
"Tolong nak, ampuni mama? Mama mengaku kalau mama salah, tapi kamu juga harus ngertiin kondisi mama. Biar bagaimanapun jahatnya mama, mama adalah mama kandungmu. Yang udah mengandung kamu selama sembilan bulan, yang udah merawat dan memperhatikan perkembangan fisik kamu sayang." lirih mama Linda lemas sembari memegang lembut tangan Alzam.
Jujur, Alzam juga sedih dengan kondisi mamanya yang sekarang. Tapi kesalahannya kepada Zahra dan Adiva udah begitu besar. Mama Linda sampai tega menyuruh orang buat membunuh Zahra? Dan Zahra yang udah berhasil terbunuh.
Mungkin dulu Alzam pernah bilang kalau dia nggak akan pernah bisa memaafkan perbuatan orang yang udah menembak mati istrinya. Tapi sekarang, dirinya sendiri sudah bisa memaafkan karena sudah ada Adiva yang gantiin posisi Zahra dihatinya.
Tapi belum tentu Zahra mau memaafkan kesalahan mamanya, dan juga Adiva yang sungguh mencintai kakaknya.
"Kalau mama nggak mau dipenjara atas kesalahan mama yang sangat besar itu, mama harus bisa mendapatkan maaf dari istriku, Adiva. Kalau mama udah dapatin maaf dari dia, mama pasti nggak akan dipenjara. Karena masalah sudah terselesaikan secara kekeluargaan kalau Adiva tidak jadi mengajukan laporannya kepada polisi."
"Iya nak. Sekarang mama ingin menenangkan pikiran dulu, mama mau fokus sama kesembuhan mama. Do'ain mama semoga mama bisa dapatin maaf dari istri kamu ya nak?"
"Iya ma, pasti akan selalu Alzam do'ain. Alzam juga akan berusaha membujuk Adiva. Sekarang mama istirahat ya, jangan mikir yang macam-macam."
Mama Linda merasa agak tenang setelah Alzam berbicara seperti itu. Alzam juga akan berusaha dalam membujuk istrinya supaya tidak jadi mengajukan tuntutan penahanan atas kasus mama Linda. Daffa juga merasa sedih melihat mamanya yang bisa saja masuk kedalam penjara. Daffa akan ikut membujuk Adiva supaya luluh.
Malam ini makan malam dirumah megah nyonya Linda hanya ada dua orang perempuan yang sedang saling adu tatapan didekat meja makan, yang sama-sama berstatus sebagai menantu mama Linda. Namun mereka saling bersaing. Tapi Adiva yang selalu menyambut baik Amel, dibalas dengan nyinyiran dan kesombongan dari Amel.
Karena Alzam dan Daffa masih dirumah sakit menemani mama Linda, sekarang Amel dan Adiva sama-sama sedang memegang kursi utama.
__ADS_1
"Heh Adiva, minggir kamu! Aku yang jauh lebih berhak dan lebih layak buat duduk di kursi utama ini! Aku kan lebih dewasa dari kamu!"
"Apa alasan selain itu merasa selayak itu? Katakan sama aku, tukang nyinyir!"
"Mulut kamu bisa diam gak atau aku, akan sumpelin balado telur itu bulat-bulat kedalam bibir lancip kamu itu, ipar yang jorok!"
"Jawab pertanyaan aku sayang? Mengapa kamu merasa lebih pantes buat duduk di kursi utama ini? Kalau mama Linda jelas layak kan dia penguasa didalam rumah ini, tapi kalau kamu? Kamu kan cuma benalu busuk yang merasa sok berkuasa dalam rumah ini, ups."
Amel menampar Adiva lagi karena saking kesalnya, dibilang benalu busuk didalam rumah ini.
"Jaga mulut kamu ya! Jelas aku lebih layak dong karena aku kan jauh lebih kaya daripada kamu. Lah kalau kamu, uang juga masih minta sama mas Alzam, ups keceplosan deh, hehehe. Kalau nggak minta uang sama mas Alzam mana ada kamu punya uang buat uang saku kuliah kamu itu, hehehe." ejek Amel seraya memicingkan salah satu matanya.
"Iih! Jadi nggak selera makan deh! Udah ah, mendingan aku pesan makanan online aja! Bisa muntah aku kalau lihat upil bertaburan diatas meja. Kesal!" nyalang Amel lalu berjalan masuk kedalam kamarnya.
"Ternyata mudah ya buat ngusir cacing kerawit dari tempat ini, yuhuu, saatnya makaan."
Dan akhirnya Adiva yang menikmati semua makanan lezat itu sendiri. Disaat yang sedang dirundung kekecewaan seperti sekarang ini, makan enak sampai kenyang adalah salah satu cara buat menyenangkan perut dan pikiran. Adiva tak mau bersedih hati terus.
Keesokan harinya sepulang kuliah, Alzam dan Adiva sama-sama akan berangkat untuk menemani mama Linda dirumah sakit. Didalam mobil, Alzam akan berusaha membujuk istrinya sampai mau memaafkan kesalahan mamanya dan tidak menjebloskan mamanya kedalam penjara. Alzam tidak ingin melihat mamanya menderita didalam penjara.
__ADS_1
"Sayang, kamu mau menemani mama dirumah sakit? Padahal kamu lagi marah dan kecewa banget kan sama dia. Apa kamu sudah memaafkan perbuatan mama?"
"Hah? Ngaco kamu mas. Mana ada aku maafin perbuatan mama kamu yang udah jahat banget sama aku dan almarhumah kakak aku. Nanti kamu coba baca diary kak Zahra deh, diary itu udah ketemu. Kamu harus tahu betapa kejamnya mama kamu kepada kakak aku dulu."
Semakin sulit saja dalam membujuk Adiva. Alzam jadi bertambah pusing, hingga tak sengaja Alzam hampir saja menabrak seorang penjual makanan kaki lima yang sedang lewat menyebrang jalan dengan membawa gerobak.
"AWAS MAS!" teriak Adiva, Alzam buru-buru membanting setir kearah yang berlawanan supaya tidak sampai menabrak penjual itu.
"Hampir saja aku akan masuk kedalam penjara, sama seperti mama aku."
"Mas, kamu kok ngomong gitu sih? Kamu bicara seolah tidak suka kalau aku inginkan mama kamu masuk penjara? Apa kamu kecewa kalau aku nggak mau maafin mama kamu? Ingat mas, kasus pembunuhan itu dosanya sangat besar. Bahkan harusnya nyawa yang sebagai ganti atas nyawa orang yang dibunuh itu. Nyawa harus dibayar dengan nyawa juga. Tapi kalau dipenjara, masih bisa makan enak, tidur, dan lain sebagainya. Sedangkan kakak aku, semua mimpi indahnya, semua kebahagiaannya sirna sudah karena dirinya terbunuh atas ulah mama kamu itu. Aku harap kamu jangan cuma mau ngertiin sepihak aja ya."
"Aku cuma sedih aja kalau lihat mama aku yang sakit-sakitan harus dipenjara. Jadi bingung, nggak bisa fokus kerjaan kali ini."
Sekarang ketegasan seorang Alzam benar-benar sedang di uji. Apakah dia akan mampu tegas dalam menentukan pilihan manakah yang terbaik untuk keadilan dalam kasus ini?
"Kebijakan kamu benar-benar akan diuji dalam situasi ini mas. Aku bisa menilai bagaimana sosok kamu yang sebenarnya dari situasi ini. Aku juga sayang mamaku, dia sudah tidak ada, kalau dia berbuat jahat, sampai membunuh orang lain, walau dia sakit-sakitan sekalipun, kalau orang yang dijahati belum mau maafin, pasti aku akan rela mama aku dipenjara. Karena keadilan harus selalu ditegakkan mas."
Alzam benar-benar bertambah pusing akan situasi ini. Belum pernah ia berhadapan dengan situasi yang sesulit ini.
__ADS_1