MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Si Tomboy Jadi Putri Kerajaan


__ADS_3

"Lalu apa yang mau mama lakukan lagi? Apa mama gak lelah akan terus mengganggu dan menyudutkan menantu mama sendiri?"


Mama Linda menatap ke wajah Daffa sejenak dengan tatapan yang agak melotot, kemudian mama Linda menganggukan kepalanya.


"Sampai dia cerai dengan Alzam, mama akan terus mengganggu dan juga menyudutkan dia, bahkan mama tak akan segan-segan untuk menyiksa dan memukul dia dibelakang Alzam, seperti apa yang dulu mama lakukan kepada Zahra, karena mama adalah seorang mertua yang begitu membenci menantu-menantu kere, nggak berguna bagi mama! Sampah njir!"


Daffa merasa hatinya sedih, dirinya sedih karena punya ibu yang jahat, selama ini Daffa merasa hidup dalam kendali ibunya, dirinya juga dididik untuk menjadi sepertinya, orang yang memandang kekayaan sebagai tujuan utama dalam pernikahan. Namun sebenarnya Daffa tidak terlalu memandang kekayaan, Daffa hanya memandang paras Amel yang cantik bak bidadari. Daffa pemuja kecantikan dan dia ga mau sepicik ibunya.


"Lalu bagaimana dengan perjodohan kamu dengan Amel yang akan dilangsungkan hari ini, bentar lagi. Yaudah gih, kita siap-siap sama penampilan terbaik kita," ajak mama Linda bersemangat.


"Ya siap dong ma, yaudah aku mau ganti pakaian dulu,"


Saat siang


Adiva sedang berdiri di tengah tangga. Hari ini Adiva disuruh Alzam untuk mengambil cuti kuliah karena harus ada dalam pesta pertunangan adik iparnya.


Alzam berjalan menuruni anak tangga, kebetulan sekali Adiva ada di tangga sehingga dirinya tidak perlu repot-repot mencari Adiva sedang berada dimana. Rumah mereka begitu luas bak mansion. Kehadiran Alzam disambut dengan cukup ramah oleh Adiva.


"Eh kakak kesayangan,?"


"Suami! Kamu siap-siap gih, jangan lupa pakai baju yang menarik dan jangan malu-maluin saya, oke?"


Adiva mengangguk diiringi senyuman kemudian berlari ke kamar. Adiva membuka lemari memilih baju mana yang ingin ia pakai? Setidaknya harus sopan kala akan bertemu dengan banyak orang nanti.


Adiva mengambil sebuah kaos elegan dan juga celana jeans panjang yang tidak terlalu ketat, pakaian yang ia ambil itu tidak akan cocok dipakai saat tampil di pesta pertunangan, karena rata-rata perempuan yang hadir semua memakai gaun yang panjang dan elegan, kecuali remaja yang umumnya memakai gaun panjang selutut.


"Kalau gue pakai kaos dan celana jeans ini, nanti penampilan gue bakalan beda sendiri. Ntar yang ada, gue jadi bahan omongan orang-orang? Tapi pakaian ini kan style kesukaan gue? Gue jadi bingung mau memutuskan apa nih? Disisi lain, gue nggak mau malu-maluin suami gue?" batin Adiva, bingung.

__ADS_1


Adiva mencari lagi di lemari kiranya apa pakaian yang tidak akan memalukan suaminya nanti. Adiva melihat, ada gaun berwarna pink yang beberapa saat lalu dibelikan oleh Alzam dan belum ia pakai. Adiva mencoba memakai gaun itu dan gaun itu terlalu ketat sehingga Adiva merasa sangat seksi kala memakai gaun ini. Warnanya juga feminim. Adiva merasa ga nyaman.


"Hmm, nggak nyaman. Ini mah feminin banget, ganti lagi ah,"


Adiva membuang gaun itu ke lantai kemudian mencari lagi gaun yang pas. Adiva sibuk mencari-cari gaun hingga tak sadar dirinya telah menumpuk banyak pakaian diatas lantai.


"Belum nemu juga gaes!"


Adiva melihat ke lantai.


"Ya ampun, gue udah bikin kekacauan ini, gue harus segera merapikannya," ucap Adiva kaget saat melihat banyak pakaian dan gaun yang menumpuk diatas lantai.


Beruntung beberapa saat, diantara tumpukan pakaian itu, setelah dilihat-lihat lagi, Adiva menemukan gaun yang pas dan elegan untuknya. Adiva akan memakai gaun itu dan Adiva juga akan make over dirinya sendiri di depan kaca.


Singkat waktu Alzam, mama Linda, Daffa, sudah tiba dirumah keluarga Amel. Adiva datang belakangan bersama sopir lain. Tadi Alzam belum melihat penampilan istrinya. Mereka datang beriringan membawa mobil-mobil kelas atas.


Alzam sedang merasakan was was dalam dirinya, takut penampilan Adiva hanya akan membuat dirinya malu, tapi apapun itu, Alzam tetap akan membela Adiva dihadapan semua orang nanti kalau Adiva dipojokkan lagi.


"Selamat datang calon besan," sapa mamanya Amel sembari menyalami keluarga mama Linda.


"Hmm, calon menantu mama," Lanjut girang mama Linda sembari memeluk Amel yang berdiri anggun di dekat dekorasi cantik.


Mama Linda memeluk Amel dengan hangat, dia akan menjadi menantu kesayangan dan kebanggaan mama Linda nanti. Tentu saja itu karena kekayaan Amel dan orangtuanya. Amel menjadi perempuan yang paling cantik dan paling menawan dari semua perempuan yang hadir dalam pesta pertunangannya.


"Cantik banget ya tunangan wanitanya," puji banyak orang yang hadir dalam pesta pertunangan Daffa dan Amel. Mereka semua sangat mengagumi kecantikan yang dimiliki oleh Amel. Amel tersenyum terus, merasa bangga dan tersanjung karena dirinya dianugerahi wajah yang secantik itu. Tappi disisi lain Amel merasa terpukul karena wajah cantiknya tidak berarti bagi Alzam yang sudah menolaknya dengan mentah-mentah.


Amel terus memandang kearah Alzam yang masih berdiri jauh darinya. Bukan Daffa yang berada didalam hati Amel, tapi kakaknya yang baginya jauh lebih gagah, Amel hanya suka kepada Alzam. Menikah dengan Daffa akan menjadi cara bagi Amel untuk mendekati Alzam nantinya.

__ADS_1


"Baiklah semuanya, sebentar lagi acara pasang cincin pertunangan anak saya dan juga calon mantu kebanggaan saya akan segera dimulai. Terimakasih atas kehadirannya ya?" ucap mama Linda memakai sebuah microfon.


Semua tamu undangan mengambil tempat duduk berupa kursi yang empuk.


Alzam berjalan ke tempat yang agak jauh dari keramaian, tepatnya di ruangan tengah disamping sebuah guci besar, Alzam menghubungi Adiva yang masih di perjalanan.


"Halo, kamu kapan sampai? Pertunangan bentar lagi dimulai tuh,"


"Sebentar lagi kak, lima menit lagi, tungguin ya, sabar-sabar?"


Adiva sedang memakaikan lipstik merah merona di bibirnya dengan bantuan bi Sri di dalam mobil.


"Oke saya tunggu,"


Alzam mematikan sambungan teleponnya dengan Adiva kemudian Alzam kembali lagi ke ruangan utama. Tiga menit berlalu akhirnya make over Adiva selesai juga.


Adiva bercermin, bi Sri benar-benar banyak membantunya.


"Wah keren banget, gue udah seperti putri-putri di kerajaan dongeng. Gue nggak nyangka bi Sri bisa merubah gue jadi seperti ini? Makasih banyak ya bi?"


"Dulu sebelum saya bekerja sebagai pembantu nyonya Linda, saya pernah bekerja di salon kecantikan. Saya belajar banyak hal disana, namun karena salon kebakaran makannya semua pegawai jadi harus kehilangan pekerjaan mereka."


"Wah pantas saja hasil riasan bi Sri bisa sekeren ini, yaudah kalau gitu gue turun dulu ya bi? Udah sampai di rumah tunangan cewek."


"Iya non Adiva, saya yakin penampilan non Adiva nggak akan kalah cetar dari penampilan tunangan tuan muda Daffa," yakin bi Sri.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2