
"Hahahahaha, saya cuma bercanda kali bang bodyguard, serius amat sih jadi orang, hehehe." kata Adiva seraya melepaskan Bandi.
"Ya harus serius dong, hidup itu harus serius, serius dalam segala hal. Menikmati sesuatu juga harus serius, jangan berniat bunuh diri lagi ya nyonya muda?"
"Iya." jawab Adiva seraya tersenyum sembari mengangguk.
"Makasih ya karena lo udah ingetin gue. Nanti habis ini gue mau pulang, mau sholat isya, terus mengaji. Gue mau mempebanyak ibadah buat bekal gue di hari yang abadi nanti. Gue gak mau sia-siakan hidup gue dengan perbuatan yang bodoh banget seperti itu. Bunuh diri bukanlah jalan untuk mengakhiri masalah, justru hanya akan menambah masalah yang baru saja. Sekali lagi, makasih banyak ya Bandi?"
"Nah gitu dong jadi bijak. Gua suka melihat lo yang kembali bersemangat. Jangan sedih lagi oke?"
"Iya, gue nggak akan sedih lagi. Udah deh, habis ini jangan terlalu sok perhatian, lo kan cuma bodyguard gue, hmm."
"Ya nggak apa-apa lah emangnya ada niat gue ingin memiliki lo? Lagian lu juga mengingatkan gua sama adik cewek gua. Dia juga tomboy, sifat buruknya adalah jorok dan suka keluyuran. Rambut dan style berpakaian lo sama persis seperti dia,"
"Wah, keren banget! Kenalin dong sama adik lo itu? Gue ngerasa kita sama-sama satu jiwa deh. Sama-sama tomboy, sama-sama suka kelayapan, asyik, bukan cuma gue aja kan yang kek gini? Kasih tahu nomor HP dia? Gua ingin sahabatan sama adik cewek lo itu? Mending dia aja yang jadi bodyguard buat gue deh,"
"Iya seandainya gue bisa, pasti gua akan kasih tahu kontak dia ke lo. Tapi sayangnya gua nggak bisa dan nggak akan mungkin bisa sih,"
Wajah Bandi berubah menjadi sedih dan Adiva bisa membaca pikiran Bandi kalau ternyata, adiknya yang dimaksud itu sudah tidak ada lagi di dunia ini.
"Iya, gue tahu maksud lo apa. Adik lo udah meninggal kan, bang bodyguard?"
__ADS_1
"Dia dibunuh sama preman suruhan orang, yang sampai sekarang, gua masih menyelidiknya dan belum terungkap siapa pelakunya, yang udah menyuruh preman itu bunuh adik gua. Gua dendam banget sama orang itu, nggak tahu adik gua punya salah apa sampai dia tega dibunuh sama preman suruhan orang jahat," tukas Bandi seraya terisak sedih, lalu mengusap air mata dukanya.
"Gue turut berduka yang bang bodyguard, gua yakin lo adalah orang yang kuat dan tabah. Hmm, emangnya preman suruhan itu nggak mau kasih tahu siapa yang udah nyuruh dia?"
"Dia udah mati. Waktu preman itu tertangkap dan akan dimintai keterangan, besoknya dia ditemukan mati keracunan didalam kantor polisi. Mungkin tersangka utamanya nggak mau ketahuan kali sampai ia tega meracuni preman yang ia suruh ngebunuh adik gua. Di ponsel preman itu juga nggak ada petunjuk apa-apa soal tersangka utamanya."
"Membahas soal pembunuhan, gue juga sampai sekarang masih penasaran sama pelaku yang udah menembak mati kakak gue, persis didepan rumah mama mertua!"
"Iya, dulu gua juga pernah dengar soal itu. Gua pernah baca breaking news itu di koran. Gua juga penasaran, siapa sih orang keji yang menembak mati kakak lo,"
"Ah, gue ada ide! Gimana kalau kita berdua sama-sama menyelidiki kasus kematian mereka. Kan polisi belum bisa tuh mengungkap atau menemukan siapa pelaku dari pembunuhan itu, gimana bang, lo mau gak kerjasama bareng gue? Kita jadi detektif gitu?"
"Oke gue mau-mau aja deh. Semoga kita bisa mengungkap kasus pembunuhan mereka,"
Diam-diam ada seorang wanita yang sedang mengamati mereka berdua ngobrol ditepi jembatan. Kebetulan wanita manja dan licik itu lewat, ya, dia adalah sekertaris Dina, sekretaris Alzam di perusahaan.
Wanita itu membuka ponselnya, lalu merekam aksi Adiva dan Bandi yang sedang ngobrol berdua di tepi jembatan. Sekertaris Dina akan mengirimkan bukti itu buat memanas-manasi Alzam.
Singkat waktu video rekaman itu terkirim ke WA Alzam. Alzam langsung membuka video itu lalu mempertanyakan, kenapa sekertaris Dina mengirimkan video ini?
"Apa maksudnya video ini, sekertaris Dina?" tanya Alzam mengirim chat.
__ADS_1
"Dih, kenapa pak CEO Alzam yang terhormat ini tidak cemburu? Itu loh, istrimu, lagi selingkuh sama berondong kekar. Bapak yakin, nggak mau marahin dia?"
"Sekertaris Dina, kamu jangan sok tahu tentang kehidupan saya dan istri saya! Mana mungkin saya akan marah kalau kamu mengirimkan video ini?"
"Loh, kenapa bapak tidak mau marah ya? Bukannya ini udah jelas saya bantuin bapak, saya kirimkan video bukti perselingkuhan istri bapak. Harusnya bapak marah juga berterimakasih kepada saya dong pak?"
"Buat apa saya marah, buat apa saya berterimakasih. Tolong jangan buang waktu saya dengan hal yang tidak penting. Dia itu bodyguard istri saya, saya yang bayar dia buat menjaga istri saya kemanapun dia pergi." ketik Alzam full capslock.
Sekertaris Dina menjadi malu karena sudah salah menduga, apalagi sampai mengirimkan bukti yang tidak benar adanya. Dinda langsung menonaktifkan ponselnya setelah ia mengirimkan video yang ia pikir, akan membuatnya menjadi mudah dalam mendapatkan perhatian Alzam. Ia kira Alzam akan marah dan membenci istrinya, lalu dirinya bakal leluasa buat deketin Alzam.
"Ya ampun, malu banget gue, sumpah! Ternyata itu bodyguard si istri sah. Aduh, gimana besok di kantor ya, gue takut disuruh pak Alzam ke bagian HRD, buat mengurus surat pengunduran diri, hohoho semoga nggak." harap Dinda membatin cemas.
Dinda kembali melajukan mobilnya yang ia berhentikan di dekat jembatan. Sementara itu Adiva dan Bandi merasa heran melihat ada mobil lewat yang tiba-tiba ngebut. Bahkan karena kengebutan laju mobil itu, ban mobil sampai mengenai genangan air dan mereka berdua alhasil terkena cipratan air yang kotor.
"Aaaaaa, sial! Lagi-lagi baju gue kotor kena air. Iih, dasar lo pengemudi edan! Awas aja lo gue hapalin plat nomor mobil lo, besok kalau ketemu, gue hajar lo habis-habisan!" seru Adiva sangat murka seraya menunjuk-nunjuk kearah mobil sekertaris Dina yang melaju dengan kencang.
"Sabar dong! Kalau lo menghadapi orang dengan kemarahan dan juga pakai kekerasan, bisa buat diri lo bisa ngerugi aja nggak sih. Santai aja dong kaya dipantai,"
"Iya-iya, bodyguard bawel. Gimana gue bisa santai coba? Gue udah wangi udah mandi tapi kena siraman air kotor lagi?!"
Lantas mereka berdua kembali ke rumah mama Linda. Namun Bandi hanya mengantar Adiva sampai di depan rumah saja. Kemudian Bandi pamit dan menyuruh Adiva menitipkan ucapan rasa terimakasihnya buat Daffa, karena udah dikasih kesempatan buat mandi di dalam rumah tadi. Juga diberi minum teh manis hangat dan juga dikasih baju ganti yang Daffa berikan secara gratis.
__ADS_1
Adiva mengangguk senang lalu masuk kedalam rumah. Adiva akan mandi lagi, hari ini ia mandi tiga kali. Bajunya kotor lagi dan saat memasuki ruang tamu, mama Linda lagi-lagi ia lihat sedang berdiri dalam keadaan yang sedang marah.