
"Sudahlah sayang jangan rusak mood saya malam ini. Lebih baik sekarang kita tidur saja ya? Aku capek mulai besok mau sibuk kerja lagi."
"Mas aku mohon, kamu mau ya memaafkan mama? Maksudnya kamu harus tetap mau menerima mama kamu sebesar apapun kesalahan dia. Jangan memutus silaturahmi dengan mama, mas?"
Alzam menarik selimut putihnya tidak mau menggubris Adiva lagi. Adiva dihujani kekecewaan melihat sikap Alzam yang masih terus begitu kepada mamanya. Tapi disisi lain Alzam juga tengah memikirkan soal perkataan Adiva yang menyuruhnya untuk bisa menerima mama Linda kembali sebagai ibunya.
Hingga haripun berganti. Cerita telah berubah. Hari kemarin adalah hari kemarin sedangkan hari ini adalah hari ini. Alzam membuka kedua matanya setelah sayup-sayup mendengar suara adzan yang berkumandang di ponselnya. Fitur adzan otomatis di ponselnya selalu Alzam aktifkan karena rumahnya yang jauh dari jangkauan masjid atau musholla.
Saat melihat ke sampingnya dan akan membangunkan istrinya, Alzam terkejut karena Adiva sudah tidak ada lagi di sampingnya.
"Sayang, sayang, kamu dimana?" panggil Alzam.
Namun tak kunjung ada jawaban dari Adiva yang mungkin Adiva sedang tidak berada di dalam kamar ini. Alzam mencari Adiva keluar mau mengajaknya sholat berjamaah, namun saat ditanyakan ke semua bodyguard dan pembantu, mereka sama sekali tidak tahu Adiva sedang berada dimana.
"Apa! Kalian tidak tahu istriku ada dimana? Kalian semua segera cari istri saya diluar!" titah Alzam kepada para bodyguardnya.
"Siap tuan." jawab para bodyguard.
Alzam mendadak cemas karena istrinya tiba-tiba menghilang padahal sekarang suasana terbilang masih cukup gelap. Kenapa Adiva tiba-tiba bisa menghilang? Apa ada yang berhasil menculiknya? Padahal semua pintu dan jendela selalu dipastikan sudah terkunci dengan aman.
Alzam menghubungi polisi karena istrinya yang tiba-tiba menghilang. Sudah tiga jam mencari tapi para polisi dan bodyguard belum juga menemukan Adiva. Keyakinan Alzam semakin kuat kalau Adiva memang diculik oleh seseorang dan pelakunya ia yakin adalah mamanya sendiri.
Alzam menelpon Daffa mau mengabarkan kalau istrinya hilang diculik oleh mama Linda. Sama seperti dulu mama Linda pernah menculik Amel sampai nekat menghabisi nyawa Amel. Lutut Alzam rasanya lemas, tapi barusan polisi bilang waktu dilakukan pencarian di rumah tepi rel kereta waktu itu, mereka tidak menemukan ada Adiva atau mama Linda ada disana.
__ADS_1
"Semoga Adiva tidak diapa-apain sama mama, semoga Adiva tidak bernasib sama seperti Amel. Yang harus mati mengenaskan ditangan mama. Mama benar-benar orang yang kejam. Tidak ada kapok-kapoknya dia menganggu kehidupan para menantunya." harap Daffa dengan nada bicara yang terdengar panik.
Kemudian Alzam menutup sambungan teleponnya bersama Daffa. Alzam ingin mencari Adiva sendiri sampai ketemu dengan menaiki mobilnya. Saat kebingungan mencari dimana keberadaan Adiva dengan menaiki mobilnya, Alzam tidak mau menyerah. Alzam harus bisa menemukan istrinya sampai ketemu.
Tetapi sudah berjam-jam mengelilingi banyak tempat Alzam tak kunjung juga menemukan keberadaan Adiva. Tidak ada petunjuk yang bisa memudahkan Alzam untuk melacak atau mencari keberadaan Adiva.
"Dimana kamu sayang?" ucap Alzam cemas sembari memukul-mukul stir mobil.
Bensin mobilnya akan habis hingga Alzam harus segera segera mencari pombensin terdekat biar mobilnya tidak kehabisan bensin di tengah jalan. Setelah mengisi bensin di pombensin terdekat, Alzam kembali melanjutkan pencarian mencari istrinya.
Tiba-tiba saat mobilnya melintas di dekat kebun kosong, ponselnya berbunyi tanda ada pesan yang masuk. Untuk membaca pesan itu dengan aman, Alzam harus semakin berhati-hati dalam menyetir mobilnya. Alzam memelankan laju mobilnya kemudian mulai membaca pesan yang dikirim dari nomor tak dikenal itu.
"Istri kamu sekarang ada bersama saya. Kalau kamu mau dia selamat, segera datang ke tempat ini, sebuah bangunan tua didekat jalan Pisang Raja. Ingat, jangan bawa polisi atau saya akan menghabisi nyawa istri kamu." ketik orang itu.
"Kamu jangan sok tahu siapa saya, belum tentu saya ini adalah mama kamu. Bisa jadi saya ini musuh perusahaan kamu kan? Gimana saya ingin menghancurkan hidup kamu dengan menyakiti istri kamu." balas nomor misterius itu lagi.
Daripada membalas pesan itu lagi Alzam tak mau diam berlama-lama, harus segera sampai di tempat yang dimaksud oleh orang itu. Alzam mengebutkan laju mobilnya menuju tempat yang dimaksud oleh orang itu.
Mobil Alzam sampai di jalan Pisang Raja. Untuk sampai ke wilayah itu ternyata tidak ada akses jalan yang bisa dilewati oleh mobil. Alzam pun terpaksa jalan kaki menyusuri perkebunan yang dimana di tempat ini banyak pepohonan rimbun meneduhkan manusia yang melintas dibawahnya.
Demi keselamatan istrinya apapun akan Alzam lakukan. Termasuk bergelut dengan semak-semak liar yang membuat badannya menjadi gatal. Perjuangan seorang suami yang begitu mencintai istrinya.
Alzam memindai keadaan di sekitarnya, semuanya adalah semak dan juga sarang laba-laba. Lalu Alzam melihat ada siput yang sedang nemplok di sebuah pohon, ada sesuatu yang menariknya untuk berhenti melangkah. Sesuatu yang ia lihat ada disisi siput itu. Sebuah anting yang ia kenali seperti anting mirip punya Adiva.
__ADS_1
Alzam mengambil anting yang tergeletak didekat siput itu. Yang membuat Alzam terkejut adalah ketika Alzam melihat ada bercak darah di anting ini. Hatinya semakin cemas. Alzam membayangkan telinga Adiva terluka oleh orang yang menculiknya, bahkan sampai antingnya terlepas hingga ada bercak darah di anting ini.
"Adiva!!" teriak Alzam memanggil istrinya.
Alzam kembali melanjutkan langkahnya. Kakinya terus bergerak menerjang rumput-rumput liar yang ada di perkebunan kosong ini hingga netranya melihat ada sebuah bangunan tua besar didepannya. Seperti bekas pabrik di masa lalu. Alzam mengamati bangunan tua itu sejenak kemudian masuk kedalamnya.
"Adiva! Kamu dimana!" teriak Alzam memanggil istrinya di bagian ruang depan dari bangunan itu. Alzam melihat sekeliling, suasananya tampak sepi sekali.
Alzam kembali mengirim pesan kepada nomor misterius itu.
"Dimana kalian? Dimana istriku? Apa yang kalian inginkan? Kalau kamu adalah mama, tolong jangan melakukan pembunuhan lagi ya. Membunuh itu bukan dosa kecil, tapi dosa yang sangat besar. Bahkan kalau mama bertaubat sekalipun, belum tentu Allah akan mengampuni dosa membunuh itu. Kecuali orang yang terbunuh mau memberikan maaf di akhirat nanti."
"Kamu jangan menceramahi saya ya, kita ada disini kok coba cari saja ke ruangan lain. Kamu harus cepat, kalau sampai terlambat sedikit saja aku akan membunuh istri kamu!"
"Dasar keparat!"
Alzam nekat menelpon nomor itu karena saking kesalnya. Kalau ketemu Alzam ingin menghajar orang jahat itu sekalian.
Dan terdengar bunyi nada dering di sebuah ruangan yang jauh dari tempatnya menjejakkan kaki. Alzam bergegas berlari ke ruangan itu.
Alzam mencari-cari dimana ruangan itu dengan bermodalkan suara nada dering yang terdengar oleh telinganya.
Bersambung...
__ADS_1