
Singkat waktu...
makan malam bersama keluarga mama Linda di dalam rumah seperti mansion ini.
Alzam pulang dari kantor membawa koper dan langsung saja duduk di kursi, dekat meja makan saat melihat banyak menu makan malam sudah tersaji menggugah selera diatas meja.
Melihat sudah ada Alzam, mama Linda datang ke meja makan dengan wajah yang pura-pura sedih karena habis ditampar oleh menantunya. Mama Linda ingin membuat drama sok tersakiti didepan anaknya, padahal dirinya duluan yang memulai keributan dengan Adiva.
"Mama kenapa memasang wajah sedih? Apa yang terjadi memangnya, ma?"
"Istri kamu Alzam, dia berani sekali menampar wajah mama. Dia gila. Salah apa sih mama sama dia? Mama cuma menegur dia, itu aja nggak terima. Emang kalau perempuan bar bar dijadikan sebagai istri ya bakalan kaya begini jadinya nak! Lama-lama, mama bisa babak belur nich."
"Masa sih istri aku berani melakukan itu kepada mama? Alzam nggak percaya ah, mama jangan bohongin Alzam,"
"Astaga, Alzam! Adik kamu sebagai saksinya,"
Daffa datang ke meja makan lalu membenarkan apa kata ibunya bahwa Adiva tadi telah menampar muka ibunya yang usianya terpaut jauh lebih tua dari Adiva.
"Seorang perempuan muda menampar wajah perempuan tua seperti mama, apakah itu adalah hal yang pantas buat dilakukan, nak?"
"Kurang ajar! Adiva! Sini kamu!" teriak Alzam sangat keras.
Adiva sedang sibuk didalam dapur menata telur dadar buatannya diatas piring, lalu bi Inem buru-buru memberi tahu kepada Adiva bahwa Adiva dipanggil ke meja makan oleh suaminya.
Mendapat pemberitahuan dari bi Inem, Adiva buru-buru pergi ke meja makan. Saat Adiva sudah sampai diruang makan, Adiva melihat tatapan penuh emosional dari Alzam kepadanya.
__ADS_1
"Waduh, kenapa kak Alzam menatapku dengan tatapan yang menyeramkan seperti itu? Ada apa ini?" batin Adiva agak cemas.
"Ada apa mas?" tanya Adiva menghampiri suaminya.
Alzam berdiri lalu mengambil segelas jus jeruk yang ada diatas meja, lalu Alzam dengan tega mengguyurkan segelas jus jeruk itu ke rambut Adiva. Adiva tidak berteriak namun cukup terkejut karena diguyur segelas jus oleh suaminya sendiri. Sekarang baju dan rambut Adiva jadi basah dan juga lengket karena kandungan jus itu.
Mama Linda tersenyum senang melihat Alzam mengguyur Adiva, mama Linda tampak puas karena dramanya berhasil ia lakukan, menghasut Alzam.
"Tega lo mas, rambut dan baju gue jadi basah dan lengket nih. Mana janji mas Alzam? Apa yang membuat mas Alzam bertindak seperti ini!?"
"Itu belum sebanding karena kamu udah menampar wajah mamaku! Orang yang mengandung dan juga membesarkan aku!"
"Tidak seperti yang lo duga mas, lo salah paham. Kejadiannya nggak seperti itu! mama lo yang mulai duluan. Dia menampar gue, dia juga mendorong lalu menginjak jari gue dengan sepatunya, hampir saja jari gue remuk, wajar saja kan kalau gue membela diri mas?"
Mama Linda bangkit dari duduknya lalu menggebrak meja, mama Linda menambah satu gelas jus lagi untuk mengguyur Adiva. Rambut dan baju Adiva jadi bertambah basah, lantai dipenuhi air manis berwarna kuning.
Adiva menetra ke Alzam, Alzam masih tampak marah sekali, namun Alzam tidak bertindak apa-apa. Alzam menarik kuat tangan Adiva lalu membawanya ke kamar.
"Alzam, kamu mau bawa dia kemana? " tanya mama Linda nyalang.
"Bukan urusan mama!" sahut Alzam dingin.
Alzam membawa istrinya ke kamar lalu mendorongnya ke kasur. Adiva sampai terlentang diatas kasur. Didepannya ada sang suami yang sedang melotot tajam sembari bersedekap dada.
Adiva kemudian perlahan bangkit dan duduk, Adiva menundukkan kepalanya, betapa hancur hatinya, kali ini tidak ada orang yang mau membelanya. Ternyata Alzam mengingkari janji yang dulu ia ucapkan kepada dirinya.
__ADS_1
Untuk kedua kalinya air mata Adiva menetes karena seorang laki-laki yang sama. Yang pertama waktu Alzam merebut perhatian Zahra hingga Zahra jarang bareng Adiva lagi. tidak membantunya dalam belajar, dan jarang mengobrol bersama. Hal itu dulu membuat Adiva menangis bahkan sampai pernah bertengkar dengan kakaknya.
Kedua kalinya adalah malam ini. Alzam dulu pernah berjanji mau membelanya.Namun Alzam malah tidak mau menerima alasannya dan ikut pula memperlakukan dirinya dengan kurang baik. Adiva menangis sembari menunduk, air mata mengalir deras diwajahnya yang sekarang tampak sendu. Sepertinya pernikahan ini adalah penyesalan terbesar dalam hidupnya.
Alzam memejamkan matanya sejenak, tampak menyesal karena sudah terbawa emosi. Kemudian Alzam duduk di samping istrinya, merasa bersalah kembali saat istrinya basah kena guyuran jus, basah dan juga lengket.
"Mana tangan kamu yang diinjak sama mama? Saya mau lihat?" tanya Alzam lembut kepada istrinya.
Adiva beranikan diri untuk menatap wajah suaminya, melihat sang suami, Alzam, sedang menatapnya dengan penuh rasa bersalah, kemudian Adiva menunjukkan tangan kirinya, Alzam memegang halus tangan kiri istrinya, ia lihat tampak lebam yang menandakan tangan istrinya memang terluka karena sesuatu.
"Ini adalah luka akibat injakan mama aku?"
Adiva mengangguk, membenarkan dan memang itulah fakta yang sebenarnya kalau mama Linda telah menginjak kakinya.
"Tuan, ini masakan buatan non Adiva," ucap bi Sri tiba-tiba masuk dari pintu yang masih terbuka. Mereka berdua dikejutkan dengan kedatangan bi Sri yang membawa nampan berisi sepiring nasi dan juga piring berisi telur dadar pedas bikinan Adiva.
Alzam berdiri lalu mempersilahkan bi Sri untuk meletakkan makanan yang ia bawa diatas meja. Kemudian setelah selesai mengantarkan makanan, bi Sri pamit keluar.
"Kamu membuatkan makanan untukku? Kamu sedang belajar masak?"
Adiva mengangguk, lalu setelah itu, Alzam mulai memakan makanan yang dimasak oleh istrinya sendiri. Adiva menatap ke suaminya yang sedang mencicipi masakan buatannya. Adiva takut rasanya tidak enak karena dirinya baru belajar memasak. Alzam berhenti makan, dia sedang memikirkan sesuatu yang membuat Adiva cemas.
"Hmm, rasanya enak juga. Cuman agak asin sih," pujian dari suaminya namun Alzam terus lahap memakan masakan Adiva. meski Alzam tidak begitu menyukai rasa dari masakan orang yang baru berlatih masak itu. Ini adalah bentuk apresiasi dari Alzam karena Adiva yang mau belajar memasak. Alzam akan lebih mengapresiasi lagi kalau Adiva mau belajar mengubah penampilan tomboynya.
Adiva tersenyum sedikit karena Alzam makan masakan buatannya dengan lahap. Adiva merasa bersyukur dan akan lebih giat lagi dalam belajar memasak. sama bi Sri tentunya. Sembari menunggu suaminya selesai melahap makanan, Adiva akan mengeringkan rambut dan berganti pakaian terlebih dulu. Ternyata mas Alzam masih memegang janjinya. Untuk terus membelanya disaat Adiva berhadapan dengan keluarga Alzam.
__ADS_1
Bersambung