
Mempunyai rumah mewah sendiri adalah impian semua manusia. Seringnya mereka bekerja keras untuk mendapatkan itu. Tapi tahukah kamu, rumah yang jauh lebih mewah sedang menantimu di surga. Tuhan menyiapkannya untuk hamba-hambaNya yang baik dan juga rajin beramal sholeh. Untuk orang-orang yang selalu berada dalam jalan kebenaran, taat kepadaNya, dan juga selalu mengerjakan perbuatan kebajikan.
"Kak, cukup sampai disini saja ya aku dan istriku melihat-lihat isi dari rumah barumu. Aku mencium aroma-aroma pamer yang kakak buat nih. Apakah kakak sengaja mengundangku kesini dengan tujuan ingin membuat kami berdua merasa iri dengan kesuksesanmu membeli sebuah rumah yang luar biasa megah seperti ini?" tanya Daffa suudzon.
"Ada apa dengan adik aku? Apa yang ada dalam isi hatimu? Kenapa kamu sampai bisa berpikiran yang tidak jernih seperti itu? Apakah kamu mau kakak mengguyur kepalamu dengan seember air, biar pikiranmu yang agak kotor itu kembali bening dan bersih?" cakap Alzam berwibawa.
"Nggak kak, buat apa kakak mengundangku dan istriku datang selain hanya dengan tujuan kalian yang mau pamer itu. Kita mau pamit pulang ya kak, dan jangan pernah paksa kami buat menginap disini." ucap Daffa malas.
"Nah gitu dong mas, sekali-kali kamu harus berani tegas sama kakak kamu. Dia dan istrinya pasti sengaja mau manas-manasin kamu, karena kamu itu masih kere dan belum mampu beli rumah sendiri. Sekarang aja kita masih numpang dirumah mama, jadikan kesombongan mereka sebagai cambukan untuk kamu berjuang jadi orang sukses ya sayang?" sahut Amel terlihat menyebalkan sekali.
Sekarang giliran Alzam yang meradang. Rasanya Alzam ingin sekali merobek bibir Amel saat ini juga.
"Kalau pikiran kalian positif pasti kalian nggak akan nuduh kami sengaja mau memanas-manasin kalian. Dipikir rumah ini kompor apa bikin panas orang segala!" kesal Adiva berbicara.
"Yuhuu, kaya ada laler yang nyaut nih, mas, kita pulang sekarang, bye-bye semua!" ajak Amel seraya menarik tangan suaminya.
Alzam ingin menghajar Daffa lagi tapi ia teringat perkataan mamanya waktu di rutan kemarin, bahwa dia nggak boleh mukulin adiknya lagi.
"Kalian adalah keluarga, kalian adalah saudara. Sebagai anggota keluarga yang mempunyai ikatan darah, tidak selayaknya mereka saling menghancurkan atau saling memukul satu sama lain."
Alzam ingin belajar memberikan contoh yang lebih baik sebagai seorang kakak.
"Udah ya mas, kamu yang sabar. Mungkin adik kamu dihasut sama si ular, jadi dia berpikiran seperti itu."
__ADS_1
"Daffa tak seperti yang saya kenal. Saya akui kalau Daffa itu sifatnya jauh lebih baik dari saya. Dia tak suka main kekerasan, dia sayang sama mamanya, sama saya, tapi mengapa hari ini dia berubah lagi? Semenjak menikah dengan perempuan jahanam itu! Daffa seperti orang asing bagi saya."
"Udah yuk, kamu laper? Mau aku bikinin makanan?"
"Iya nih sayang, aku laper gara-gara kesinisan adik dan juga adik iparku itu."
"Itu mah baper sayang bukan laper. Udahlah, nggak usah dipikirin. Mendingan kamu duduk manis disofa, sambil nunggu aku masak makanan kesukaan kamu."
"Nggak mau!"
"Apa! Kamu nggak mau makan masakan buatan aku? Yaudah sih, aku yakin pasti kamu ngerasa jijik kan sama masakan aku. Yaudah, aku terima kok. Semua orang kan bilang aku jorok, termasuk suamiku sendiri." cakap Adiva seraya berkacak pinggang dan menolehkan mukanya ke sisi lain.
"Nggak mau nolak maksudnya, hehehe."
"Oke sayang." balas Alzam sembari mengacak-acak rambut istrinya yang selalu dipotong pendek.
Sebenarnya Alzam ingin sekali melihat istrinya berambut panjang. Dengan istrinya berambut panjang dan indah, maka kesan feminim akan ia dapatkan. Adiva pasti akan semakin cantik dan mempesona, pikirnya.
Singkat waktu hari untuk menjenguk mama Linda oleh Daffa dan Amel sudah tiba. Mereka berdua sama-sama datang ke rutan dengan membawa banyak sekali makanan dan beberapa alat make up untuk mama Linda. Daffa juga membawakan beberapa novel untuk hiburan atau bacaan mama kandungnya didalam penjara.
"Ya ampun, ternyata yang datang kamu Daffa, bersama dengan istri kamu, mantu kesayangan mama." girang mama Linda lalu memeluk erat Amel.
"Aku juga kangen banget sama kamu ma. Pasti mama juga kangen kan sama aku?"
__ADS_1
"Ya jelas kangen dong sayang. Siapa sih mertua yang tidak kangen sama menantu kebanggaannya. Tapi kalau sama Adiva, jelas mama nggak akan kangen, hahahahah bahagia sekali mama kedatangan kamu Mel."
Lantas mereka bertiga sama-sama duduk di kursi mereka. Amel menunjukkan satu set make up yang dibawa spesial buat mama Linda merawat wajahnya didalam penjara.
"Ya ampun, merk skincare dan make up kesukaan mama!" girang mama Linda seraya memegang kedua pipinya.
"Kamu memang menantu yang pengertian Mel, beda kaya si onoh, bisanya cuma bikin masalah aja, bikin mama menderita seperti ini, huhuhu."
"Iya dong mam, siapa dulu, Amel gituloh. Perempuan baik-baik yang berpendidikan tinggi, turut dilahirkan dari keluarga yang terpandang, yuhuu mam."
"Mama bangga punya kamu Amel sayang. Tapi yang pasti today mama sangat happy sekali, karena kedatangan kalian. Daffa, itu kamu bawa buku apa anak mama?"
"Ini Daffa bawa novel ma, novel humor buat bacaan mama kalau mama lagi ngerasa bosan. Baca novel ini dijamin bakalan bikin mama jadi terhibur. Mama terima ya? Aku harap mama harus selalu bahagia dimana aja mama berada, sayang selalu kamu ma. "
"Ya pasti dong mama terima. Makasih ya karena kalian berdua udah selalu perhatiin mama. Oh iya, ngomong-ngomong dimana kakakmu? Pasti istrinya melarang Alzam buat ikut jengukin saya ya? Emang dasar tuh menantu bejat menjijikan!"
"Ma, mereka itu habis beli rumah baru pakai uang mama. Denger-denger mas Alzam habis dana sepuluh milyar ma buat bayar rumah baru mereka. Dan mama tahu, Adiva yang udah paksa Alzam buat mengambil banyak uang di bank. Adiva gila merengek minta dibelikan rumah baru, katanya kalau tinggal di rumah lama, Adiva bawaannya keingat wajah jahat mama terus deh." tuduh Amel.
Daffa merasa kesal karena istrinya sudah melebih-lebihkan cerita yang melenceng jauh dari cerita sebenarnya. Daffa ingin menjelaskan bahwa Amel sedang bohong, tetapi Amel keburu membaca gerak-gerik suaminya. Amel langsung menginjak kaki suaminya agar drama cantiknya berjalan dengan mulus. Itu adalah isyarat untuk suaminya agar diam saja.
"Kurang ajar! Begini kelakuan mereka kalau saya sedang dipenjara hah! Terkutuk kau Adiva! Awas aja kalau saya udah bebas dari penjara, saya akan hajar kamu habis-habisan dasar menantu tidak waras!" kata mama Linda penuh amarah, matanya melotot tajam.
Bersambung...
__ADS_1