MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Tantangan Pertandingan Merias Wajah?


__ADS_3

"Mama, aku minta maaf? Karena sudah berani menampar kamu. Kalau mama mau balas dengan seratus kali tamparan sekalipun, silahkan! Aku siap menerimanya, asal mama mau memaafkan aku?"


Mama Linda hanya membalas dengan menampar Alzam dua kali karena dirinya merasa tidak tega menampar anak kandungnya lebih dari itu. Kemudian mama Linda masuk kedalam rumahnya dengan hati yang sedih bercampur marah.


Didalam kamar , mama Linda sedang duduk cemas sembari memeluk sebuah bantal. Yang ia khawatirkan adalah, pembantu itu yang sudah tidak berada di pihaknya lagi akan membuka mulut dan semua kejahatannya akan dibongkar olehnya!


"Ini sangat tidak bisa untuk dibiarkan! Aku nggak mau tinggal diam! Aku tidak ingin anakku tahu kalau selama ini aku selalu menyakiti Zahra, bahkan aku yang menyuruh orang untuk menghabisi nyawanya. Aku tidak mau dipenjara, penjara begitu menakutkan," batinnya.


"Tidak ada cara lain, aku harus bayar pembunuh lagi buat menghabisi nyawa pembantu sialan itu! Kontak dia lagi ah,"


*


*


*


Di kampus, Adiva sedang duduk sendiri dibawah pohon angsana. Adiva sedang memikirkan soal diary itu lagi disela jam istirahatnya. Dua sahabat terbaiknya datang menghampiri, mereka duduk dengan memegang minuman Starbucks kesukaan mereka.


"Hei Adiva, sendirian aja kamu? Nggak jajan dikantin?" tanya Kayla lalu menyedot minuman.


"Iya nih, akhir- akhir ini aku melihatmu jadi sedikit berubah. Kamu nggak sebawel dan setomboy biasanya deh, perlahan sudah berubah nih, dah jadi wanita seutuhnya?" kepo Shireen.


Adiva menghela nafasnya dalam lalu memindai keadaan disekitarnya sejenak, suasana tidak cukup ramai dengan aktifitas anak-anak kampus yang sedang beristirahat, mereka semua kebanyakan sedang berkumpul di kantin. Saat yang tepat buat menceritakan keluh kesah kepada dua sahabat terbaiknya, pengalaman-pengalaman buruk yang ia dapatkan dari sang mertua, dan gejolak kesedihan yang ia alami akan ia curahkan kepada dua perempuan di sampingnya itu. Adiva percaya mereka adalah teman yang baik dan pandai menyimpan rahasia.


Adiva menceritakan itu kepada dua sahabatnya dan setelah mereka tahu apa sebabnya Adiva gelisah, mereka jadi ikut terlarut dalam kesedihan. Pelukan Adiva dapatkan dari dua sahabat yang selalu menemani Adiva itu.


"Makasih ya teman-teman, gue sangat beruntung punya teman yang sebaik kalian?" ucap Adiva.


"Sama-sama beb," lirih Shireen memeluk Adiva.


Saat mereka bertiga sedang berpelukan sedih, geng tukang bully nan sombong datang mengganggu mereka. Gengnya Lisa.

__ADS_1


"Hm, ada yang lagi sedih-sedihan nih, hahahaha. Eh tapi kalau kalian sedih kami senang, kalau kalian senang tentu saja kami sedih! Kami nggak akan membiarkan hidup kalian bahagia, mengerti!" nyinyir Lisa sang ketua geng.


"Hidup kamu terlalu sepi atau hampa ya kalau ga nyinyirin kami? Sungguh miris dan kasihan sih, hidup kok kerjanya cuma nyakitin hati orang lain mulu, hahahaha miris!" balas Kayla kepada Lisa dan gengnya.


"Biasanya sih orang kaya gitu hidupnya kesepian gaes," sahut Shireen.


Lisa tidak terima jika orang yang ia bully atau nyinyirin berani membalasnya, Lisa menaikan tangan kanannya kemudian ia bertepuk tangan sebagai isyarat mengumpulkan semua anak-anak mahasiswa yang berada di taman kampus. Karena itu, sekarang


banyak orang yang berkumpul disekitaran mereka.


"Maksud lo apa sih!" nyalang Kayla.


"Dengar semuanya, tiga cewek benalu yang sedang duduk sedih dibawah pohon itu adalah orang-orang yang harus kalian jauhi, mengerti! Mereka itu sukanya bikin onar dan biang masalah loh kalau diluar sana. Apalagi ketuanya itu yang tomboy dan sok gahar! Kalau kalian nggak mau uang hilang, jangan dekat-dekat mereka ya. selama mereka masih kuliah disini,"


Apa yang Lisa berani katakan? Secara terang-terangan dia berani menuduh geng Adiva melakukan perbuatan yang tercela. Adiva menghapus air mata sedihnya lalu bangkit dan akan segera melawan kejahatan Lisa and the geng!


Jiwa bar barnya kembali keluar, Adiva tidak akan tinggal diam melihat dirinya dan kedua temannya dituduh seenak jidatnya oleh Lisa, mentang-mentang Lisa adalah anak pemilik kampus jadi dia merasa bisa melakukan apapun semaunya?


"Dasar cewek lemah! Dari ini aja udah jelas kalau gue jauh lebih oke daripada lo!"


"Tapi gue kan cewek! Gue nggak harus jago berkelahi ya!"


"Eh kata siapa! Cewek juga harus bisa berkelahi buat jaga-jaga kalau ada orang yang mau berniat jahat kepada kita!"


"Oh ya? Dan cewek juga harus pintar bersolek supaya memuaskan hasrat kekasihnya! Kalau begitu bagaimana kalau kita melakukan pertandingan yang seimbang aja? Gimana kalau kita lomba merias diri?"


"Siapa takut, kapan!"


"Besok siang di aula kampus, nanti aku akan mengundang penata rias terbaik se Indonesia yang akan menilai siapakah karya rias terbaik! Kalau gitu, apakah kita deal?"


Adiva menyalami tangan Lisa lalu mereka deal. Adiva bertekad kuat akan menyingkirkan Lisa dari kampusnya sendiri. Meski kecil kemungkinan karena Lisa pasti lebih pandai dalam merias penampilan. Namun merias itu udah umum dikuasai oleh hampir semua wanita. Sehingga pertandingan ini terlihat lebih fair.

__ADS_1


*


*


*


Sore hari saat baru pulang dari kampus, Adiva langsung melempar tasnya diatas kasur. Adiva merasa udah lapar banget tapi Adiva rela meninggalkan kebiasaan makan tiga hari sekali yang harus rutin ia lakukan karena Adiva langsung sibuk merias diri didalam kamarnya.


"Ya ampun... Aku nggak bisa pakai lipstik lagi! Mana belepotan di pipi, huhuhu,"


Adiva mengelap bekas noda lipstik itu menggunakan tisu kemudian dirinya belajar memakai lipstik lagi. Adiva tidak bisa mengoleskan lipstik dengan santai dan lagi-lagi, Adiva belepotan saat belajar memakai lipstik, mengulangi hal yang sama sampai sepuluh kali pun masih ada sedikit belepotan.


"Duh gimana nih, aku harus menang dalam pertandingan dandan nyebelin melawan Lisa besok! Aku nggak mau sampai kalah dan hasilnya, akulah yang keluar dari kampus! Aku udah nyaman banget kuliah disitu sayang."


Adiva terus belajar dandan, sekarang Adiva ingin belajar memakai bedak. Adiva mengoleskan bedak itu menggunkan spons bedak dengan buru-buru belum bisa santai. Namun setelah ia latih hasilnya malah bedaknya ketebalan dan muka Adiva menjadi seram. Muka Adiva seperti hantu dalam film horor Jepang.


"Aaaaaaaaaa," teriak Adiva sangat keras didepan cermin.


Bi Sri yang mendengar teriakan dari nyonya muda kesayangannya itu bergegas berlari kedalam kamar Adiva.


"Nyonya muda?" ketuk pintu bi Sri dari luar.


"Masuk bii!" jawab Adiva.


Bi Sri membuka pintunya lalu dibuat terkejut dengan bedak tebal yang dipakai oleh nyonya mudanya.


"Aduh kenapa? Mau ikut casting film horor ya?"


"Iih! Bibi apaan sih, bukan bi! Aku mau belajar dandan tapi aku nggak bisa, huhuhu."


Bersambung. ..

__ADS_1


Hai jumpa lagi dengan episode terbaru. salam hangat ya sayang.


__ADS_2