MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Sebuah Tes Penentuan


__ADS_3

Didalam Mobil Mewah Alzam Pradipta


"Tes pertama yang akan aku lakukan adalah tes materi, aku akan mengajak Amel jalan-jalan ke mall yang paling mewah di kota ini, lalu aku akan lihat, bagaimana sih dia ketika diajak kesana, apakah dia akan minta atau membeli yang macam-macam mahal atau tidak?" batin Alzam didepan stir mobil.


"Mas Alzam kamu kok bengong sih mas? Kamu lagi mikirin apa hayoo?" tegur Amel dari sampingnya.


"Hm, aku lagi mikir, aku mau mengajak kamu pergi ke mall yang paling famous di daerah ini, disana ada banyak sekali barang-barang dijual, barang edisi terbaru dan langka. Kesukaan para wanita. Kamu mau ga kita kesana?"


Amel sangat spechlees ketika Alzam mau mengajaknya pergi ke mall favoritnya, netranya sedikit melotot karena Alzam mau mengajaknya pergi ke mall itu, Amel tentu saja tidak akan menolak. Amel bisa memanfaatkan ajakan Alzam ini untuk membeli barang-barang branded kesukaannya nanti. Yuhuu, kesempatan emas dong, pikir Amel.


"Aku mau mas, aku mau banget!" jawab Amel jelas tidak mau menolak.


Amel sering menghabiskan waktunya untuk membuang-buang uang yang diberikan mama papanya, uang itu hanya ia hambur-hamburkan untuk beli barang-barang mahal kesukaan.


"Oke, kita berangkat." ucap Alzam seraya menaikan salah satu alis, kemudian menghidupkan mesin mobil.


Beberapa saat kemudian sampailah mereka di mall itu, mall yang selalu dikunjungi oleh orang-orang berduit. Termasuk mereka berdua yang juga berdarah biru. Hampir setiap minggu, Amel selalu datang kesini untuk membeli barang-barang mahal yang ia mau.


Pengeluaran Amel hanya untuk membeli barang-barang mahal setiap minggunya mencapai puluhan juta. Uang sebanyak itu bisa digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat. Tapi Amel selalu menghabiskannya hanya untuk gaya hidupnya yang hedonisme. Amel tidak peduli. Baginya, memanjakan dirinya dengan selalu membeli barang-barang mahal adalah prioritas.


"Kita udah sampai, kamu masuk duluan ya Amel? Aku nanti menyusul, kamu pilih apa yang ingin kamu beli, nanti aku yang bayar semuanya. Aku mau telepon dulu salah satu rekan bisnis aku, ada hal penting yang mau aku bicarakan dengan dia. "


"Serius mas? Kamu yang bayarin?"


Alzam mengangguk dengan tatapan yang biasa saja


"Oke kalau gitu aku masuk duluan ya mas."

__ADS_1


Amel keluar dari dalam mobil dengan perasaan riang, dirinya akan berbelanja sepuas hati tanpa perlu mengeluarkan uang sepeserpun. Amel masuk kedalam mall dengan sangat bersemangat, angin semilir menerpa rambut pirangnya hingga berkibar-kibar, menambah kesan epic pada diri Amel.


Alzam sebenarnya berbohong, Alzam tidak ada menelpon rekan bisnis dan hanya duduk terdiam, beberapa saat lagi ia akan masuk ke dalam mall untuk menyusul Amel. Untuk melihat apakah Amel akan menghabiskan banyak uangnya atau tidak.


Di dalam mall, Amel tengah asyik berjalan kesana kemari sembari memilah baju mana yang ia suka. Belanja adalah salah satu mood booster bagi wanita. Begitu juga dengan Amel, belanja adalah suatu hal yang bisa membuat dirinya menjadi kembali semangat! Belanja menghabiskan uang, pamer, dan foya-foya, adalah hiburan yang sangat menyenangkan baginya.


Dua puluh menit kemudian, Amel sudah membawa banyak barang belanjaan yang udah ditaruh dalam tas-tas belanjaan. Amel membeli tiga pasang baju dan celana yang stoknya sebentar lagi akan habis, bahkan Amel tadi sampai rebutan dengan pembeli yang lain. Untung dirinya yang beruntung mendapatkan baju-baju yang ia incar.


Belum puas membeli baju dan celana, tidak lupa Amel juga harus membeli tas dan sepatu mahal keluaran terbaru dari merk yang terkenal. Amel tidak sabar memamerkan barang-barang mahal yang baru ia beli hari ini kepada teman-temannya esok. Amel yakin Alzam tidak akan keberatan membayar semua ini. Karena yang ia tahu, Alzam adalah CEO kaya raya.


Pasti teman-temannya akan merasa sirik, apalagi semua barang yang Amel beli itu tidak menggunakan uang Amel. Amel merasa bangga karena hampir setiap minggu ia selalu membeli baju dan sepatu yang baru, begitu juga dengan tas. Amel sangat haus pujian dan selalu ingin menjadi pusat perhatian.


Alzam merasa sudah saatnya untuk keluar dari dalam mobil, akan masuk ke dalam mall menyusul Amel. Alzam mencari-cari Amel di dalam mall, Alzam berjalan mencari Amel di dalam ruangan demi ruangan. Alzam pergi ke ruangan yang lain yaitu ruang tempat khusus penjualan make up namun tidak ia jumpai ada Amel disana.


"Dimana ya itu perempuan?" ucap Alzam mencari-cari.


Alzam menoleh ke belakang, ia lihat dengan terkejut ternyata Amel membeli banyak sekali barang-barang mahal.


"Akhirnya masuk kedalam." Lanjut Amel.


Alzam kecewa. Jelas saja Amel gagal dalam tes pertama secara diam-diam yang dilakukan oleh Alzam.


"Itu barang belanjaan kamu?"


"Iya dong mas, kan katanya kamu yang mau bayarin dan kebetulan aku suka banget sama ini semua. Mumpung belum habis di borong sama yang lain makannya aku borong ini deh mas. Kamu nggak keberatan kan?" tanya Amel dengan wajah sok polos.


Alzam sebenarnya nggak keberatan, dia sanggup untuk membayar semua barang yang dibeli oleh Amel, bahkan semua isi dalam mall ini juga Alzam sanggup membayarnya, namun Alzam keberatan jika calon istrinya itu ternyata memandang materi dan hedonisme sebagai tujuan utama.

__ADS_1


Sudah jelas dari tes yang pertama gagal, maka Alzam tidak akan mau menerima perjodohan dengan Amel.


"Oke, ayo bawa semua itu ke kasir. Aku akan segera membayar semuanya." ajak Alzam.


"Oke mas, makasih ya?" ucap Amel semakin bahagia.


Alzam menghabiskan empat puluh juta lebih hanya dalam sehari untuk membayar semua baju, celana, tas, sepatu, sisir mahal, yang dibeli oleh Amel. Uang segitu sangat cukup untuk biaya makan anak-anak panti dalam waktu dua bulan.


"Cukup sudah buang-buang duit pada hari ini untuk bayar semua barang belanjaan kamu, abis ini aku mau ajak kamu pergi ke sebuah tempat." ucap Alzam di depan mall yang sedang melangkah diikuti Amel dari belakang, juga ada beberapa karyawan mall yang berjenis kelamin laki-laki membawa semua barang belanjaan Amel.


"Hmm, kamu mau membawa aku kemana lagi? Ke bioskop? Atau ke taman yang indah?"


"Udah ikut aja, nanti kamu juga tahu kok. Mas, taruh semua barang belanjaan Amel di jok mobil bagian belakang saja ya?" titah Alzam.


"Baik mas," sahut karyawan mall.


Kira-kira Alzam mau membawa dirinya ke tempat mana lagi ya, pikir Amel. Amel berangan semoga Alzam membawanya ke tempat yang lebih menyenangkan daripada mall yang tadi ia sambangi, misalnya ke diskotik, atau makan di restoran yang mahal.


Alzam melajukan mobil, menguasainya dengan begitu nyaman dan gesit saat berkendara, membuat Amel jadi merasa nyaman dan jatuh hati kepada Alzam. Alangkah nikmatnya kalau punya suami yang mapan, tampan, dan selalu memberikan kenyamanan untuknya seperti Alzam ini. Amel selalu curi-curi pandang kepada Alzam. Amel begitu menyukai ketampanan wajah laki-laki yang ia tahu akan menjadi calon pendamping dalam hari-harinya kedepan. Alangkah beruntung dirinya dijodohkan dengan laki-laki seperti Alzam.


"Kita udah sampai," pekik Alzam membuyarkan Amel yang sedang curi-curi pandang.


Amel sampai tersentak, kepalanya hampir kejedot karena Alzam mengerem mobil dengan cepat. Amel menghela nafas merasa kaget juga merasa aneh karena Alzam membawanya ke sebuah tempat yang kumuh, banyak sekali sampah, dan juga banyak anak-anak jalanan gembel yang berada di tempat ini.


"Ini tempat apa mas?"


"Ini adalah tempat dimana anak-anak jalanan yang malang sering berkumpul. Mereka menahan lapar dan menantikan belas kasih orang disini. Buruan kita turun!"

__ADS_1


Amel merasa ogah-ogahan mau turun,mendatangi tempat seperti ini adalah kali pertama untuknya. Amel merasa jijik dan juga takut akan kuman yang menempel di tubuh anak-anak jalanan itu. Tapi ia harus mau dan terpaksa karena Alzam menyuruhnya untuk ikut turun.


__ADS_2