak Nick tak berani melawan tetangganya.


"Baik... Tolong lepaskan tangan kamu dulu?" pinta pak Nick.

__ADS_1


Lantas Adiva melepaskan tangan yang barusan ia gunakan untuk menarik kerah baju laki-laki kejam itu.


"Iya saya akui memang selama ini saya sudah jahat sama Jenna. Saya menyesal dan saya ingin meminta maaf sama dia. Saya sering mukulin dia, saya juga telah menuduh dia yang bukan-bukan." tutur pak Nick mengakui.


"Tapi sekarang dia entah berada dimana. Saya ingin sekali mengucapkan kata maaf itu sekarang, kepadanya, dan kita kembali bersama memulai dari awal hubungan yang kompak dan bahagia. Saya berjanji tak akan mengulanginya kembali." lanjut pak Nick dengan tampangnya yang sok dimelas-melasin.


Alzam bisa membaca kalau pak Nick tidak benar-benar tulus ingin minta maaf kepada Jenna, dilihat dari gerak-gerik wajahnya itu, yang seperti dimelas-melasin.


"Kalau kamu merasa bersalah, kenapa kamu nggak mencari istri kamu sampai dia ditemukan? Apa kamu tidak takut terjadi sesuatu yang buruk kepada dia? Malah asyik leha-leha dirumah!" sindir Adiva.


"Iya, saya akan segera mencarinya. Tolong kalian jangan ikut campur sama urusan rumah tangga saya lagi. Ini bukan ranah kalian! Mengerti!" jawab pak Nick marah yang kemudian ia menutup pintu depan rumah dengan cepat, tak lupa juga menguncinya.


"Ih dasar nggak sopan banget sih main tutup pintu segala! Keluar lo!" pekik Adiva tidak terima, sembari menendang kencang pintunya.


"Udah sayang, sebaiknya kita pulang saja kerumah. Ingat kamu lagi hamil, jangan nantangin orang berkelahi ya? Saya nggak mau anak saya dan juga kamu kenapa-kenapa."


***


Kembali ke keadaan di dalam penjara. Mama Linda tengah menyapu lantai dengan sangat teliti dan cekatan. Lantai harus bersih sebelum di pel juga sebentar lagi sama tahanan yang lain. Tahanan lain yang melihat cukup kagum melihat keuletan mama Linda dalam bersih-bersih sekarang, tak sepemalas waktu sebelumnya ia baru masuk penjara.


"Wah itu tahanan emak-emak sekarang udah berubah ya, jadi rajin kek gitu. Gua suka lihatnya."


"Iya, semoga dia rajin terus dah. Dan semoga itu bukan pencitraan saja. Kita harus dukung orang-orang yang mau melakukan perubahan kepada kehidupannya, ya seperti kita dukung diri kita sendiri."


"Iya."


Mama Linda senyum-senyum manja mendengar pujian itu, seraya semakin semangat dalam menyapu lantai. Seorang sipir gembrot datang menghampiri mama Linda, memberikan pujian atas keuletannya dalam bekerja sekarang.

__ADS_1


"Wah, gini dong baru oke! Saya suka melihat bu Linda yang makin kesini makin rajin. Citra seorang tahanan baik akan ibu dapatkan. Semoga ibu secepatnya bisa bebas ya, mendapat maaf dari keluarga anda?"


"Iya semoga saja,"


"Yuhuu, semua orang sekarang udah percaya kalau saya udah terlihat baik. Spadaa, semoga dengan ini menantu sialan itu mau bebasin saya!" harap mama Linda dalam hatinya.


***


Jenna sedang duduk sendiri ditepi jalan, tepatnya dibawah pohon ia berteduh, dari panasnya terik matahari. Jenna mengamati kendaraan-kendaraan yang melintas. Jenna menangis dan juga rasanya lemas, karena belum mengisi perutnya dari pagi. Mau meminta-minta tapi Jenna merasa malu, itu adalah perbuatan memalukan. Jenna tidak bisa gini terus, kalau perutnya tak kunjung diisi, bisa-bisa dirinya mati kelaparan.


"Tetapi mati kelaparan mungkin emang yang terbaik buat aku. Cara pelan biar aku bisa pergi dari dunia yang fana ini untuk selamanya." sedih Jenna berkata.


"Daripada aku berhadapan dengan iblis itu. Atau aku mendengar kabar kematian anak-anakku sendiri di Amerika."


Tapi penolong bisa saja ada disaat orang yang terdzolimi sedang merasa sengsara, atau dipuncak kepayahannya. Kebetulan Alzam dan Adiva menjumpai Jenna yang sedang duduk dibawah pohon tepi jalan seperti seorang pengemis.


Adiva juga tahu kalau Jenna tampaknya sedang menangis sedih. Mereka berdua langsung menghentikan mobil. Mereka juga sebenarnya sedang mencari keberadaan Jenna.


"Jenna, kamu ngapain disini? Ikut sama kita yuk?" ajak Adiva lembut.


"Nggak Adiva makasih. Aku nggak mau ngrepotin kalian lagi, aku disini aja." tolak Jenna.


"Kamu udah makan, udah minum? Ya ampun, wajah kamu pucat sekali Jenna. Aku nggak akan biarin kamu seperti ini. Tadi aku udah labrak suami kamu."jelas Adiva.


Jenna tampak terhenyak saat mendengar ucapan Adiva barusan.


" Melabrak dia?" tanya Jenna dengan ekspresi kaget.

__ADS_1


𝘽𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙗𝙪𝙣𝙜


__ADS_2