
"Tumben lo sekarang akhir-akhir ini doyan makan nasi cadong? Biasanya gua yang makan jatah lu mak?" tanya sang pentolan napi kribo yang satu sel dengan mama Linda.
"Iya cantik."
"Dih?"
"Mulai sekarang saya harus belajar menerima ini semua. Saya ingin berubah jadi perempuan yang lebih baik lagi. Biar bertambah banyak orang-orang yang sayang sama saya, termasuk kamu dan semua orang-orang sini cantik."
"Dih? Kerasukan apa lu mak Erot? Biasanya lu yang bully kite-kite? Tapi nggak apa lah kalau lu udah nyadar, semoga istiqomah ya mak? Yah jadi nggak dapet jatah makanan lu lagi deh, hmm."
"Aamiin, makasih doanya cantik. Nanti kalau anak saya datang bawain makanan pasti InsyaAllah saya akan bagi juga ke kalian." balas mama Linda mengamini seraya tersenyum kepada si kribo sangar itu.
"Nah gitu dong! Jangan pelit!"
"Harus banyak bersabar dan juga tahan dalam menghadapi orang-orang sini. Saya nggak mau mati jantungan gara-gara stress menghadapi mereka. Ini juga trik saya biar saya di cap malaikat oleh mereka semua, dengan itu imej narapidana yang patuh dan baik hati pun akan menempel dalam diri saya, yuhuu," batin sang mama mertua.
***
Dirumah mewah Daffa dan juga Amel, siang ini Daffa berencana akan kembali menengok mama Linda di penjara. Namun anehnya Amel menolak alias tidak mau ikutan. Setelah mendapatkan apa yang Amel mau dari mama Linda, sekarang Amel malah terlihat ogah-ogahan bertemu dengan mama Linda lagi. Hingga membuat hati Daffa menjadi jengkel. Amel juga Daffa lihat tidak pernah menyuapi bayinya makan pisang atau nasi halus. Semua yang mengerjakan itu adalah Inem.
"Ibu macam apa sih gak mau ngurus anaknya dengan sepenuh hatinya, segenap jiwanya, lebih sayang sama kuku dan rambutnya daripada sayang sama bayinya sendiri!" sindir Daffa ditaman rumah, saat dirinya sibuk menjaga baby D yang sedang berjemur, Amel sibuk mewarnai kukunya dengan warna yang baru lagi.
"Emang kenapa sih? Rempong amat kamu mas Daffa pakai sindir aku segala?"
"Emang kuku-kuku kamu yang kamu sayangi itu bisa ngurus kamu kalau kamu sakit saat masa tuamu nanti? Emang rambut-rambut kamu nanti bakalan bisa kamu banggain dengan prestasinya disekolah dan lain-lain? Anak kita itu segalanya! Dia itu nomor satu dan dia juga amanah dari Allah yang harus kita jaga dan kita rawat dengan sebaik mungkin!"
"Nanana, syalalalala."
__ADS_1
Amel menghela nafas malas lalu membalas kata-kata suaminya.
"Udah, cukup ceramahnya? Udah ya, aku bosen dengerin kamu ngomong kaya gitu terus! Suka-suka aku lah mau ngapain, yang penting sudah ada bi Inem. Aku janji bakal bayar dia dua kali lipat kok bulan ini!"
"Tapi kok kelihatan malah bi Inem yang kaya ibu kandungnya, padahal dia cuma babysitter loh? Kamu yang ibu kandungnya malah seperti orang lain bagi Dilla. Semua bi Inem yang urusin! Ibu macam apa kamu ini!"
"Macam bidadari lah mas, aku baik, aku cantik, aku seksi. Udah diem deh. Yang penting aku udah kasih dia ASI kan? Aku selalu rutin kasih dia ASI kok mas."
"Kasih ASI udah kewajiban kamu. Pokoknya kedepan mas nggak mau lihat ya kamu kurang perhatian sama anak kamu sendiri. Mengerti?"
"Iya-iya suamiku yang bawel!"
"Terus kenapa kamu nggak mau aku ajakin ke penjara sama bayi kita sayang? Ketemu mama? Dia pasti ingin sekali melihat cucu pertamanya yang sudah lahir ini."
"Ya... Hmm... Dipenjara kan banyak orang yang aku yakin mereka itu jorok-jorok, mereka malas jaga kebersihan badan, aku cuma nggak mau bayi aku ikutan, sama aku ikutan, terus bisa-bisa bayi aku kena virus? Aku nggak mau itu terjadi lah mas,"
"Nggak! Aku nggak mau mas! Jangan paksa aku, itu tidak baik! Lain kali aja ya, aku juga lagi kurang enak badan."
"Kok kamu gitu sih sayang? Padahal rumah ini juga beli pakai uang mama loh. Jenguk dia sebentar saja masa kamu nggak mau sih? Ayolah sempatkanlah waktumu sebentar aja sayang? Kulihat juga bibir kamu merah merona, nggak ada pucet sama sekali tuh?"
"Iya deh, sebel deh dipaksa, hmm!"
Waktu terus melaju, suasana di kota Jakarta selalu riuh ramai penduduk. Kota terpadat di Indonesia. Banyak orang yang berlalu lalang di pinggir jalan, mencari rezeki demi sesuap nasi. Itulah kehidupan yang selalu membutuhkan perjuangan dalam ingin meraih sesuatu, termasuk, meraih cita-cita. Meraih kebahagiaan. Memperjuangkan keutuhan rumah tangga juga butuh perjuangan.
Jenna masih mengurung diri dikamarnya. Dia tidak berani makan siang. Sang suami terus menunggunya diluar seraya memaki dirinya terus menerus. Kalau rumah tangga seperti ini mana bagus buat diperjuangin. Rumah tangga yang toxic dan penuh dengan lendir racun yang membinasakan. Punya suami yang nggak kalah kejam dari mama mertua jahat.
"Istri sialan! istri bajingan, istri anj*ng, istri keparat!"
__ADS_1
Kata-kata kasar terus keluar dari mulut suaminya. Jenna menutup telinga karena saking muaknya. Jenna sampai berteriak marah karenanya. Sangat benci dan juga jijik kepada suaminya sendiri, yang bengis dan bertangan dingin itu.
"Diaaaaaam anj*ng!" balas Jenna dari dalam kamar.
"Cepat keluar kamu atau aku akan menghancurkan pintunya! Buruan!"
Jenna bertambah takut. Dirinya tak mau disiksa lagi. Jenna melihat kearah jendela, lebih baik Jenna sebaiknya keluar saja lewat jendela, lalu gak usah kembali lagi kedalam neraka ini.
Jenna berhasil keluar dari rumah neraka itu. Jenna berjalan tak tentu arah ditengah jalan. Dirinya tak tahu lagi harus pergi kemana. Memikirkan nasib anaknya di Amerika hanya bisa membuatnya sedih.
Berani lapor polisi nanti anaknya akan dicelakai oleh ayahnya sendiri lewat tangan orang lain. Jadi serba salah rasanya. Daun-daun kering di tengah jalan menerpa kakinya, hembusan angin siang yang cukup kencang. Suasana begitu pedih dan dramatis.
"Kemanakah aku harus pergi? Apa sebaiknya aku pergi dari dunia ini untuk selamanya saja?" tanya Jenna kepada dirinya sendiri.
Disaat keputus-asaannya itu, kebetulan Jenna berpas-pasan dengan seorang laki-laki baik yang sudah tak asing lagi baginya, ya, dia adalah Alzam. Alzam sedang melangkah menuju kebunnya.
"Ada apa lagi Jenna? Kamu mau kemana dalam keadaan yang kusut seperti itu?"
"Nggak tahu aku mau kemana. Aku ikut waktu aja. Biar waktu yang akan membawaku kemana nanti. Entah kehidupan atau kematian,"
"Hus! Ga boleh ngomong seperti itu, ada yang bisa saya bantu?"
"Nggak makasih. Takut ada yang salah paham kalau kamu bantuin aku. Aku permisi ya? Nanti kalau ada kabar aku meninggal, semoga kamu dan istri kamu mau melayat ke pemakaman aku ya?"
Ucap Jenna kemudian berlalu pergi. Alzam benar-benar panik dan bingung mendengar ucapan Jenna barusan. Apa Jenna mau mengakhiri hidupnya?
Bersambung
__ADS_1