
"Abis ini tolong bawa mama ketemu sama Daffa ya Alzam, Adiva, habis ketemu sama Daffa baru deh mama siap untuk menjalani hukuman mati."
Alzam dan Adiva mengangguk dengan senang juga sedih karena mama Linda akan menjalani hukuman mati sebentar lagi. Kemudian, mereka berdua sama-sama berjalan menuju mobil Alzam yang terparkir di tepi jalan Pisang Raja.
Ilalang ilalang menghalangi pandangan mereka saat melangkah menuju tepian jalan. Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah Daffa.
Rumah yang dibeli dengan harta mama Linda waktu itu. Mama Linda turun dari mobil kemudian kembali memasang maskernya. Mama Linda ingin membuat kejutan kepada Daffa nanti.
Daffa sendiri sedang masak sesuatu di dapur dan sesuatu itu adalah makanan kesukaan Amel. Daffa ingin bernostalgia mengenang sewaktu Amel masih hidup dengan membuat masakan kesukaan Amel. Sampai sekarang Daffa masih begitu mencintai almarhumah istrinya itu.
Saat pintu depan ada yang mengetuknya, seorang pembantu bergegas membukakan pintu untuk Alzam dan Adiva.
"Eh ada tuan Alzam, mari masuk tuan? Tuan Daffa sedang masak di dapur," tutur pembantu itu.
Kemudian Alzam dan Adiva masuk duluan kedalam rumah sedangkan mama Linda masih duduk menunggu di dalam mobil Alzam. Alzam dan Adiva menyusul Daffa ke dapur.
"Hai adik kebanggaan kaka?" sapa Alzam melangkah masuk membuat Daffa yang sedang memotong bumbu terkejut girang melihat kehadiran kakaknya.
"Woy lu kak, tumben datang kesini siang-siang? Nih gua lagi masak makanan kesukaan almarhumah Amel. Nanti kita makan siang sama-sama ya?" ajak Daffa excited.
Alzam dan Adiva tampak termenung ketika Daffa membahas soal Amel.
"Daf, stop dulu apa yang sedang kamu lakuin. Ada seseorang yang ingin menemuimu diluar," tutur Alzam.
"Wah siapa kak?"
"Ayo ikut kita."
__ADS_1
Daffa mengikuti Alzam dan Adiva menuju luar rumah. Saat sampai didepan rumah Daffa melihat ada seorang wanita yang sedang berdiri di sisi mobil Alzam. Sorot mata dari wanita itu tampak Daffa kenali, itu seperti ibunya.
"Itu siapa kak?"
"Itu adalah perempuan yang pernah mengandung kita, merawat kita, sampai kita bisa jadi seperti ini."
Sekejap Daffa merasa heran dengan perkataan Alzam. Bukankah kemarin Alzam begitu membenci ibu mereka, tapi sekarang seketika Alzam sudah berubah tidak membenci lagi. Apakah gerangan yang membuat Alzam berubah pikiran mau lagi mengakui mama Linda sebagai ibunya.
"Kak, kamu serius? Itu mama kita? Tapi bukannya dari kemarin kakak begitu membenci dan mewaspadai dia kak?"
"Sekarang lupakan itu semua. Daffa, kita harus selalu menerima dan menyayangi ibu kita sebesar apapun kesalahan beliau. Karena biar gimanapun, darah beliau mengalir di tubuh kita." titah Alzam ingin Daffa sama sepertinya juga.
Tiba-tiba Daffa teringat peristiwa mengerikan itu. Ketika istrinya ditemukan tewas bersimbah darah didalam rumah tepi rel kereta. Ketika Dilla seketika kehilangan sosok seorang ibu kandung untuk selamanya.
Rasanya begitu sulit untuk melupakan apalagi memaafkan kesalahan mama Linda. Tetesan air mata mengalir dari bola mata Daffa. Daffa berjalan cepat kedalam rumah kemudian dia mengunci pintu depan rumah.
"Daffa! Daffa! Kenapa kamu tutup pintu dek!" lantang Alzam memanggilnya sembari menggedor pintu depan.
Daffa menangis kencang dibalik pintu itu disaksikan oleh pembantu-pembantunya. Para perempuan yang bekerja kepada Daffa juga ikut bersedih melihat tuan mereka menangis seperti itu.
"Tuan?" panggil salah satu dari mereka, iba melihat tangisan tuannya.
"Jangan menangis lagi tuan, kita sedih melihat tuan muda seperti ini. Tuan, kita berharap jangan terlarut memendam rasa benci pada ibumu sendiri." ucap pembantu yang lain berharap semoga Daffa mau membuka hatinya lagi untuk sang ibu.
"Daffa buka pintunya! Kamu nggak boleh seperti itu dek! Maafkan kesalahan mama! Kamu jangan egois ya! Buka atau kakak akan dobrak pintu ini!" titah Alzam dengan suara lantang. Seperti biasa, Alzam lebih mengedepankan kekacauan dibanding kelembutan kalau kepada adiknya.
Adiva mencegah Alzam buat bertindak seperti itu. Adiva menarik Alzam untuk menjauh dulu dari depan pintu.
__ADS_1
"Mas, tahan emosi kamu! Sebaiknya kita menunggu Daffa sampai dia tenang dulu. Kamu selalu tidak bisa bersikap lembut dikit sama adik kamu ya? Dengar kan? Daffa nangis kenceng banget! Apa kamu ga kasihan sama saudara kamu sendiri?" bisik Adiva dan itu menusuk sekali kata-katanya.
Alzam mengangguk dengan rasa sesal kemudian Alzam melangkah menghampiri mama Linda.
"Mama, jangan nangis juga ya?"
"Mama benar-benar membenci diri mama sendiri nak. Seandainya waktu bisa diulang, mama pasti ga akan mau lakuin kesalahan-kesalahan itu nak, kesalahan yang benar-benar keji, benar-benar busuk! Benar-benar nggak pantes buat dimaafin!" ucap mama Linda sembari terisak penuh dengan penyesalan. Mama Linda menatap ke sebuah bunga, ada lebah disitu. Rasanya mama Linda ingin menelan lebah itu hidup-hidup, dengan itu lehernya akan terluka dari dalam dan mati.
Alzam kembali memeluk ibunya, memberi dukungan untuk ibunya supaya jangan terus bersedih seperti ini. Apalagi punya pikiran untuk membunuh diri sendiri dengan cara konyol seperti itu.
"Aku yakin ma pasti Daffa mau berbicara dengan mama lagi. Tunggu saja sebentar disini ya, Alzam mau berusaha bujuk dia lagi? Doakan saja semoga kali ini berhasil."
Mama Linda mengangguk dan setelah itu giliran Adiva yang berdiri disisi mama Linda, menemani mama Linda sembari menunggu Daffa mau keluar menemui mamanya.
Adiva memberikan senyuman untuk sosok mama mertua yang sedang dihujani dengan rasa penyesalan itu. Alzam kembali melangkah ke dekat pintu kemudian tangannya bergerak mengetuk pintunya dengan pelan.
Akan berusaha lagi membujuk Daffa namun kali ini adalah dengan kelembutan, bukan dengan emosi yang mengacaukan seperti tadi.
"Daffa, dia adalah ibu kita. Dia memiliki peranan yang sangat penting dalam hidup kita dari kita masih jabang bayi hingga besar seperti sekarang. Apa kamu tidak berkenan lagi buat keluar menemui ibu kita? Daffa?"
Daffa mengusap air matanya lalu kakinya mulai berdiri meski terasa lemas. Perlahan, Daffa mulai memutar kunci dari pintu itu. Daffa pelan-pelan membuka pintunya, melihat Alzam yang sedang menunggunya dengan senyum yang manis didepan pintu.
"Daffa akhirnya kamu mau keluar."
"Apa mama masih ada disini kak?"
Alzam menunjuk sang ibu yang masih setia menunggu didekat mobilnya. Melihat sang ibu masih ada disitu, Daffa berlari memeluk ibunya lalu bersimpuh di kaki ibunya.
__ADS_1
"Maafin Daffa ya ma? Selama ini Daffa kecewa karena mama membunuh Amel dengan keji. Daffa benar-benar membenci mama karena peristiwa kelam itu. Tapi setelah Daffa melihat mama berubah, rasanya Daffa akan merasa berdosa jika Daffa tidak mau berbicara dengan mama lagi, maafin aku?" ucap Daffa terisak sedih sembari memeluk kaki ibunya.
Bersambung...