MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Rumah Baru Amel


__ADS_3

Memfitnah atau melebih-lebihkan cerita dengan tujuan agar orang yang difitnah kena hujatan atau ujaran kebencian adalah perbuatan yang teramat tidak baik. Bahkan perbuatan memfitnah sendiri jauh lebih kejam dampaknya daripada pembunuhan. Perbuatan yang dilakukan oleh Amel, jauh lebih buruk dari perbuatan pembunuhan mama Linda akibat dampaknya. Mama Linda jadi tambah membenci kepada menantunya yang satu lagi, yaitu Adiva.


Memang betul kalau akibat dari fitnah bisa menjadi kecelakaan yang besar bagi orang yang difitnah. Menjaga lisan dari perbuatan seperti itu adalah hal yang sangat baik.


"Karena itu, Amel juga ingin punya rumah baru mam. Tabungan mas Daffa belum cukup buat beli rumah yang layak buat Amel huni. Sebagai menantu kesayanganmu, mama mau kan beliin aku rumah? Mama nggak mau kan membiarkan Amel didera rasa iri, huhuhu?" tanya Amel memohon seraya memelaskan tampang cantik yang menghanyutkan.


"Kalau beliin rumah buat kamu, Daffa nanti kamu ambil uang di rekening mama ya. Kalian beli rumah baru, enak aja masa cuma Adiva doang yang menikmati kekayaan saya. Siapa dia! Awas aja kalau saya udah bebas, saya akan rebut dan tinggal dirumah mereka! Cih!" mama Linda berbicara seraya meluapkan amarahnya. Mama Linda juga setuju akan permintaan menantu ularnya.


"Aduh mama itu tidak benar! Istriku barusan udah mengarang cerita. Nggak seperti itu kejadian yang sebenarnya, kak Alzam yang beli pakai uangnya sendiri. Uang hasil kerja kerasnya jadi seorang CEO di perusahaan mama. Amel kamu gimana sih, mas emang nggak suka karena kemarin mereka pamer rumah baru kepada kita. Tapi bukan berarti kita membalas mereka dengan menuduh mereka seperti ini dong!" sahut Daffa jujur membela kakak dan kakak iparnya.


Amel melotot sinis ke wajah Daffa. Tatapannya begitu nyalang, ia kembali benci kepada Daffa karena suaminya terlalu polos jadi orang, pikirnya.


"Kamu kenapa sih mas belain mereka melulu! Didepan mama dan aku kamu tetap aja belain mereka. Gausah sok baik dan sok pahlawan deh jadi orang!"


"Bukannya mas jadi sok hero, tapi mas hanya ingin kasih tahu yang realnya aja kepada mama. Aku nggak ingin mama tambah benci sama kak Alzam dan Adiva."


"Daffa, kamu nggak usah belain kakak kamu dan istrinya yang acakadut nggak karuan itu! Mama lebih percaya sama kata-kata Amel daripada kamu sendiri, karena mama dan Amel tahu banget watak istri Alzam seperti apa!"


Amel tersenyum senang bercampur sinis karena mama Linda berhasil ia hasut dan rumah baru akan segera ia dapatkan. Didalam mobil setelah jam besuk mama Linda habis, Amel membicarakan soal rumah impiannya kepada Daffa.

__ADS_1


"Mas, mama kan udah setuju sama keinginanku membeli rumah baru. Habis ini kita pergi ke bank ya ngambil uang. Kita juga harus siapin koper dan aku harap, kamu jangan cuma ambil dikit aja ya?"


"Maksudnya?"


"Mas, aku nggak mau rumah yang harganya lebih murah dari rumah baru kakak kamu. Aku maunya yang lebih mewah, lebih wow pemandangannya. Ini tuh rumah untuk masa depan anak kita juga loh mas."


"Terus kamu mau mau nyuruh aku ngambil berapa? Sesuai rencana aku aja ya, aku cuma mau ambil satu milyar saja, aku nggak mau ambil uang mama banyak-banyak."


"Iih, kamu ini gimana sih! Kan mama kamu udah setuju, pasti dia juga setuju kali kalau kita ngambilnya berapa aja! Ayolah mas, minimal 15 M gitu, pasti tabungan mama kamu mencapai ratusan M deh mas,"


"Aku nggak enak sayang kalau ngambil sebanyak itu. Itu uang mama dan juga ada andil kak Alzam dan almarhum papa didalamnya. Masa aku yang belum pernah ikut andil apa-apa mau ambil uang mama sebanyak itu sih, kurang ajar dong namanya!"


"Iya, yaudah kita ke bank sekarang. Kita akan ambil sesuai yang kamu inginkan. Daripada kamu jelekin kakak aku terus, astaga!"


"Asyik! Nah gitu dong jadi suami harus pengertian, itu baru suami idaman aku." manja Amel lalu mengecup pipi suaminya.


Lantas Daffa mulai mengemudikan mobilnya menuju bank. Sementara itu, Alzam dan Adiva sepasang suami istri idaman itu sedang duduk berdua diatas hamparan perbukitan disamping rumah mereka. Mereka menggelar tikar dan juga membawa cukup banyak minuman kalengan dan camilan. Alzam begitu manja meminta kepalanya dipangku oleh sang istri.


"Mas, aku bahagia banget dengan kehidupanku yang sekarang. Bisa menikmati pemandangan indah seperti ini didekat rumah sendiri adalah nikmat kehidupan yang amat aku syukuri."

__ADS_1


"Aku bahagia punya istri yang pandai bersyukur dan tidak gampang mengeluh sepertimu. Hidup ini adalah perjuangan, aku sangat tidak suka melihat orang yang bisanya cuma mengeluh dan menyusahkan manusia yang lainnya. Jangan pernah ragu mengejar dan memperjuangkan impianmu jadi orang yang sukses, sayang!"


"Iya dong mas, kamu juga ya. Aku bangga punya suami yang pekerja keras dan baik juga setia sepertimu. Ketampananmu aku anggap sebagai bonus saja mas,"


"Lihat hamparan hijau itu sayang, rumah kita juga didekat padang hijau nan indah. Disana banyak petani yang sedang berjuang untuk mengais rezeki demi sesuap nasi. Pandanglah kehidupan kita yang sangat nyaman dan berlimpah kekayaan ini, masihkah kita tak pandai bersyukur? Kenapa aku heran banget sama orang-orang kaya yang masih memakai narkotika buat mereka mencari kenyamanan atau ketenangan. Buat apa harta yang harusnya memberikan kebahagiaan buat mereka! Setuju kan sayang? Mereka adalah kaum-kaum yang kurang bersyukur dengan apa yang mereka punya, disaat banyak orang lain yang kesusahan dan malang, buat dapatin sesuap nasi aja mati-matian."


"Setuju banget mas. Hidup itu harus kita manfaatkan, berarti dan berguna, moto hidupku adalah ceria, berani, berani berbuat berani bertanggungjawab, bahagia, sayang suami, sayang anak-anakku nanti, sayang sahabat sejati, sayang keluarga,"


"Ada yang ketinggalan tuh, seperti bukan ciri khas kamu!"


"Apaan tuh sayang?"


"Ya kejorokan kamulah, apalagi? Hehehe."


Adiva tertawa terbahak-bahak karena hal yang dikatakan suaminya barusan. Hingga waktu terus berlalu, beberapa hari setelahnya, Amel sekarang sudah mendapatkan rumah mewah yang ia idam-idamkan.


Rumah mewah berlantai tiga lengkap dengan segala fasilitas dan ada kolam renang besar berbentuk bulat, bahkan kolam itu ada diatas lantai tiga. Kolam renang mewah itu letaknya ada diatas rumah. Amel sedang rebahan santai menyambut indahnya mentari di pagi hari, ditemani segelas jus lemon yang sangat memanjakan dahaga.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2